Pemerintah Diminta Tegas Jalankan Renegosiasi Freeport

Selasa, 10 Juni 2014 - 15:58 WIB
Pemerintah Diminta Tegas...
Pemerintah Diminta Tegas Jalankan Renegosiasi Freeport
A A A
JAKARTA - Pengamat energi dari Indonesian Resources Study Marwan Batubara meminta kepada pemerintah tegas dalam menjalankan renegosiasi sebelum menentukan arah perpanjangan kontrak Freeport. Pemerintah diminta menyelesaikan terlebih dulu masalah bea keluar progresif yang hingga kini belum tuntas.

“Mereka mintanya di bawah 10% ini terlau rendah. Penurunan harus realistis dari 20% ke 15%,” kata Marwan di Jakarta, Selasa (10/6/2014).

Marwan mendorong pemerintah untuk tidak segan-segan menutup sementara operasional Freeport di Grasberg, Papua. Bahkan pemerintah tidak perlu takut ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) yang sering dijadikan tameng perusahaan tambang asing yang beroperasi di Indonesia.

“Ini sebetulnya cuma alibi gertakan mereka saja. Buruh juga jangan termakan dengan alibi mereka saja,” ungkap Marwan.

Sementara pengamat energi dari ReforMinner Institute Komaidi Notonegoro menilai bahwa pemerintah memang harus hati-hati dalam menentukan formulasi renegoasiasi terkait perpanjangan KK Freeport. Terdapat dua hal yang dilihat, antara lain masalah bisnis dan nasionalisme.

“Kalau masalah nasionalisme atau posisi tawar kesimpulannya lain, tentu sejauh mana kita punya daya tawar yang kita inginkan. Tapi kalau masalah bisnis pilihannya adalah dikombinasikan dengan daya tawar,” tutur dia.

Menurut Komaidi, poin masalah renegosiasi tersebut tiak bisa berjalan sendiri. Pada akhirnya, pemerintah harus mencari jalan tengah untuk mencapai sebuah kesepakatan lantaran penerimaan negara di sektor tambang cukup signifikan.

“Kalau kemudian berhenti sama sekali seiring berjalannya proses renegosiasi tentu juga mengganggu perusahaan dan menggangu aspek keuangan negara. Ini yang pemerintah coba formulasikan,” ungkap Komaidi.

Memang seharusnya, Komaidi menjelaskan, pemerintah mengambil alih Freeport untuk bisa dikelola sendiri. Namun demikian, pemerintah tidak kemudian begitu saja mengambil alih keberadaan Freeport di Tanah Papua.

“Mengelola sendiri butuh biaya besar. Kalau memang pemerintah ingin mengambil alih harus ada terget, misalnya tahun 2020 diambil alih pemerintah harus menyiapkan segala sesuatunya sekarang dari segi keuangan dan segala macamnya,” jelas Komiadi.

Freeport sebelumnya telah sepakat terhadap dua poin terakhir yang masih jadi ganjalan, yakni mendivestasikan 30% saham saat masa kontraknya berakhir pada 2021. Seiring kesepakatan itu Freeport McMoran akan melepas 20,64% sahamnya di Freeport Indonesia kepada pemerintah dari penguasaannya saat ini sebesar 90,64% saham.

Selain itu, Freeport juga sepakat untuk membangun pabrik pengolahan dan pemurnian (smelter) tembaga sendiri berkapasitas 400.000 ton per tahun. Freeport akan menjalin kerja sama dengan PT Newmont Nusa Tenggara dan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) untuk membangun smelter senilai USD 2,3 miliar.
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Smelter Freeport di...
Smelter Freeport di Gresik Terbakar, Tim Gabungan Damkar Dikerahkan ke Lokasi
Smelter Manyar Jadi...
Smelter Manyar Jadi Titik Awal Integrasi Industri dan Lingkungan Hidup
Produksi Katoda Dimulai,...
Produksi Katoda Dimulai, Smelter PTFI Jadi Contoh Hilirisasi Pro-Rakyat
Tarif Impor AS Tak Guncang...
Tarif Impor AS Tak Guncang Smelter Nasional, Diversifikasi Ekspor Jadi Kunci Hilirisasi
PT Freeport Indonesia...
PT Freeport Indonesia Raih Pengakuan Global Esri untuk Inovasi dan Dampak Keberlanjutan
PTFI Perkuat Fondasi...
PTFI Perkuat Fondasi Ekonomi Papua Tengah, Dorong Pertumbuhan Berkelanjutan lewat Investasi Jangka Panjang
Berita Terkini
Harga Emas Hari Ini...
Harga Emas Hari Ini Turun Lagi Rp10 Ribu per Gram, Saatnya Beli Bunda?
14 menit yang lalu
Impor Energidari 41...
Impor Energidari 41 Negara, India Tak Mampu Tolak Minyak Rusia:Kami Cari yang Paling Murah!
1 jam yang lalu
Bos IMF Peringatkan...
Bos IMF Peringatkan Dunia Tak Akan Pernah Normal Lagi: Bersiap Hadapi Gelombang Krisis Baru
1 jam yang lalu
Borong Penghargaan HR...
Borong Penghargaan HR Asia 2026, Pegadaian Buktikan Diri Jadi Tempat Kerja Terbaik di Asia!
10 jam yang lalu
Implementasi PP TUNAS...
Implementasi PP TUNAS Harus Bisa Jaga Daya Saing Generasi Muda di Ekonomi Digital
10 jam yang lalu
Bank Sentral China Borong...
Bank Sentral China Borong Emas 19 Bulan Berturut-turut, Ada Apa?
10 jam yang lalu
Infografis
Arab Saudi Tegas Dukung...
Arab Saudi Tegas Dukung Pendirian Negara Palestina
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved