Bangun Pembangkit Gas Buang, SMGR Hemat Rp120 M/Tahun
Selasa, 15 Juli 2014 - 13:43 WIB
Bangun Pembangkit Gas Buang, SMGR Hemat Rp120 M/Tahun
A
A
A
JAKARTA - Direktur Utama PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) Dwi Soetjipto mengatakan, pembangunan pembangkit listrik yang memanfaatkan gas buang (Waste Heat Recovery Power Generation/WHRPG) berkapasitas desain 30,6 megawatt (MW) hasil kerja sama dengan JFE Engineering Jepang (JFE) bisa mengurangi penggunaan listrik di pabrik di Tuban.
Adapun potensi penghematan listrik diperkirakan mencapai 152 juta kWh per tahun atau dengan kata lain dapat menghemat biaya listrik sekitar Rp120 miliar per tahun.
"Ini jadi strategi perusahaan untuk mengatasi naiknya tarif listrik yang kami beli dari PLN," ujar dia di Kantor SMGR Jakarta, Selasa (15/7/2014).
Penggunaan teknologi ramah lingkungan di pabrik Tuban tersebut, dia menjelaskan, merupakan yang kedua di perseroan setelah sebelumnya diterapkan pada pabrik Indarung Padang dengan kapasitas 8,5 MW dan mulai beroperasi pada 2011.
"Industri semen termasuk bisnis yang paling terkena dampak kenaikan tarif dasar listrik (TDL) untuk kelas industri di tahun 2014. Oleh karena itu, perseroan terus melakukan inovasi dan efisiensi di berbagai aspek, termasuk di bidang energi," tutur dia.
Pembangunan WHRPG di pabrik Tuban tersebut merupakan salah satu inisiatif perseroan untuk mengurangi ketergantungan energi yang bersumber dari PLN. Sekaligus mengurangi konsumsi batu bara oleh PLN.
"Terlebih penyesuaian TDL untuk industri akan terus dilakukan oleh pemerintah dalam rangka mengurangi beban subsidi energi," pungkasnya.
WHRPG di pabrik Tuban akan dibangun di pabrik Tuban I, Tuban 2, Tuban 3, dan Tuban 4. Dengan begitu, ini merupakan kali pertama di Indonesia, dalam satu area seluruh gas buang dimanfaatkan sebagai sumber pembangkit listrik.
Adapun potensi penghematan listrik diperkirakan mencapai 152 juta kWh per tahun atau dengan kata lain dapat menghemat biaya listrik sekitar Rp120 miliar per tahun.
"Ini jadi strategi perusahaan untuk mengatasi naiknya tarif listrik yang kami beli dari PLN," ujar dia di Kantor SMGR Jakarta, Selasa (15/7/2014).
Penggunaan teknologi ramah lingkungan di pabrik Tuban tersebut, dia menjelaskan, merupakan yang kedua di perseroan setelah sebelumnya diterapkan pada pabrik Indarung Padang dengan kapasitas 8,5 MW dan mulai beroperasi pada 2011.
"Industri semen termasuk bisnis yang paling terkena dampak kenaikan tarif dasar listrik (TDL) untuk kelas industri di tahun 2014. Oleh karena itu, perseroan terus melakukan inovasi dan efisiensi di berbagai aspek, termasuk di bidang energi," tutur dia.
Pembangunan WHRPG di pabrik Tuban tersebut merupakan salah satu inisiatif perseroan untuk mengurangi ketergantungan energi yang bersumber dari PLN. Sekaligus mengurangi konsumsi batu bara oleh PLN.
"Terlebih penyesuaian TDL untuk industri akan terus dilakukan oleh pemerintah dalam rangka mengurangi beban subsidi energi," pungkasnya.
WHRPG di pabrik Tuban akan dibangun di pabrik Tuban I, Tuban 2, Tuban 3, dan Tuban 4. Dengan begitu, ini merupakan kali pertama di Indonesia, dalam satu area seluruh gas buang dimanfaatkan sebagai sumber pembangkit listrik.
(rna)
Lihat Juga :