BPS: Penduduk Kota Lebih Bahagia dari Warga Desa
Senin, 02 Juni 2014 - 18:58 WIB
BPS: Penduduk Kota Lebih Bahagia dari Warga Desa
A
A
A
JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Studi Pengukuran Tingkat Kebahagiaan (SPTK) 2013 pada karakteristik ekonomi dan demografi, menarik untuk dicermati.
Kepala BPS Suryamin menilai, secara garis besar terdapat perbedaan nilai kebahagiaan yang terjadi antara penduduk yang tinggal di kota dan yang berada di desa.
"Penduduk di perkotaan relatif lebih tinggi indeks kebahagiaannya jika dibandingkan dengan di pedesaan," ujarnya di kantor BPS, Jakarta, Senin (2/6/2014).
Meskipun demikian, terpaut angkanya hanya berbeda sedikit, yaitu perkotaan sebanyak 65,92 dan pedesaan sebesar 64,32. Perbandingan ini menurut Suryamin juga dipengaruhi faktor pendapatan rumah tangga orang-orang yang bekerja baik di kota maupun di desa.
"Semakin tinggi rata-rata pendapatan rumah tangga, maka nampak semakin tinggi juga indeks kebahagiaannya," ujarnya.
Pada tingkat pendapatan, lanjut dia, yang pendapatannya lebih dari Rp7,2/bulan, indeks kebahagiannya bisa mencapai 74,64. Sementara, pada tingkat pendapatan Rp1,8 juta ke bawah, indeks kebahagiannya hanya 61,80.
Kemudian, masalah pendidikan juga memengaruhi tingkat kebahagiaan seseorang. "Semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin tinggi pula tingkat atau indeks kebahagiaan," ujarnya.
Penduduk dengan pendidikan tidak lulus SD, indeks kebahagiaannya tercatat di bawah 62. Sementara penduduk dengan pendidikan yang semakin tinggi memiki indeks yang semakin besar.
"Indeks kebahagiaan tentinggi dipegang pada penduduk dengan tamatan S2 dan S3 sebesar 75,58. Ini dikarenakan, mereka memiliki pekerjaan dan pendapatan yang baik dalam hidup mereka," pungkasnya.
Kepala BPS Suryamin menilai, secara garis besar terdapat perbedaan nilai kebahagiaan yang terjadi antara penduduk yang tinggal di kota dan yang berada di desa.
"Penduduk di perkotaan relatif lebih tinggi indeks kebahagiaannya jika dibandingkan dengan di pedesaan," ujarnya di kantor BPS, Jakarta, Senin (2/6/2014).
Meskipun demikian, terpaut angkanya hanya berbeda sedikit, yaitu perkotaan sebanyak 65,92 dan pedesaan sebesar 64,32. Perbandingan ini menurut Suryamin juga dipengaruhi faktor pendapatan rumah tangga orang-orang yang bekerja baik di kota maupun di desa.
"Semakin tinggi rata-rata pendapatan rumah tangga, maka nampak semakin tinggi juga indeks kebahagiaannya," ujarnya.
Pada tingkat pendapatan, lanjut dia, yang pendapatannya lebih dari Rp7,2/bulan, indeks kebahagiannya bisa mencapai 74,64. Sementara, pada tingkat pendapatan Rp1,8 juta ke bawah, indeks kebahagiannya hanya 61,80.
Kemudian, masalah pendidikan juga memengaruhi tingkat kebahagiaan seseorang. "Semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin tinggi pula tingkat atau indeks kebahagiaan," ujarnya.
Penduduk dengan pendidikan tidak lulus SD, indeks kebahagiaannya tercatat di bawah 62. Sementara penduduk dengan pendidikan yang semakin tinggi memiki indeks yang semakin besar.
"Indeks kebahagiaan tentinggi dipegang pada penduduk dengan tamatan S2 dan S3 sebesar 75,58. Ini dikarenakan, mereka memiliki pekerjaan dan pendapatan yang baik dalam hidup mereka," pungkasnya.
(izz)
Lihat Juga :