Pemerintah Diminta Genjot Infrastruktur BBG

Minggu, 10 Agustus 2014 - 14:40 WIB
Pemerintah Diminta Genjot...
Pemerintah Diminta Genjot Infrastruktur BBG
A A A
JAKARTA - Pengamat minyak dan gas bumi Center for Petroleum and Energy Economics Studies Kurtubi menilai bahwa mengurangi jumlah subsidi bahan bakar minyak (BBM) jelas merugikan dan memberatkan masyarakat.

Karena itu, untuk meringankan beban masyarakat, program konversi BBM ke bahan bakar gas (BBG) diminta terus digenjot, terutama masalah infrastrukturnya.

"Pemerintah harus sesegera mungkin membangun infrasturktur BBG. Karena harga gas itu sekalipun tidak adanya kegiatan subsidi, jauh lebih murah. Sekarang masalahnya, infrastruktur BBG di negara kita itu kan minim. Jelas tidak bisa direalisasikan," ujar dia kepada Sindonews di Jakarta, Minggu (10/8/2014).

Kurtubi menuturkan, masalah bahan bakar ini akan menjadi pekerjaan rumah yang berat bagi pemerintah mendatang. Pasalnya, pembatasan BBM bersubsidi memberi dampak pada sulitnya angkutan umum memperoleh bahan bakar.

"Dengan adanya pembatasan ini, mereka akan kesulitan sendiri. Misalnya, jika di jalan tol tiba-tiba bensin habis, sedangkan premium dan solar dibatasi, maka mereka mau nggak mau harus beli pertamax yang harganya mahal," ujar Kurtubi.

Kurtubi menegaskan bahwa jika pada masa pemerintah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memikirkan dan merealisasikan masalah konversi BBM ke BBG dengan membuat infrastrukturnya, maka dapat dipastikan masalah bahan bakar untuk kendaraan akan berangsur pulih, sehingga masyarakat menjadi tidak terbebani.

Sementara Ketua Bidang Advokasi Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Darmaningtyas berpendapat, kebijakan pemanfaatan bahan bakar alternatif seharusnya sejak dulu diterapkan secara tegas.

"Masyarakat kita itu yang berada di kawasan Nusa Tenggara Timur, yang memiliki potensi besar untuk menanam pohon jarak itu sudah menanam mereka di sana. Namun karena kebijakannya dari pemerintah itu tidak pernah jelas, masyarakat NTT pun rugi besar," ujar Darma.

Menurut Darma, kerugian besar tersebut dan kekecewaan kepada masyarakat, terutama kepada masyarakat NTT yang menilai plin plan program pemerintah terkait biofuel.

"Seandainya pada waktu itu Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Pertamina memiliki program yang jelas mengenai biofuel, mungkin partisipasi masyarakat itu akan terasakan manfaatnya pada saat ini dan pemerintah juga tidak perlu mengorbankan angkutan umum untuk mengurangi subsidi BBM," tandas dia.
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Pemerintah akan Batasi...
Pemerintah akan Batasi Pembelian BBM Subsidi Mulai 1 Oktober 2024
Pembatasan BBM Subsidi...
Pembatasan BBM Subsidi lewat MyPertamina
PBOIN Tolak Pembatasan...
PBOIN Tolak Pembatasan BBM Bersubsidi
Daftar Mobil yang Dilarang...
Daftar Mobil yang Dilarang Konsumsi Pertalite Mulai September 2022
Pembatasan Pembelian...
Pembatasan Pembelian BBM Subsidi Masih Tersendat Aturan
DPR Minta Pemerintah...
DPR Minta Pemerintah Berlakukan Pembatasan BBM Subsidi
Berita Terkini
Kredit Perbankan Juni...
Kredit Perbankan Juni 2026 Tumbuh 12,67%, BI Optimistis Capai Target Tahun Ini
11 menit yang lalu
Tips MotionTrade: Kenali...
Tips MotionTrade: Kenali Risiko Investasi Reksa Dana sebelum Mulai Berinvestasi
24 menit yang lalu
KAI Logistik Kelola...
KAI Logistik Kelola 8,7 Juta Ton Angkutan Barang di Semester I 2026
1 jam yang lalu
Transaksi BI-FAST Capai...
Transaksi BI-FAST Capai 1,53 Miliar di Triwulan II 2026, Nilainya Tembus Rp3.777 Triliun
1 jam yang lalu
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Integrasikan Penanganan Stunting dan Pemberdayaan UMKM
1 jam yang lalu
Heboh Surat Dinas ke...
Heboh Surat Dinas ke AS dengan Keluarga Bocor, Menteri PU: Saya Nggak Jadi Berangkat
1 jam yang lalu
Infografis
Pemerintah Tetapkan...
Pemerintah Tetapkan 25 Hari Libur dan Cuti Bersama di Tahun 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved