Rupiah pekan depan diprediksi menguat terbatas
Sabtu, 29 Maret 2014 - 13:21 WIB
Rupiah pekan depan diprediksi menguat terbatas
A
A
A
Sindonews.com - Analis pasar keuangan dari Bank Mandiri, Reny Eka Putri memprediksi rupiah pada pekan depan berpotensi menguat terbatas. Hal ini salah satunya disebabkan sentimen dolar AS (USD) yang masih minim, sehingga rupiah berpotensi mengalami penguatan meskipun terbatas.
“Proyeksi rupiah minggu depan masih cenderung berpotensi untuk menguat terbatas. Karena memang data yang akan kita nantikan di awal April seperti itu. Tapi untuk sementara ini dari USD sendiri sentimennya masih minim sehingga rupiah mengalami penguatan tapi terbatas,” jelasnya ketika dihubungi Sindonews, Sabtu (29/3/2014).
Reny menungkapkan, efek penetapan kurs referensi Bank Indonesia (BI) atau Jisdor menggantikan kurs referensi non-deliverable forward (NDF) yang berlaku mulai 27 Maret 2014 lalu, juga mempengaruhi penguatan rupiah pekan depan. Selain itu, kerja sama Bilateral Currency Swap Agreement (BCSA) yang dilakukan Bank Indonesia dengan bank sentral di negara Jepang, Korea Selatan, dan China juga berimbas positif pada penguatan rupiah.
“Diusahakan penggunaan USD dikurangi atau dibatasi sehingga dampak positif kerja sama ini terhadap mata uang lokal dari negara yang mengikutinya, seperti Indonesia, Jepang, China, dan Korea Selatan jadi lebih terapreasiasi, karena menekan penggunaan USD. Sehingga ada potensi penguatan rupiah meskipun terbatas sambil menunggu data rilis ekonomi. Minggu depan range-nya Rp11.320 sampai Rp11.490,” tandasnya.
“Proyeksi rupiah minggu depan masih cenderung berpotensi untuk menguat terbatas. Karena memang data yang akan kita nantikan di awal April seperti itu. Tapi untuk sementara ini dari USD sendiri sentimennya masih minim sehingga rupiah mengalami penguatan tapi terbatas,” jelasnya ketika dihubungi Sindonews, Sabtu (29/3/2014).
Reny menungkapkan, efek penetapan kurs referensi Bank Indonesia (BI) atau Jisdor menggantikan kurs referensi non-deliverable forward (NDF) yang berlaku mulai 27 Maret 2014 lalu, juga mempengaruhi penguatan rupiah pekan depan. Selain itu, kerja sama Bilateral Currency Swap Agreement (BCSA) yang dilakukan Bank Indonesia dengan bank sentral di negara Jepang, Korea Selatan, dan China juga berimbas positif pada penguatan rupiah.
“Diusahakan penggunaan USD dikurangi atau dibatasi sehingga dampak positif kerja sama ini terhadap mata uang lokal dari negara yang mengikutinya, seperti Indonesia, Jepang, China, dan Korea Selatan jadi lebih terapreasiasi, karena menekan penggunaan USD. Sehingga ada potensi penguatan rupiah meskipun terbatas sambil menunggu data rilis ekonomi. Minggu depan range-nya Rp11.320 sampai Rp11.490,” tandasnya.
(dmd)