Jalur Kereta Solusi Urai Penumpukan Kontainer di Priok

Rabu, 02 Juli 2014 - 17:04 WIB
Jalur Kereta Solusi...
Jalur Kereta Solusi Urai Penumpukan Kontainer di Priok
A A A
JAKARTA - Kondisi pelabuhan Tanjung Priok yang masih amburadul, kacau dan ruwet dengan dwelling time atau antrean tunggu sirkulasi barang sejak kapal bersandar di dermaga hingga keluar di pintu pelabuhan, yang masih tinggi. Kondisi ini tentu membuat para eksporti maupun importir semakin resah.

Selain dwelling time, keresahan mereka juga dipicu oleh sistem manajemen logistik yang masih amburadul membuat masih tingginya biaya logistik, susahnya akses keluar-masuknya kontainer, rendahnya tingkat efisiensi dan produktivitas, serta belum berfungsinya sistem online atau electronic payment di pelabuhan Tanjung Priok selama 24 jam.

Dari sekian banyak permasalahan tersebut, pelaku bisnis di industri logistik menginginkan kemudahan akses keluar-masuknya kontainer di pelabuhan Tanjung Priok. Akses ini akan membantu menurunkan biaya logistik dengan menekan tarif-tarif di pelabuhan Tanjung Priok, selain juga akan mengurangi kepadatan di Priok dengan memaksimalkan pelabuhan di sekitar pelabuhan seperti Marunda, Dry Port Cikarang, Cirebon bahkan Tanjung Emas dan Tanjung Perak.

“Manajemen truk yang digadang-gadang pemerintah bisa mempercepat untuk mengurai kepadatan di pelabuhan ternyata hanya isapan jempol saja,” ujar CEO PT Sentra Logistik, Wahyu Dwi Jatmiko, saat dihubungi wartawan, Rabu (2/7/2014).

“Infrastruktur jalan yang tidak memadai dengan traffic yang demikian padat, menjadi kendala serius bagi manajemen truk ini,” tambahnya.

Wahyu melihat bahwa untuk mengurangi kepadatan itu tak ada jalain lain kecuali dengan memberikan akses kepada jalur kereta api dari stasiun Pasoso menuju pelabuhan Tanjung Priok. Solusi ini paling keren dimana akan mempercepat kontainer tertarik keluar dari pelabuhan lebih dari tiga kali lipat. Saat ini, hanya tiga kereta per hari yang dapat masuk ke terminal kontainer Tanjung Priok.

Jika sudah ada jalur kereta api, maka frekuensi rangkaian kereta api barang bisa sampai 20 kereta per hari. Misalnya, satu rangkaian kereta itu setara dengan 30 truk maka dengan 20 kereta setara 600 truk. Dan ini kan hilir-mudik, jadi setidaknya 1.200 truk.

Kalau satu truk kontainer ukuran 40 kaki itu sepanjang 15 meter, maka 1.200 truk memerlukan panjang jalan sekitar 18 kilometer, setara jarak Rawamangun, Jakarta Timur, ke kawasan Cibubur, juga di Jakarta Timur.

“Selama ini biayanya masih mahal karena adanya double handling. Namun, jika akses jalur kereta bisa masuk ke pelabuhan, biayanya akan jauh lebih murah,” ujarnya.

Sebenarnya, kata Wahyu, akses rel tersebut sudah ada. Hanya selama ini ditimbun oleh Pelindo II dengan kontainer sehingga tidak terlihat. Jalur kereta pelabuhan dapat memberikan banyak dampak positif. Karena itu, lanjutnya, dibutuhkan kebesaran hati dari Pelindo II untuk membuka kembali akses tersebut.

Adanya jalur kereta api ini akan mampu meningkatkan kelancaran pengiriman barang dari berbagai kawasan, terutama kawasan di wilayah timur pelabuhan Tanjung Priok yang mencakup sekitar 60-65% volume barang yang berasal dari Bekasi, Karawang, Cikampek, dan sekitarnya. Apalagi, wilayah timur ini mencakup 12 kawasan industri dengan lebih dari 3.000 perusahaan manufaktur.

“Kelancaran pengiriman barang ini akan berdampak terhadap biaya logistik perusahaan, baik biaya transportasi maupun persediaan,” ujarnya.

Pada kesempatan berbeda, Zaldi Masita, Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia, mengatakan bahwa jalur kereta api memang yang paling efektif. Namun, Pelindo II tidak bersungguh-sungguh membuka akses ini karena banyaknya kepentingan, padahal KAI dengan Pelindo II sama-sama BUMN.

“Ini yang membuat saya tidak habis pikir. Jika saja Pelindo II serius, tentu mereka akan membuka akses jalur kereta api di pelabuhan Tanjung Priok karena berpotensi mampu menekan biaya tarif logistik sebesar 20%,” ujarnya.

Angka sebesar itu membuat biaya distribusi logistik semakin efisien, belum lagi dari aspek penghematan BBM, mengurangi secara signifikan tingkat kerusakan jalan, dan kepercayaan investasi domestik ataupun internasional, dan lainnya.

Zaldi juga telah memprediksi bahwa jika pembangunan pelabuhan Kalibaru bukan solusi untuk mengurai penumpukan kontainer. “Harusnya pelabuhan Kalibaru dilakukan setelah menyelesaikan pembangunan kereta api di pelabuhan Tanjung Priok. Tidak seperti sekarang ini,” terangnya.
(gpr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Si Denok Bandarwati,...
Si Denok Bandarwati, Sejarah Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta
Masih Misteri, Bunker...
Masih Misteri, Bunker di Stasiun Tanjung Priok Bisa Tembus ke Pulau Onrust
Optimalisasi Operasional...
Optimalisasi Operasional Pelabuhan Tanjung Priok dengan Alat Pemindai Peti Kemas
MUI Jakut Dukung Polisi...
MUI Jakut Dukung Polisi Jaga Kamtibmas di Wilayah Pelabuhan Tanjung Priok
PCNU Jakut dan Polres...
PCNU Jakut dan Polres Pelabuhan Tanjung Priok Bagikan Sembako ke Sopir Truk
Alur Masuk Barang Kawasan...
Alur Masuk Barang Kawasan Pelabuhan Kini Miliki Aturan Baru
Berita Terkini
Hindari Selat Hormuz!...
Hindari Selat Hormuz! India Diam-Diam Gandeng Rusia Buka Jalur Es Ekstrem
32 menit yang lalu
Energi Menjadi Medan...
Energi Menjadi Medan Perang AS-China di Abad Ini
10 jam yang lalu
PLN EPI Targetkan Pengembangan...
PLN EPI Targetkan Pengembangan Bio-CNG Berbasis Limbah Sawit Dukung Transisi Energi
10 jam yang lalu
IHSG dan Rupiah Tertekan,...
IHSG dan Rupiah Tertekan, Pasar Uji Kredibilitas Sistem Keuangan Indonesia
11 jam yang lalu
Redam Sentimen Sell...
Redam Sentimen 'Sell Indonesia', Ini Saran dari Ekonom
11 jam yang lalu
Soroti Pelemahan Rupiah,...
Soroti Pelemahan Rupiah, BADKO HMI Jatim Dorong Evaluasi Kebijakan Moneter
12 jam yang lalu
Infografis
10 Wonderkid Calon Bintang...
10 Wonderkid Calon Bintang di Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved