RI Harus Waspadai Rencana The Fed

Senin, 15 September 2014 - 13:20 WIB
RI Harus Waspadai Rencana...
RI Harus Waspadai Rencana The Fed
A A A
JAKARTA - Pemerintah khususnya jajaran kementerian terkait sektor riil, moneter, Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) disarankan mewaspadi rencana Bank Sentral AS, The Fed, menghapuskan program non-konvensional stimulus moneter (quantitative easing III).

Staf Khusus Presiden bidang Ekonomi dan Pembangunan, Firmanzah mengatakan, pemangkasan stimulus tersebut, selambat-lambatnya akhir 2014 atau awal 2015.

Pemangkasan tersebut melalui pembelian surat utang untuk menambah likuiditas pasar dan mendorong bergeraknya sektor riil.

Dia mengingatkan, pengakhiran program quantitative easing III yang akan disertai penyesuaian suku bunga acuan di AS berpotensi menciptakan guncangan di pasar keuangan dunia.

"Risiko pembalikan modal kembali ke AS dipastikan terjadi dan membuat dana asing keluar dari emerging market dan negara berkembang," jelas Firmanzah seperti dilansir dari laman Setkab, Senin (15/9/2014).

Dia mengatakan, tekanan atas dampak pembalikan modal sebenarnya sudah dirasakan semester II/2013 ketika isu penghentian stimulus moneter di AS mulai dihembuskan.

Saat itu, sejumlah indikator ekonomi Indonesia mengalami tekanan seperti nilai tukar rupiah, IHSG, cadangan devisa, meningkatnya suku bunga acuan BI dan melambatnya pertumbuhan ekonomi nasional.

Kini, meski Indonesia menunjukkan data-data pemulihan ekonomi akibat isu tersebut, menurut Firmanzah, rencana The Fed untuk menghentikan program quantitative easing III dan menyesuaikan suku bunga acuan perlu diwaspadai.

Guru Besar Fakultas Ekonomi Universita Indonesia itu tidak menyalahkan, jika dalam antisipasi itu BI juga akan menyesuaikan suku bunga acuan yang selama ini dipertahankan pada level 7,50% untuk mengurangi derasnya capital outflow.

Namun, Firmanzah mengingatkan, jika BI menyesuaikan suku bunga acuan maka diperlukan tindakan nyata untuk meredam gejolak di pasar keuangan, yang akan berdampak ke sektor riil dan pertumbuhan ekonomi nasional.

"Meningkatnya biaya modal akan menambah tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional di tahun depan," ujarnya.

Hal tersebut akan menekan ruang ekspansi kredit di Indonesia baik kredit investasi, modal kerja maupun kredit di sektor konsumsi.

Firmanzah menyebutkan, melambatnya pertumbuhan kredit menjadi salah satu risiko yang perlu diwaspadai akibat dampak kebijakan The Fed.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Membaca Ketahanan Ekonomi...
Membaca Ketahanan Ekonomi RI dalam Dinamika Global Kuartal III 2025
Indonesia Butuh Rp47.587,3...
Indonesia Butuh Rp47.587,3 Triliun untuk Pertumbuhan Ekonomi 8%
Bahaya! Deflasi Hantam...
Bahaya! Deflasi Hantam Ekonomi RI 5 Bulan Beruntun
Prabowo Sering Diejek...
Prabowo Sering Diejek karena Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 8%
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Selatan Kuartal I Tahun 2024
Dorong Industri Event...
Dorong Industri Event untuk Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Berita Terkini
Grab Tepis Rumor Keluar...
Grab Tepis Rumor Keluar dari Indonesia, Komitmen untuk UMKM dan Mitra Tetap Kuat
36 menit yang lalu
Rupiah Hampir Tembus...
Rupiah Hampir Tembus Rp18.000, Kapan Purbaya Pencet Alarm Darurat?
6 jam yang lalu
Purbaya Ungkap Fakta...
Purbaya Ungkap Fakta Mengejutkan soal Penangkapan Kepala BGN, Apa Itu?
9 jam yang lalu
Perluas Jangkauan Layanan...
Perluas Jangkauan Layanan TIC, Sucofindo Resmikan Kantor Pemasaran di Aceh
9 jam yang lalu
UI dan Binus Adu Inovasi...
UI dan Binus Adu Inovasi Kembangkan Desa Wisata Tomohon, Siapa Terpilih?
9 jam yang lalu
Modernland Realty Dorong...
Modernland Realty Dorong Pertumbuhan Bisnis Berbasis Keberlanjutan
10 jam yang lalu
Infografis
8 PTS Terbaik Indonesia...
8 PTS Terbaik Indonesia Masuk THE Asia University Rankings 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved