Nilai Tukar Rupiah Menunggu Pemerintahan Baru

Selasa, 26 Agustus 2014 - 21:50 WIB
Nilai Tukar Rupiah Menunggu...
Nilai Tukar Rupiah Menunggu Pemerintahan Baru
A A A
JAKARTA - Pelaku pasar sangat berharap pemerintahan baru yang terpilih bekerja keras demi perbaikan nilai tukar rupiah kedepan. Tren perekonomian global menurut pengamat akan membuat nilai tukar rupiah dapat bergerak mencapai Rp12 ribu, apabila tidak ada perubahan yang nyata.

Global Market Economist Bank Permata Tbk Josua Pardede mengatakan pelemahan rupiah dapat terjadi apabila tidak ada kerjasama antara pemerintah dan Bank Indonesia (BI) untuk memperbaiki nilai tukar. Ini sangat mengkhawatirkan mengingat level ideal rupiah yang seharusnya berada di Rp11.400.

"Dengan proyeksi inflasi tahun depan di level 7% dan kemungkinan akan diikuti kenaikan BI rate di level 8%. Sehingga rupiah akan bergerak sangat volatile di kisaran Rp11.800 hingga Rp12.000 tahun depan," ujar Josua dalam paparannya di Jakarta, Selasa (26/8/2014).

Namun dia optismistis Indonesia akan tetap memiliki daya tarik bagi investor asing. Keyakinannnya ditandai dengan porsi kepemilikan asing dalam obligasi pemerintah yang mencapai Rp424 triliun atau 36,7%. Ini menandakan kepercayaan asing untuk masuk dalam bentuk portofolio ataupun Penanaman Modal Asing (PMA).

"Imbal hasil obligasi pemerintah dalam 10 tahun mencapai 8%. Ini lebih tinggi dari inflasi dan juga US Treasury. Kemungkinannya hanya ada rebalancing portofolio sementara sebelum masuk lagi kemari," ujarnya.

Dia mengingatkan pelaku pasar saat ini masih dalam posisi menunggu dan diperkirakan akan mulai masuk di semester dua tahun ini. Namun pemerintah juga harus didorong melakukan revisi postur RAPBN 2015 yang tidak mendorong sektor produktif. Karena kebutuhan infrastruktur sangat mendesak untuk mendorong daya saing perekonomian.

"Selain itu kita juga menunggu skema kenaikan BBM yang tepat. Karena beban subsidi sudah tidak bisa ditolerir lagi. Idealnya skema kenaikan BBM dilakukan berkala per kuartal supaya tidak terlalu memicu inflasi," ujarnya.

Lebih lanjut dia mengatakan target pertumbuhan ekonomi 2015 sebesar 5,6% yang diajukan pemerintah dinilai tidak realistis. Ini mengingat kenaikan suku bunga acuan di AS dan defisit transaksi berjalan yang belum membaik. Sehingga kedepan masih akan terjadi pengetatan moneter yang memperlambat aktivitas ekonomi.

Dalam Nota Keuangan dan RAPBN 2015, pemerintah memperkirakan perekonomian nasional 2015 membaik, ditopang oleh konsumsi dan investasi, seiring kondisi ekonomi domestik yang stabil dan faktor eksternal yang menunjukkan tren peningkatan.
(gpr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Rupiah Ditutup Melemah...
Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.409 per Dolar AS
Rupiah Terlemah Sepanjang...
Rupiah Terlemah Sepanjang Sejarah
Rupiah Ditutup Melemah...
Rupiah Ditutup Melemah ke Level Rp15.526
Wacana Lama Hidup Lagi,...
Wacana Lama Hidup Lagi, Ini Dua Sisi Pentingnya Redenominasi Rupiah
Bikin Gaduh Karena Keliru...
Bikin Gaduh Karena Keliru Tampilkan Kurs Rupiah, Pengamat: Google Harus Tanggung Jawab!
Google Keliru Tampilkan...
Google Keliru Tampilkan Kurs Rupiah, Pengamat: Timbulkan Kegaduhan!
Berita Terkini
Lionel Express Hadirkan...
Lionel Express Hadirkan Solusi Distribusi Barang B2B ke Seluruh Indonesia
13 menit yang lalu
Perkuat Ekosistem Emas...
Perkuat Ekosistem Emas Nasional, Pegadaian Resmi Jadi Bagian Pendirian Indonesia Bullion Market Association (IBMA)
34 menit yang lalu
Nikmati Pengalaman Nonton...
Nikmati Pengalaman Nonton Terbaik di XXI dengan Penawaran Eksklusif dari BRI
1 jam yang lalu
Harga Minyak Mendidih...
Harga Minyak Mendidih 1% saat Houthi Blokade Arab Saudi, Bakal Tembus USD100 per Barel?
1 jam yang lalu
IHSG Masih Perkasa,...
IHSG Masih Perkasa, Hari Ini Dibuka Menanjak Naik 0,67% ke level 6.273.
3 jam yang lalu
Bappenas Petakan Kekayaan...
Bappenas Petakan Kekayaan Hayati Indonesia untuk Pembangunan Berkelanjuran
3 jam yang lalu
Infografis
Piala Dunia 2026: Panggung...
Piala Dunia 2026: Panggung Terakhir Messi-Ronaldo dan Lahirnya Era Baru
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved