Kenaikan Harga BBM Tak Terelakan

Rabu, 24 September 2014 - 18:49 WIB
Kenaikan Harga BBM Tak...
Kenaikan Harga BBM Tak Terelakan
A A A
JAKARTA - Pengamat Energi WS Wirjawan menegaskan, pemerintahan terpilih Jokowi-JK tak bisa mengelak untuk tidak menaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi sebagai langkah menyeimbangkan stabilitas fiskal.

Mantan Deputi Pengendali Fiskal Badan Pengatur Hulu Migas ini mengakui kenaikan harga BBM bersubsidi merupakan kebijakan yang berat yang harus diambil oleh pemerintahan baru mendatang. Lantaran kenaikan harga BBM bersubsidi merupakan satu-satunya langkah jitu mengurangi konsumsi BBM sehingga menyehatkan kondisi fiskal dengan menurunkan beban subsidi BBM dalam APBN.

“Dengan begitu maka subsidi bisa jadi lebih tepat sasaran dan digunakan untuk bidang-bidang yang lebih produkstif bagi masyarakat,” katanya, di Jakarta, Rabu (24/9/2014).

Namun demikian, Wirjawan tidak merinci berapa kenaikan harga yang pantas bagi masyarakat. Tapi yang jelas, imbuhnya, kenaikan harga BBM bersubsidi dapat akan mengurangi beban subsidi BBM secara signifikan.

“Artinya, dengan subsidi di bawah Rp100 triliun akan lebih baik ketimbang Rp200 triliun,” ungkapnya.

Dia mengatakan, realokasi subsidi BBM dapat digunakan untuk membenahi system transportasi publik terintegrasi dan nyaman. Adapun yang lainnya untuk merevitalisasi program konversi BBM ke gas.

“Melalui program konversi BBM ke gas dan diversifikasi energi akan mengurangi praktik-praktik mafia migas. Jadi tidak hanya meringankan beban fiskal namun meberikan efek positif di sektor lain,” kata dia.

Di sisi lain, tantangan yang harus dihadapi pemerintahan mendatang adalah menurunnya produksi minyak nasional disebabkan menurunnya eksplorasi migas dalam 10 tahun terakhir. Hal itu disebabkan karena terlalu banyak aturan yang justru menghambat investor menanamkan modalnya di Indonesia.

Selain itu, imbuhnya, rumitnya birokrasi juga dinilai sebagai penghambat laju produksi minyak. Oleh karena itu, pemerintah terpilih perlu mempunyai roadmap jangka panjang yang jelas dan terukur untuk mengatasi masalah-masalah di sektor energi dengan berorientasi kepada masyarakat.

“Pembangunan sektor energi harus berpihak kepada kepentingan rakyat sehingga lebih tepat disebut pembangunan energi untuk rakyat,” tutupnya.
(gpr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Harga BBM Pertamina...
Harga BBM Pertamina Naik Mulai Maret 2026, Ini Daftar Terbarunya
3 Jenis BBM Pertamina...
3 Jenis BBM Pertamina Naik, Intip Perbandingan Harga dengan Shell, Vivo dan BP
BBM Nonsubsidi Naik...
BBM Nonsubsidi Naik Drastis per 18 April 2026, Mobil Premium dan Pajero-Fortuner Paling Boncos!
Pemanfaatan BBM Subsidi...
Pemanfaatan BBM Subsidi Selama Ini Dinilai Salahi Prinsip Keadilan
Harga BBM Naik, Isi...
Harga BBM Naik, Isi Tangki Full City Car Honda Brio Butuh Setengah Juta Rupiah
Kenaikan BBM Mendadak,...
Kenaikan BBM Mendadak, SPBU di Gunungkidul Pilih Tutup hingga Mesin Disesuaikan Harga
Berita Terkini
Saat Infrastruktur,...
Saat Infrastruktur, Fasilitas, dan Komunitas Tumbuh Bersama dalam Satu Kawasan
5 jam yang lalu
Cara PAMA Ikut Meningkatkan...
Cara PAMA Ikut Meningkatkan Kualitas Kesehatan Masyarakat
5 jam yang lalu
Prabowo: 66,4 Juta Warga...
Prabowo: 66,4 Juta Warga RI Dapat LPG Subsidi, Lebih Banyak dari Penduduk Singapura
6 jam yang lalu
Menanti Peran Besar...
Menanti Peran Besar Pertamina dalam Proyek LNG Kelas Dunia Blok Masela
6 jam yang lalu
Purbaya Segera Temui...
Purbaya Segera Temui Kepala BGN, Bahas Pemotongan Anggaran MBG
6 jam yang lalu
Soal Investor PFII Bebas...
Soal Investor PFII Bebas Pajak hingga 50 Tahun, Purbaya: Masih Belum Tentu
6 jam yang lalu
Infografis
Kapuspen TNI Tegaskan...
Kapuspen TNI Tegaskan Tak Ada Personel Datangi Polda Metro Jaya
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved