Pertumbuhan ekonomi China Q1 melambat 7,4%
Rabu, 16 April 2014 - 17:09 WIB
Pertumbuhan ekonomi China Q1 melambat 7,4%
A
A
A
Sindonews.com - Biro Statistik Nasional (NBS) melaporkan pertumbuhan ekonomi atau produk domestik bruto (PDB) China pada kuartal pertama (Q1) 2014 hanya sebesar 7,4 persen. Angka tersebut merupakan tingkat pertumbuhan terendah sejak kuartal ketiga (Q3) 2012, namun sedikit lebih tinggi dari ekspektasi pasar.
Dilansir dari China Daily, Rabu (16/4/2014), Kepala ekonom China dari Royal Bank of Scotland Louis Kuijs dan mantan Direktur Kebijakan Ekonomi-Bisnis untuk walikota London John Ross, mencoba menguraikan indikator ekonomi tersebut.
Perlambatan ekonomi yang dimulai pada akhir 2013 berlanjut pada Q1/2014. Pertumbuhan PDB melemah dari 7,7 persen yoy pada Q4/2013 menjadi 7,4 persen yoy pada Q1/2014, dipimpin oleh pelemahan di sektor real estate dan ekspor, sedangkan pertumbuhan konsumsi mengangkat cukup baik.
Meski melemah, masih ada kekuatan besar mendukung ekonomi China, paling tidak konsumsi domestik terus berkembang ditopang pendapatan rumah tangga meningkat, penciptaan lapangan kerja layak, serta sektor jasa dan booming e-commerce.
Di sisi lain, kekhawatiran meningkat atas kemampuan China mempertahankan ekspansi sangat tinggi, yang telah membuat sebagian besar dunia iri, dengan nilai ekspor goyah, pertumbuhan manufaktur dan penjualan real estate melemah.
Dilansir dari China Daily, Rabu (16/4/2014), Kepala ekonom China dari Royal Bank of Scotland Louis Kuijs dan mantan Direktur Kebijakan Ekonomi-Bisnis untuk walikota London John Ross, mencoba menguraikan indikator ekonomi tersebut.
Perlambatan ekonomi yang dimulai pada akhir 2013 berlanjut pada Q1/2014. Pertumbuhan PDB melemah dari 7,7 persen yoy pada Q4/2013 menjadi 7,4 persen yoy pada Q1/2014, dipimpin oleh pelemahan di sektor real estate dan ekspor, sedangkan pertumbuhan konsumsi mengangkat cukup baik.
Meski melemah, masih ada kekuatan besar mendukung ekonomi China, paling tidak konsumsi domestik terus berkembang ditopang pendapatan rumah tangga meningkat, penciptaan lapangan kerja layak, serta sektor jasa dan booming e-commerce.
Di sisi lain, kekhawatiran meningkat atas kemampuan China mempertahankan ekspansi sangat tinggi, yang telah membuat sebagian besar dunia iri, dengan nilai ekspor goyah, pertumbuhan manufaktur dan penjualan real estate melemah.
(dmd)
Lihat Juga :