Rupiah berpeluang menguat di awal pekan
Senin, 28 April 2014 - 08:47 WIB
Rupiah berpeluang menguat di awal pekan
A
A
A
Sindonews.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) berpeluang menguat pada awal perdagangan pekan ini, melanjutkan apresiasi pada akhir pekan sebelumnya.
Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada mengatakan, laju nilai tukar rupiah mampu berbalik menguat di akhir pekan kemarin seiring mulai melemahnya laju USD.
"Pelemahan USD tersebut di tengah kekhawatiran baru pasar atas Ukraina meskipun data durable goods order Amerika Serikat (AS) mengalami kenaikan," kata dia, Senin (28/4/2014).
Di samping itu, jumlah warga AS yang mengajukan initial jobless claims bertambah, sehingga memberikan tekanan pada USD selain karena meningkatnya ketegangan atas Ukraina. Adanya ketegangan tersebut membuat yen mengalami peningkatan permintaan untuk aset-aset safe haven, sehingga terapresiasi.
Sementara itu, euro berada di bawah tekanan karena Presiden ECB Mario Draghi menunjukkan bahwa ECB mungkin menerapkan stimulus moneter lebih besar untuk meningkatkan perekonomian jika inflasi tetap rendah.
"Laju Rupiah di bawah level resisten Rp11.572. Kisaran rupiah Rp11.610-11.582 berdasarkan kurs tengah BI," ujar dia.
Rupiah pada akhir pekan lalu berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI berada di level Rp11.601 per USD. Posisi ini menguat 7 poin dibanding penutupan Kamis (24/4/2014) di level Rp11.608 per USD.
Nilai tukar rupiah terhadap USD berdasarkan data Bloomberg berada pada level Rp11.565 per USD. Posisi ini terapresiasi 38 poin dibanding penutupan perdagangan hari sebelumnya di level Rp11.603 per USD.
Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada mengatakan, laju nilai tukar rupiah mampu berbalik menguat di akhir pekan kemarin seiring mulai melemahnya laju USD.
"Pelemahan USD tersebut di tengah kekhawatiran baru pasar atas Ukraina meskipun data durable goods order Amerika Serikat (AS) mengalami kenaikan," kata dia, Senin (28/4/2014).
Di samping itu, jumlah warga AS yang mengajukan initial jobless claims bertambah, sehingga memberikan tekanan pada USD selain karena meningkatnya ketegangan atas Ukraina. Adanya ketegangan tersebut membuat yen mengalami peningkatan permintaan untuk aset-aset safe haven, sehingga terapresiasi.
Sementara itu, euro berada di bawah tekanan karena Presiden ECB Mario Draghi menunjukkan bahwa ECB mungkin menerapkan stimulus moneter lebih besar untuk meningkatkan perekonomian jika inflasi tetap rendah.
"Laju Rupiah di bawah level resisten Rp11.572. Kisaran rupiah Rp11.610-11.582 berdasarkan kurs tengah BI," ujar dia.
Rupiah pada akhir pekan lalu berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI berada di level Rp11.601 per USD. Posisi ini menguat 7 poin dibanding penutupan Kamis (24/4/2014) di level Rp11.608 per USD.
Nilai tukar rupiah terhadap USD berdasarkan data Bloomberg berada pada level Rp11.565 per USD. Posisi ini terapresiasi 38 poin dibanding penutupan perdagangan hari sebelumnya di level Rp11.603 per USD.
(rna)