Pemilu 2014 kurang berdampak meningkatkan konsumsi
Rabu, 26 Maret 2014 - 16:33 WIB
Pemilu 2014 kurang berdampak meningkatkan konsumsi
A
A
A
Sindonews.com - Bank DBS Indonesia memprediksikan pemilu 2014 kurang berdampak pada pertumbuhan peningkatan konsumsi masyarakat Indonesia.
"Kuartal empat tahun ini hanya sebanyak 5,3 persen untuk konsumsi, sedangkan di Desember 2004 dan 2009 sebelum Pemilu, pertumbuhan konsumsi meningkat sangat tajam 0,3 atau 0,4 persen. Bisa meningkat menjadi 6 persen" ungkap Ekonom Bank DBS, Gundy Cahyadi di sela paparan ekonomi bersama media di kantornya, Rabu (26/3/2014).
Namun, hal itu tidak terlihat di Desember 2013 lalu. Menurutnya, Pemilu 2014 ini sedikit berbeda dari Pemilu sebelumnya. Pasalnya, masih belum adanya kandidat presiden yang solid dan sudah terprediksi akan menang.
"Dua pemilu di tahun sebelumnya kita sudah tau siapa yang akan jadi presiden. Kalo sekarang misalnya Jokowi yang diunggulkan, Jokowi baru akhir bulan Maret ini mendeklarasikan jadi calon presiden (capres). Jadi kampanyenya belum berlangsung di bulan-bulan itu," tambahnya.
Jadi dia mengatakan dampak Pemilu terhadap peningkatan konsumsi masyarakat Indonesia terlihat sedikit terlambat. "Mungkin untuk tahun ini peningkatannya akan ada di kuartal kedua atau ketiga di 2014. Secara garis besar risiko pertumbuhan ekonomi sangat besar," tegasnya.
Di sisi lain, Gundy menilai sisi positif Jokowi adalah pendapatan pajak revenue di Jakarta naik signifikan, sekitar 60 persen. "Tapi kan itu Jakarta. Jakarta kan belum tentu sama dengan Indonesia," pungkasnya.
"Kuartal empat tahun ini hanya sebanyak 5,3 persen untuk konsumsi, sedangkan di Desember 2004 dan 2009 sebelum Pemilu, pertumbuhan konsumsi meningkat sangat tajam 0,3 atau 0,4 persen. Bisa meningkat menjadi 6 persen" ungkap Ekonom Bank DBS, Gundy Cahyadi di sela paparan ekonomi bersama media di kantornya, Rabu (26/3/2014).
Namun, hal itu tidak terlihat di Desember 2013 lalu. Menurutnya, Pemilu 2014 ini sedikit berbeda dari Pemilu sebelumnya. Pasalnya, masih belum adanya kandidat presiden yang solid dan sudah terprediksi akan menang.
"Dua pemilu di tahun sebelumnya kita sudah tau siapa yang akan jadi presiden. Kalo sekarang misalnya Jokowi yang diunggulkan, Jokowi baru akhir bulan Maret ini mendeklarasikan jadi calon presiden (capres). Jadi kampanyenya belum berlangsung di bulan-bulan itu," tambahnya.
Jadi dia mengatakan dampak Pemilu terhadap peningkatan konsumsi masyarakat Indonesia terlihat sedikit terlambat. "Mungkin untuk tahun ini peningkatannya akan ada di kuartal kedua atau ketiga di 2014. Secara garis besar risiko pertumbuhan ekonomi sangat besar," tegasnya.
Di sisi lain, Gundy menilai sisi positif Jokowi adalah pendapatan pajak revenue di Jakarta naik signifikan, sekitar 60 persen. "Tapi kan itu Jakarta. Jakarta kan belum tentu sama dengan Indonesia," pungkasnya.
(gpr)
Lihat Juga :