Rupiah diprediksi masih akan tertekan
Rabu, 23 April 2014 - 09:19 WIB
Rupiah diprediksi masih akan tertekan
A
A
A
Sindonews.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan hari ini diperkirakan masih akan tertekan.
Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada mengatakan, laju nilai tukar rupiah masih dalam zona merah seiring rilis kenaikan CB leading indicator AS yang memberikan sentimen positif dengan harapan dan ekspektasi perekonomian AS akan terus membaik.
"Di sisi lain, laju euro yang terlihat melemah dibandingkan USD dan GBP memberikan sentimen negatif bagi rupiah, sehingga rupiah pun sulit untuk menguat," kata dia, Rabu (23/4/2014).
Di samping itu, menurut Reza, imbas rilis membesarnya defisit neraca perdagangan Jepang sehari sebelumnya masih mempengaruhi pikiran pelaku pasar yang mengkhawatirkan neraca perdagangan Indonesia akan bernasib sama.
"Defisit neraca berjalan pun juga dikhawatirkan akan membesar," ujar dia.
Di sisi lain, pelaku pasar juga mengkhawatirkan musim pembagian dividen terutama untuk investor asing akan membuat outflow dari pasar dan meningkatkan permintaan atas USD. Laju rupiah berada di bawah level support Rp11.438. Rupiah berada dalam kisaran Rp11.512-11.462 berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia.
Kemarin, posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI berada di level Rp11.486 per USD. Posisi ini melemah 56 poin dari penutupan Senin (21/4/2014) di level Rp11.430 per USD.
Sementara nilai tukar rupiah terhadap USD berdasarkan data Bloomberg berada pada level Rp11.521 per USD. Posisi ini anjlok 75 poin dibanding penutupan perdagangan kemarin di level Rp11.446 per USD.
Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada mengatakan, laju nilai tukar rupiah masih dalam zona merah seiring rilis kenaikan CB leading indicator AS yang memberikan sentimen positif dengan harapan dan ekspektasi perekonomian AS akan terus membaik.
"Di sisi lain, laju euro yang terlihat melemah dibandingkan USD dan GBP memberikan sentimen negatif bagi rupiah, sehingga rupiah pun sulit untuk menguat," kata dia, Rabu (23/4/2014).
Di samping itu, menurut Reza, imbas rilis membesarnya defisit neraca perdagangan Jepang sehari sebelumnya masih mempengaruhi pikiran pelaku pasar yang mengkhawatirkan neraca perdagangan Indonesia akan bernasib sama.
"Defisit neraca berjalan pun juga dikhawatirkan akan membesar," ujar dia.
Di sisi lain, pelaku pasar juga mengkhawatirkan musim pembagian dividen terutama untuk investor asing akan membuat outflow dari pasar dan meningkatkan permintaan atas USD. Laju rupiah berada di bawah level support Rp11.438. Rupiah berada dalam kisaran Rp11.512-11.462 berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia.
Kemarin, posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI berada di level Rp11.486 per USD. Posisi ini melemah 56 poin dari penutupan Senin (21/4/2014) di level Rp11.430 per USD.
Sementara nilai tukar rupiah terhadap USD berdasarkan data Bloomberg berada pada level Rp11.521 per USD. Posisi ini anjlok 75 poin dibanding penutupan perdagangan kemarin di level Rp11.446 per USD.
(rna)