Rupiah Ditutup Terpuruk ke Rp11.997/USD
Rabu, 18 Juni 2014 - 16:45 WIB
Rupiah Ditutup Terpuruk ke Rp11.997/USD
A
A
A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada hari ini berakhir terpuruk hanya selisih 3 poin tembus Rp12.000 per USD. Pelemaham ini seiring makin terseretnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke zona merah pada akhir perdagangan.
Nilai tukar rupiah terhadap USD berdasarkan data Bloomberg hari ini pada level Rp11.997 per USD. Posisi ini terpuruk 104 poin dibanding penutupan kemarin di level Rp11.893 per USD.
Masih berdasarkan data Bloomberg, rupiah pagi tadi dibuka pada level Rp11.928 per USD. Adapun posii rupiah terkuat di level Rp11.920 per USD dan terlemah di level Rp12.027 per USD.
Data Yahoofinance mencatat mata uang domestik hari ini pada level Rp11.949 per USD, dengan kisaran harian Rp11.895-12.008 per USD. Posisi ini melemah 56 poin dibanding penutupan hari sebelumnya di level Rp11.893 per USD.
Data Sindonews bersumber dari Limas menunjukkan rupiah hari ini di level Rp11.952 per USD. Posisi ini merosot 59 poin dibanding posisi hari sebelumnya di level Rp11.893 per USD.
Posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI pada hari ini berada di level Rp11.978 per USD. Posisi ini anjlok 115 poin dibanding posisi pada penutupan Senin (16/6/2014) di level Rp11.863 per USD.
Head of Research & Analysis BNI Nurul Eti Nurbaeti mengatakan, terpuruknya rupiah hari ini terimbas negatifnya IHSG, yang mencerminkan turunnya risk appetite dari pelaku pasar seiring data inflasi di Amerika Serikat (AS) periode Mei.
"Selain itu, perhatian pelaku pasar terhadap hasil pertemuan the Fed (FOMC meeting) nanti malam, dengan ekspektasi pengurangan stimulus akan kembali terjadi," kata dia, Rabu (18/6/2014).
Senada dengannya, Direktur Eksekutif Komunikasi Bank Indonesia (BI) Tirta Segara mengatakan, ada dua penyebab pelemahan rupiah, yakni antisipasi terhadap Federal Open Market Committee (FOMC) meeting terkait dengan kebijakan pemangkasan stimulus obligasi.
Faktor kedua adalah meningkatnya ketegangan di Irak, yang menyebabkan harga minyak mentah dunia melambung tinggi. Kendati rupiah mendekati level psikologis baru, dia mengatakan, bank sentral belum melakukan intervensi apapun terhadap pelemahan tersebut.
"Saya katakan bahwa kita tidak intervensi apapun. Kalau memang pasar sendiri mekanismenya begitu, supply atau demand-nya begitu, dia akan hasilkan nilai tukar yang menguat lagi. Di pasar kan biasa, ada yang namanya profit taking," tutur dia.
Sementara IHSG sore ini tak mampu melanjutkan kenaikan hari kemarin dan meninggalkan level 4.900. IHSG terkoreksi 21,66 poin atau 0,44% ke level 4.887,86.
Nilai tukar rupiah terhadap USD berdasarkan data Bloomberg hari ini pada level Rp11.997 per USD. Posisi ini terpuruk 104 poin dibanding penutupan kemarin di level Rp11.893 per USD.
Masih berdasarkan data Bloomberg, rupiah pagi tadi dibuka pada level Rp11.928 per USD. Adapun posii rupiah terkuat di level Rp11.920 per USD dan terlemah di level Rp12.027 per USD.
Data Yahoofinance mencatat mata uang domestik hari ini pada level Rp11.949 per USD, dengan kisaran harian Rp11.895-12.008 per USD. Posisi ini melemah 56 poin dibanding penutupan hari sebelumnya di level Rp11.893 per USD.
Data Sindonews bersumber dari Limas menunjukkan rupiah hari ini di level Rp11.952 per USD. Posisi ini merosot 59 poin dibanding posisi hari sebelumnya di level Rp11.893 per USD.
Posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI pada hari ini berada di level Rp11.978 per USD. Posisi ini anjlok 115 poin dibanding posisi pada penutupan Senin (16/6/2014) di level Rp11.863 per USD.
Head of Research & Analysis BNI Nurul Eti Nurbaeti mengatakan, terpuruknya rupiah hari ini terimbas negatifnya IHSG, yang mencerminkan turunnya risk appetite dari pelaku pasar seiring data inflasi di Amerika Serikat (AS) periode Mei.
"Selain itu, perhatian pelaku pasar terhadap hasil pertemuan the Fed (FOMC meeting) nanti malam, dengan ekspektasi pengurangan stimulus akan kembali terjadi," kata dia, Rabu (18/6/2014).
Senada dengannya, Direktur Eksekutif Komunikasi Bank Indonesia (BI) Tirta Segara mengatakan, ada dua penyebab pelemahan rupiah, yakni antisipasi terhadap Federal Open Market Committee (FOMC) meeting terkait dengan kebijakan pemangkasan stimulus obligasi.
Faktor kedua adalah meningkatnya ketegangan di Irak, yang menyebabkan harga minyak mentah dunia melambung tinggi. Kendati rupiah mendekati level psikologis baru, dia mengatakan, bank sentral belum melakukan intervensi apapun terhadap pelemahan tersebut.
"Saya katakan bahwa kita tidak intervensi apapun. Kalau memang pasar sendiri mekanismenya begitu, supply atau demand-nya begitu, dia akan hasilkan nilai tukar yang menguat lagi. Di pasar kan biasa, ada yang namanya profit taking," tutur dia.
Sementara IHSG sore ini tak mampu melanjutkan kenaikan hari kemarin dan meninggalkan level 4.900. IHSG terkoreksi 21,66 poin atau 0,44% ke level 4.887,86.
(rna)