Masalah BBM Bisa Buat Popularitas Jokowi Turun
Sabtu, 01 November 2014 - 12:57 WIB
Masalah BBM Bisa Buat Popularitas Jokowi Turun
A
A
A
JAKARTA - Ekonom Universitas Atma Jaya, Agustinus Prasetyantoko menilai, permasalahan bahan bakar minyak (BBM) bisa membuat popularitas Presiden Joko Widodo (Jokowi) turun.
Menurutnya, Jokowi adalah sosok yang mampu mengambil risiko besar, mengingat saat ini kepopulerannya sebagai seorang Presiden. Sosok Jokowi bisa kehilangan popularitasnya demi kebaikan rakyat.
"Pak Jokowi ini Presiden populer, tapi enggak populis. Artinya begini, kebijakan (harga BBM) bakal diambil dia, namun imbasnya dia tidak disukai masyarakat. Namun ini enggak bisa dihindari. Masyarakat harus diedukasi. Saya percaya kok, rakyat-rakyat kita pintar," tuturnya di Pisa Cafe, Jakarta, Sabtu (1/10/2014).
Dia optimis kebijakan yang akan diambil Jokowi terkait BBM akan bisa diterima masyarakat. Meski tidak menyenangkan di awal, namun akan jauh lebih bermanfaat bagi rakyat di masa depan.
"Mereka harus diberitahu, bahwa ekonomi tidak hanya hari ini. Tapi untuk ke depannya juga. Tidak enak saat ini tapi ke depannya pasti bisa lebih baik," ujarnya.
Dengan penghematan anggaran dari kenaikan harga BBM bersubsidi, negara akan memiliki ruang pendanaan yang lebih longgar untuk membangun hal-hal lain.
"Dananya bisa digunakan untuk pembangunan infrastruktur yang nantinya akan menyejahterakan rakyat juga," kata Agustinus.
Menurutnya, Jokowi adalah sosok yang mampu mengambil risiko besar, mengingat saat ini kepopulerannya sebagai seorang Presiden. Sosok Jokowi bisa kehilangan popularitasnya demi kebaikan rakyat.
"Pak Jokowi ini Presiden populer, tapi enggak populis. Artinya begini, kebijakan (harga BBM) bakal diambil dia, namun imbasnya dia tidak disukai masyarakat. Namun ini enggak bisa dihindari. Masyarakat harus diedukasi. Saya percaya kok, rakyat-rakyat kita pintar," tuturnya di Pisa Cafe, Jakarta, Sabtu (1/10/2014).
Dia optimis kebijakan yang akan diambil Jokowi terkait BBM akan bisa diterima masyarakat. Meski tidak menyenangkan di awal, namun akan jauh lebih bermanfaat bagi rakyat di masa depan.
"Mereka harus diberitahu, bahwa ekonomi tidak hanya hari ini. Tapi untuk ke depannya juga. Tidak enak saat ini tapi ke depannya pasti bisa lebih baik," ujarnya.
Dengan penghematan anggaran dari kenaikan harga BBM bersubsidi, negara akan memiliki ruang pendanaan yang lebih longgar untuk membangun hal-hal lain.
"Dananya bisa digunakan untuk pembangunan infrastruktur yang nantinya akan menyejahterakan rakyat juga," kata Agustinus.
(izz)
Lihat Juga :