Pelemahan Rupiah Juga Dipengaruhi Persaingan Ketat Capres
Selasa, 03 Juni 2014 - 14:56 WIB
Pelemahan Rupiah Juga Dipengaruhi Persaingan Ketat Capres
A
A
A
JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Chatib Basri mengatakan, persaingan antar dua calon presiden jelang Pemilihan Presiden pada 9 Juli 2014 mendatang, juga turut mempengaruhi pelemahan rupiah.
Dikatakannya, pelemahan rupiah mulai terjadi sejak pemilihan presiden yang hanya diikuti dua kandidat, karena itu menunjukkan persaingan yang semakin ketat.
"Buat pasar itu yang penting pasti, kalau ketat kan (Pilpres) belum tahu," ujarnya usai Rapat Paripurna di DPR, Jakarta, Selasa (3/6/2014).
Lebih lanjut dia mengungkapkan, pelemahan nilai tukar bukan disebabkan karena faktor fundamental. Menurut dia pelemahan rupiah masih dalam range di kisaran Rp30 hingga Rp50. Berbeda dengan tahun lalu yang pelemahan rupiahnya mencapai Rp300.
Selain itu, defisit neraca perdagangan April sebesar USD1,9 miliar juga membuat nilai tukar rupiah semakin melemah. Namun dia meyakini defisit neraca perdagangan ini hanya sementara.
"Bulan depan ekspor akan membaik. Terutama didukung kinerja ekspor mineral, jika ada kepastian pembangunan pabrik pemurnian (smelter) akan membuat ekspor juga membaik," pungkas dia.
Sekadar Informasi, berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia (BI), rupiah mencapai angka Rp11.806 per dolar AS. Angka ini lebih rendah dibandingkan hari sebelumnya pada Senin (2/6/2014) sebesar Rp11.740 per dolar AS.
Dikatakannya, pelemahan rupiah mulai terjadi sejak pemilihan presiden yang hanya diikuti dua kandidat, karena itu menunjukkan persaingan yang semakin ketat.
"Buat pasar itu yang penting pasti, kalau ketat kan (Pilpres) belum tahu," ujarnya usai Rapat Paripurna di DPR, Jakarta, Selasa (3/6/2014).
Lebih lanjut dia mengungkapkan, pelemahan nilai tukar bukan disebabkan karena faktor fundamental. Menurut dia pelemahan rupiah masih dalam range di kisaran Rp30 hingga Rp50. Berbeda dengan tahun lalu yang pelemahan rupiahnya mencapai Rp300.
Selain itu, defisit neraca perdagangan April sebesar USD1,9 miliar juga membuat nilai tukar rupiah semakin melemah. Namun dia meyakini defisit neraca perdagangan ini hanya sementara.
"Bulan depan ekspor akan membaik. Terutama didukung kinerja ekspor mineral, jika ada kepastian pembangunan pabrik pemurnian (smelter) akan membuat ekspor juga membaik," pungkas dia.
Sekadar Informasi, berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia (BI), rupiah mencapai angka Rp11.806 per dolar AS. Angka ini lebih rendah dibandingkan hari sebelumnya pada Senin (2/6/2014) sebesar Rp11.740 per dolar AS.
(gpr)