Rupiah Melemah karena Ekonomi AS Berangsur Stabil
Senin, 23 Juni 2014 - 16:02 WIB
Rupiah Melemah karena Ekonomi AS Berangsur Stabil
A
A
A
JAKARTA - Rupiah saat ini masih berada di level Rp 11.900 per USD, hampir menyentuh angka Rp12.000 per USD dari pekan lalu hingga hari ini. Melemahnya rupiah saat ini disebabkan karena beberapa faktor terkait perekonomian dunia yang sedang tidak stabil.
Pengamat ekonomi, William Suryawijaya mengatakan, pelemahan rupiah ini karena faktor ekonomi Amerika Serikat (AS) yang saat ini berangsur stabil.
"Itu dari sisi eksternal ya. Kita tahu bahwa ekonomi dunia sampai saat ini masih naik turun, tapi Amerika Serikat sudah mulai berangsur membaik, sehingga nilai dolar juga semakin kuat," ujar dia saat berbincang bersama Sindonews di Jakarta, Senin (23/6/2014).
William juga mengungkapkan bahwa dari sisi internal, ketidakstabilan rupiah juga tidak terlalu ada sentimen yang cukup signifikan. Namun, diakuinya menjelang libur Lebaran pada umumnya orang-orang membeli mata uang asing untuk persiapan liburan.
"Kemudian dari segi pelaku usaha, mereka melihat dolar mengalami kenaikan nilai, mereka ternyata juga turut mempersiapkan diri membeli, demi menjaga rasio utang jatuh tempo perusahaan mereka. Ini semua menggerakkan ke arah pelemahan rupiah, namun sepertinya ini tidak akan berjalan terlalu lama," katanya.
William mengatakan, nilai rupiah akan kembali menguat diikuti beberapa hal. Salah satunya dipengaruhi beberapa rilis data seperti BI Rate dan cadangan devisa yang sebentar lagi akan diumumkan.
"Kondisi kestabilan politik kita tentunya turut mendukung, namun baru akan terlihat saat sudah memasuki awal bulan depan. Itu juga akan memengaruhi penguatan rupiah," pungkas dia.
Pengamat ekonomi, William Suryawijaya mengatakan, pelemahan rupiah ini karena faktor ekonomi Amerika Serikat (AS) yang saat ini berangsur stabil.
"Itu dari sisi eksternal ya. Kita tahu bahwa ekonomi dunia sampai saat ini masih naik turun, tapi Amerika Serikat sudah mulai berangsur membaik, sehingga nilai dolar juga semakin kuat," ujar dia saat berbincang bersama Sindonews di Jakarta, Senin (23/6/2014).
William juga mengungkapkan bahwa dari sisi internal, ketidakstabilan rupiah juga tidak terlalu ada sentimen yang cukup signifikan. Namun, diakuinya menjelang libur Lebaran pada umumnya orang-orang membeli mata uang asing untuk persiapan liburan.
"Kemudian dari segi pelaku usaha, mereka melihat dolar mengalami kenaikan nilai, mereka ternyata juga turut mempersiapkan diri membeli, demi menjaga rasio utang jatuh tempo perusahaan mereka. Ini semua menggerakkan ke arah pelemahan rupiah, namun sepertinya ini tidak akan berjalan terlalu lama," katanya.
William mengatakan, nilai rupiah akan kembali menguat diikuti beberapa hal. Salah satunya dipengaruhi beberapa rilis data seperti BI Rate dan cadangan devisa yang sebentar lagi akan diumumkan.
"Kondisi kestabilan politik kita tentunya turut mendukung, namun baru akan terlihat saat sudah memasuki awal bulan depan. Itu juga akan memengaruhi penguatan rupiah," pungkas dia.
(izz)