Rupiah Diproyeksi pada Kisaran 11.750-11.825/USD
Minggu, 15 Juni 2014 - 18:23 WIB
Rupiah Diproyeksi pada Kisaran 11.750-11.825/USD
A
A
A
JAKARTA - Pengamat valuta asing (valas) Farial Anwar memproyeksikan rupiah pada pekan depan akan bergerak pada rentang antara Rp11.750- Rp11.825 per USD.
Dia mengatakan, ada pergerakan anomali dalam rupiah. Menurutnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang memiliki kecenderungan menanjak karena ada aksi beli asing tidak berdampak kepada penguatan rupiah.
"Rupiah kecenderungannya terus mengalami tekanan. Ini yang menjadi masalah," ujar dia kepada Sindonews, Minggu (15/6/2014).
Menurut dia, permintaan USD tidak diimbangi dengan penawarannya karena kecenderungannya hampir semua kegiatan ekonomi yang seharusnya menggunakan rupiah, banyak beralih menggunakan USD.
"Jadi, ada kecenderungan dolarisasi di Indonesia. Contohnya, kontrak-kontrak di pelabuhan, kontrak hotel (resort), minyak, gas, listrik, dan juga kontrak konsultan, lawyer itu kebanyakan begitu," tambah dia.
Dia menyebutkan, di perbatasan Timor Leste, Kalimantan, serta Batam banyak masyarakatnya yang tidak berminat memegang rupiah, sehingga permintaan USD sangat besar.
"Nyatanya ini akan secara perlahan akan memberi tekanan terhadap rupiah," tutur Farial.
Selain itu, sambungnya, neraca pembayaran dan transaksi berjalan mengalami defisit. Neraca perdagangan mengalami tekanan akibat permintaan USD yang besar.
Dia menuturkan, ketertarikan dari rupiah ke USD tersebut disebabkan karena bunga pinjaman dari USD kecil, sementara rupiah relatif besar.
"Itu yang menyebabkan terjadi permintaan USD sangat besar, baik untuk impor barang itu valuta asing dan juga permintaan dari berbagai macam sektor di kegiatan ekonomi kita yang tidak lagi mau menggunakan rupiah sebagai acuan pembayaran," terangnya.
Fokus pasar, menurutnya, juga sedang wait and see hasil pemilihan umum (pemilu) presiden bulan depan. "Mudah-mudahan kalau baik, rupiah tidak terlampau negatif nanti hasilnya," tukas dia.
Dia mengatakan, ada pergerakan anomali dalam rupiah. Menurutnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang memiliki kecenderungan menanjak karena ada aksi beli asing tidak berdampak kepada penguatan rupiah.
"Rupiah kecenderungannya terus mengalami tekanan. Ini yang menjadi masalah," ujar dia kepada Sindonews, Minggu (15/6/2014).
Menurut dia, permintaan USD tidak diimbangi dengan penawarannya karena kecenderungannya hampir semua kegiatan ekonomi yang seharusnya menggunakan rupiah, banyak beralih menggunakan USD.
"Jadi, ada kecenderungan dolarisasi di Indonesia. Contohnya, kontrak-kontrak di pelabuhan, kontrak hotel (resort), minyak, gas, listrik, dan juga kontrak konsultan, lawyer itu kebanyakan begitu," tambah dia.
Dia menyebutkan, di perbatasan Timor Leste, Kalimantan, serta Batam banyak masyarakatnya yang tidak berminat memegang rupiah, sehingga permintaan USD sangat besar.
"Nyatanya ini akan secara perlahan akan memberi tekanan terhadap rupiah," tutur Farial.
Selain itu, sambungnya, neraca pembayaran dan transaksi berjalan mengalami defisit. Neraca perdagangan mengalami tekanan akibat permintaan USD yang besar.
Dia menuturkan, ketertarikan dari rupiah ke USD tersebut disebabkan karena bunga pinjaman dari USD kecil, sementara rupiah relatif besar.
"Itu yang menyebabkan terjadi permintaan USD sangat besar, baik untuk impor barang itu valuta asing dan juga permintaan dari berbagai macam sektor di kegiatan ekonomi kita yang tidak lagi mau menggunakan rupiah sebagai acuan pembayaran," terangnya.
Fokus pasar, menurutnya, juga sedang wait and see hasil pemilihan umum (pemilu) presiden bulan depan. "Mudah-mudahan kalau baik, rupiah tidak terlampau negatif nanti hasilnya," tukas dia.
(rna)