Wamendag: AEC Harus Jadi Peluang Bukan Tantangan
Kamis, 22 Mei 2014 - 14:08 WIB
Wamendag: AEC Harus Jadi Peluang Bukan Tantangan
A
A
A
JAKARTA - Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Bayu Krisnamurthi mengatakan, Indonesia sudah seharusnya memandang ASEAN Economic Community (AEC) yang akan berlangsung 2015 mendatang sebagai peluang, bukan justru menjadi tantangan.
"Kalau ancaman kalau mindset kita takut untuk barang asing masuk. Maka itu jadi ancaman, tapi kalau peluang kita punya mindset barang kita bisa dan sudah masuk ke negara ASEAN," ujar dia di Kantor Kemendag, Jakarta, Kamis (22/5/2014).
Dia mengatakan, ekspor Indonesia ke ASEAN itu sudah besar. Bahkan dia justru memandang negara-negara ASEAN takut sama Indonesia. Selain itu, jika dilihat dari kondisi perdagangan barang, lebih dari 99% tarif Indonesia sudah di bawah 5% dan bahkan 0%.
"Untuk perdagangan sih sudah bersaing, yang baru itu di jasa. Terutama jasa profesi. Kita masih nego soal standar profesi. Oleh karena itu, AEC lebih datang dari mindset," tuturnya.
Dia menambahkan, yang sudah tumbuh pesar di pasar ASEAN adalah consumers good. AEC menurutnya harus disikapi sebagai sebuah peluang. Namun dengan menjadikannya peluang, bukan berarti kemudian Indonesia hanya diam saja.
"Kita harus lakukan persiapan. Pertama informasi kepada pelaku usaha untuk lihat peluang-peluangnya. Selama ini dia kan enggak tau infonya. Kedua, pengetahuan yang lebih baik mengenai market di negara-negara ASEAN lain," ujarnya.
Pihaknya, sambung dia, akan terus menginformasikan caranya untuk pengusaha Indonesia masuk ke negara-negara ASEAN seperti Laos, Kamboja, dan Vietnam. Menurutnya, persiapan secara teknik pun perlu dilakukan seperti kecakapan bahasa.
"Orang Thailand lebih mudah belajar bahasa Indonesia daripada kita belajar bahasa mereka. Itu jadi advantage mereka. Kalau saya percaya, mereka fasih itu karena mereka lihat Indonesia pasar yang menggiurkan. Mindset jadinya. Kalau lebih nyaman sendiri itu susah," tandasnya.
"Kalau ancaman kalau mindset kita takut untuk barang asing masuk. Maka itu jadi ancaman, tapi kalau peluang kita punya mindset barang kita bisa dan sudah masuk ke negara ASEAN," ujar dia di Kantor Kemendag, Jakarta, Kamis (22/5/2014).
Dia mengatakan, ekspor Indonesia ke ASEAN itu sudah besar. Bahkan dia justru memandang negara-negara ASEAN takut sama Indonesia. Selain itu, jika dilihat dari kondisi perdagangan barang, lebih dari 99% tarif Indonesia sudah di bawah 5% dan bahkan 0%.
"Untuk perdagangan sih sudah bersaing, yang baru itu di jasa. Terutama jasa profesi. Kita masih nego soal standar profesi. Oleh karena itu, AEC lebih datang dari mindset," tuturnya.
Dia menambahkan, yang sudah tumbuh pesar di pasar ASEAN adalah consumers good. AEC menurutnya harus disikapi sebagai sebuah peluang. Namun dengan menjadikannya peluang, bukan berarti kemudian Indonesia hanya diam saja.
"Kita harus lakukan persiapan. Pertama informasi kepada pelaku usaha untuk lihat peluang-peluangnya. Selama ini dia kan enggak tau infonya. Kedua, pengetahuan yang lebih baik mengenai market di negara-negara ASEAN lain," ujarnya.
Pihaknya, sambung dia, akan terus menginformasikan caranya untuk pengusaha Indonesia masuk ke negara-negara ASEAN seperti Laos, Kamboja, dan Vietnam. Menurutnya, persiapan secara teknik pun perlu dilakukan seperti kecakapan bahasa.
"Orang Thailand lebih mudah belajar bahasa Indonesia daripada kita belajar bahasa mereka. Itu jadi advantage mereka. Kalau saya percaya, mereka fasih itu karena mereka lihat Indonesia pasar yang menggiurkan. Mindset jadinya. Kalau lebih nyaman sendiri itu susah," tandasnya.
(gpr)
Lihat Juga :