YLKI: Penaikkan Elpiji 12 Kg Tak Perlu Restu Pemerintah

Minggu, 10 Agustus 2014 - 16:52 WIB
YLKI: Penaikkan Elpiji...
YLKI: Penaikkan Elpiji 12 Kg Tak Perlu Restu Pemerintah
A A A
JAKARTA - Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi menilai bahwa rencana PT Pertamina menaikkan harga gas elpiji 12 kilogram (kg) tidak perlu meminta restu dari pemerintah Indonesia.

Pasalnya secara regulasi, rencana menaikkan harga elpiji non-subsidi itu merupakan domain Pertamina. Jadi, Pertamina tidak harus meminta izin khusus dari pemerintah.

"Itu kebijakannya Pertamina, bukan kebijakan soal subsidi dan sebagainya. Jadi berdasarkan Undang-undang BUMN dan kebijakan ESDM, jika ada yang berkaitan soal etika politik baru perlu menyampaikan rencana itu karena kalau ada apa-apa, pemerintah juga yang ikut turun tangan," ujar dia kepada Sindonews di Jakarta, Minggu (10/8/2014).

Berdasarkan aturan, Pertamina memang memiliki kewenangan dalam menentukan harga elpiji 12 kg sesuai dengan tingkat nilai keekonomian. Pertamina sebelumnya akan menaikkan harga elpinji 12 kg pada Juli, namun ditolak pemerintah karena menjelang pemilihan umum (pemilu).

BUMN minyak dan gas itu akan mulai menaikkan harga elpiji 12 kg secara bertahap mulai bulan depan. Penaikkan harga ini dua tahun sekali hingga mencapai harga keekonomian sekitar Rp180 ribu per tabung pada 2016 mendatang. Sementara harga elpiji 12 kg saat ini sekitar Rp89 ribu-Rp100 ribu.

Rencana menaikkan harga elpiji ini lantaran kerugian yang diderita Pertamina selama lebih dari enam tahun hingga mencapai lebih dari Rp22 triliun.

Menteri Koordinator bidang Perekonomian Chairul Tanjung sebelumnya menyatakan bahwa bahwa dia perlu konsultasi dengan presiden dan melakukan rapat koordinasi terkait surat permohonan Pertamina untuk menaikkan harga elpiji 12 kg.

"Namanya harga itu kebijakan ada pada pemerintah. Saya harus konsultasi dulu ke presiden, kalau sudah ada arahan baru kita bikin rapau koordinasi.

Sementara dampak terhadap inflasi dengan dinaikkannya harga elpiji 12 kg, menurut Tulus, tidak terlalu besar karena pengguna gas elpiji tersebut masih sangat minim untuk cakupan wilayah seluruh Indonesia.

"Tidak akan terlalu besar pengaruhnya untuk inflasi Indonesia. Karena rakyat kita lebih banyak menggunakan gas 3 kg untuk kebutuhan sehari-hari. Sedangkan pengguna gas elpiji 12 kg hanya sekitar 17% untuk cakupan seluruh Indonesia. Itupun masih dibagi oleh sektor industri, rumah tangga dan hotel," ujar dia.
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Tips Menghemat LPG,...
Tips Menghemat LPG, Dijamin Awet Meski Masak Setiap Hari
31 Mei 2024, Akhir Pendaftaran...
31 Mei 2024, Akhir Pendaftaran Beli LPG 3 Kg Pakai KTP
Harga Gas Elpiji Non...
Harga Gas Elpiji Non Subsidi di Maros Naik Rp15 Ribu
Kecanduan LPG, Impor...
Kecanduan LPG, Impor 2021 Naik Jadi 7,2 Juta Ton
Harga Elpiji Non-Subsidi...
Harga Elpiji Non-Subsidi 2 Kali Naik, Siap-siap Gas Melon Jadi Langka
Istana Pastikan Warung...
Istana Pastikan Warung Kelontong Bisa Kembali Jual Gas LPG 3 Kg Hari Ini
Berita Terkini
Tarif Trump 18% Mengancam...
Tarif Trump 18% Mengancam Komoditas Unggulan Nasional, RI Rayu AS Minta Pengecualian
21 menit yang lalu
Pertamax Naik Rp3.950...
Pertamax Naik Rp3.950 Jadi Rp16.250/Liter, Ini Daftar Lengkap Harga BBM di SPBU Pertamina
1 jam yang lalu
Harga BBM Pertamax Cs...
Harga BBM Pertamax Cs Resmi Naik per Rabu 10 Juni 2026, Pertalite dan Solar Subsidi Tetap
2 jam yang lalu
BI Rate Naik Demi Menahan...
BI Rate Naik Demi Menahan Tekanan Rupiah dan Capital Outflow
7 jam yang lalu
Dirut Perkebunan Nusantara...
Dirut Perkebunan Nusantara III Dorong Pemuda Jadi Motor Transformasi Perkebunan
7 jam yang lalu
Ekonom: Kebijakan BI...
Ekonom: Kebijakan BI dan Pemerintah Memperkuat Rupiah Sudah Tepat
9 jam yang lalu
Infografis
Virus Hanta Merebak!...
Virus Hanta Merebak! Ini 5 Gejalanya yang Perlu Diwaspadai
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved