Jepang bukukan defisit perdagangan terburuk

Senin, 21 April 2014 - 15:32 WIB
Jepang bukukan defisit...
Jepang bukukan defisit perdagangan terburuk
A A A
Sindonews.com - Jepang mengalami defisit perdagangan terburuk pada Maret 2014, karena pertumbuhan ekspor melambat ke level terendah dalam setahun. Hal ini menunjukkan momentum ekonomi cepat hilang dan kenaikan pajak penjualan menempatkan lebih banyak tekanan terhadap pertumbuhan.

Bank of Japan (BoJ) telah berulang kali mengesampingkan langkah-langkah pelonggaran moneter dalam waktu dekat, bersikeras bahwa ekonomi berada di trek untuk memenuhi target inflasi 2 persen, bahkan data lemah baru-baru ini memukul kepercayaan investor.

Namun, double-whammy permintaan ekspor dan konsumsi domestik yang lemah, seiring pemberlakuan kenaikan pajak penjualan per 1 April (dari 5 persen menjadi 8 persen) bisa menambahkan tekanan terhadap BoJ untuk bertindak lebih awal.

"Jika perlambatan ekspor bertahan dan permintaan domestik merosot lebih dari ekspektasi pada April dan Mei, Bank of Japan bisa mengeluarkan kebijakan pelonggaran lebih lanjut pada awal Juni atau Juli," ujar Naoki Iizuka, ekonom Citigroup Global Markets Jepang, seperti dilansir dari Reuters, Senin (21/4/2014).

Perlambatan di China, pasar ekspor utama Jepang adalah pukulan lain bagi perekonomian terbesar ketiga di dunia tersebut.

Data Departemen Keuangan menunjukkan ekspor hanya naik 1,8 persen pada Maret dari tahun sebelumnya, paling lambat sejak Maret tahun lalu menyusul kenaikan tahunan 9,8 persen pada bulan sebelumnya, dan jauh di bawah kenaikan 6,3 persen yang diperkirakan ekonom dalam jajak pendapat Reuters.

Pengiriman ke China naik menjadi 4,3 persen secara tahunan pada Maret, sebagai perlambatan atas peningkatan tahunan 27,6 persen pada Februari.

Selain itu, pengiriman ke AS tumbuh moderat 3,5 persen, sebagai kenaikan tahunan paling lambat sejak Desember 2012 saat turun 0,8 persen.

Ekspor yang lemah membantu mendorong defisit perdagangan Jepang mencapai rekor 13,75 triliun yen (USD134,45 miliar) untuk tahun fiskal yang berakhir Maret, merusak posisi neraca pembayaran.

Dalam hal volume, pengiriman turun 2,5 persen pada Maret dari tahun sebelumnya, menggarisbawahi perjuangan ekspor atas pelemahan yen telah mendorong biaya impor lebih dari pendapatan ekspor.

Peningkatan besar dalam impor bahan bakar fosil (minyak) untuk mengimbangi penutupan pembangkit listrik tenaga nuklir setelah gempa dan tsunami Maret 2011, telah membantu meningkatkan defisit perdagangan.
(dmd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Dalam Sekejap, 1.000...
Dalam Sekejap, 1.000 Lebih Perusahaan di Jepang Bangkrut
Dampak Inflasi Global...
Dampak Inflasi Global Merembes ke Ekonomi Jepang, Investor Cemas
Resesi, Jepang Tak Lagi...
Resesi, Jepang Tak Lagi Jadi Negara Ekonomi Terbesar Ketiga di Dunia
Ekonomi Tumbang, Jepang...
Ekonomi Tumbang, Jepang Pesimistis Pemulihan Bakal Berjalan Cepat
Terjun ke Jurang Resesi,...
Terjun ke Jurang Resesi, Aktivitas Pabrik di Jepang Semakin Memburuk
Inflasi Jepang Tembus...
Inflasi Jepang Tembus 4%, Pecah Rekor Pertama Sejak 1981
Berita Terkini
Kawal Transformasi Terintegrasi...
Kawal Transformasi Terintegrasi untuk Perkuat Bio Farma Group
1 jam yang lalu
Pasar Potensial Industri...
Pasar Potensial Industri Pembiayaan, Chailease Finance Dukung Pertumbuhan UKM Bandung
1 jam yang lalu
BPDP Dukung Jakarta...
BPDP Dukung Jakarta Fiscal Forum 2026, Perkuat Kolaborasi untuk Pembangunan Berkelanjutan
1 jam yang lalu
Pertamina Siap Turunkan...
Pertamina Siap Turunkan Harga BBM secara Bertahap Mulai Awal Juli
2 jam yang lalu
Bukan Utang, Purbaya...
Bukan Utang, Purbaya Tegaskan Pendanaan AIIB Rp303 Triliun Murni Investasi
2 jam yang lalu
Rumah BUMN SIG di Rembang...
Rumah BUMN SIG di Rembang Catat Transaksi Rp6,9 Miliar
2 jam yang lalu
Infografis
Perbandingan Jet Tempur...
Perbandingan Jet Tempur J-15 China dan F-15 Jepang, Mana Lebih Hebat?
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved