HET Elpiji 3 Kg di Batam Sentuh Rp23 Ribu
Rabu, 05 November 2014 - 00:53 WIB
HET Elpiji 3 Kg di Batam Sentuh Rp23 Ribu
A
A
A
BATAM - Pemerintah Kota Batam menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) elpiji 3 kilogram (Kg) di angka Rp23 ribu untuk pulau teluar di Batam.
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Energi Sumber Daya Mineral Kota Batam, Amsakar Achmad mengatakan, untuk HET naik Rp1.000 per kilogramnya yang awalnya Rp15 ribu menjadi Rp18 ribu.
"Untuk pulau terluar seperti Pulau Abang, Pulau Petung dan pulau terluar lainnya mencapai Rp23 ribu. Harga tersebut menyesuaikan dengan biaya tranportasi sehingga harganya berbeda dengan di Batam," katanya, Selasa (4/11/2014).
Ditambahkan Amsakar, penetapan harga tersebut sesuai dengan Peraturan Wali Kota (Perwako) nomor 390/HK/10/2014 tentang penetapan Harga Eceran Tertinggi. Ia menambahkan, keputusan tersebut sudah digodok sejak enam tahun lalu.
"Kita sudah melakukan konsultasi ke semua pihak. Penyesuaian HET ini guna pengendalian harga dan menjamin pasokan di lapangan," katanya.
Untuk pemberlakuan harga elpiji, dikatakan Amsakar, dua hari kedepan setelah di tetapkan hari ini (kemarin) jadi harga elpiji secara resmi baru naik pada hari ini Rabu (5/11).
Sementara penentuan harga setiap pulau terluar di Batam sudah sesuai dengan aturan yang di keluarkan Mentri ESDM. Pada Peraturan Mentri (Permen) ESDM no 26 tahun 2009 yang berisi tentang pemerintah Provinsi, Kabupaten/Kota punya kewenangan menetapkan HED.
"Wewenang Pemerintah Provinsi, Kabupaten/Kota menetapkan sesuai dengan biaya transportasi, kemampuan daya beli masyarakat dan juga keuntungan yang wajar bagi pelaku usaha," katanya.
Amsakar menilai, penyesuaian HET elpiji 3 kg perlu dilakukan, karena pengusaha Hiswana Migas sudah melakukan penyesuaian biaya pengeluaran selama lima tahun namun tidak ada revisi harga.
Selain itu, dengan HET yang baru diharapkan dapat mengendalikan harga elpiji 3 kg di lapangan. Karena menurut Amsakar di lapangan, terutama di pengecer non agen, harga elpiji 3 kg bervariasi, dan cenderung mahal.
Sementara itu, sebagai konsekuensi kenaikan HET elpiji, maka pemerintah akan meminta Hiswana Migas tidak menjual elpiji-nya ke pengecer non resmi, melainkan langsung ke masyarakat.
"Mereka tidak boleh menjualnya ke pengecer yang tidak resmi, karena justru nanti permainan harganya di sana. Untuk sangsi belum ada jika terdapat penyelewengan di lapangan, agen dan pangkalan diminta menjamin pendistribusian tepat sasaran dan pangkalan resmi untuk tidak menjual ke pangkalan ilegal," katanya.
Sementara Perwako yang sudah ditetapkan menuai keluhan dari beberapa masyarakat yang ditemui SINDO, warga pengguna gas elpiji 3 kg mengaku kaget dengan kenaikan harga tersebut. Sebab setahu mereka kenaikan yang diberlakukan pemerintah hanya untuk LPH tabung warna biru isi 12 kg. Sedangkan gas tabung 3 kg warna hijau tak ada kenaikan.
Yeni Maulani mengatakan, ia tidak terlalu keberatan dengan harga yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. Dia mengaku hanya bisa pasrah, dan tetap membeli walaupun harganya sudah dipatok mahal. Sebab dirinya membutuhkan gas itu untuk kebutuhan sehari-hari.
"Ya dibeli juga, soalnya memang perlu. Alasan penjual naikan harga karena pembeliannya juga susah harus antri. Mau gimana lagi asalkan pasokan jangan sampai sulit. Pasokan harus selalu ada," kata Yeni.
Sebagai gambaran, berdasarkan data PT Pertamina Wilayah Kepri, konsumsi elpiji 3 kg sebesar 65% dari total keseluruhan konsumsi elpiji. Konsumsi itu bisa melonjak menjadi 80% ketika momentum hari besar.
Adapun kuota untuk Kepri sebesar 39.000 tabung per hari. Sementara elpiji 12 kg sebesar 18%, 50 kg mencapai 15% dan Bright gas 12%. Terdapat juga produk lain elpiji curah yang masih kecil konsumsinya.
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Energi Sumber Daya Mineral Kota Batam, Amsakar Achmad mengatakan, untuk HET naik Rp1.000 per kilogramnya yang awalnya Rp15 ribu menjadi Rp18 ribu.
"Untuk pulau terluar seperti Pulau Abang, Pulau Petung dan pulau terluar lainnya mencapai Rp23 ribu. Harga tersebut menyesuaikan dengan biaya tranportasi sehingga harganya berbeda dengan di Batam," katanya, Selasa (4/11/2014).
Ditambahkan Amsakar, penetapan harga tersebut sesuai dengan Peraturan Wali Kota (Perwako) nomor 390/HK/10/2014 tentang penetapan Harga Eceran Tertinggi. Ia menambahkan, keputusan tersebut sudah digodok sejak enam tahun lalu.
"Kita sudah melakukan konsultasi ke semua pihak. Penyesuaian HET ini guna pengendalian harga dan menjamin pasokan di lapangan," katanya.
Untuk pemberlakuan harga elpiji, dikatakan Amsakar, dua hari kedepan setelah di tetapkan hari ini (kemarin) jadi harga elpiji secara resmi baru naik pada hari ini Rabu (5/11).
Sementara penentuan harga setiap pulau terluar di Batam sudah sesuai dengan aturan yang di keluarkan Mentri ESDM. Pada Peraturan Mentri (Permen) ESDM no 26 tahun 2009 yang berisi tentang pemerintah Provinsi, Kabupaten/Kota punya kewenangan menetapkan HED.
"Wewenang Pemerintah Provinsi, Kabupaten/Kota menetapkan sesuai dengan biaya transportasi, kemampuan daya beli masyarakat dan juga keuntungan yang wajar bagi pelaku usaha," katanya.
Amsakar menilai, penyesuaian HET elpiji 3 kg perlu dilakukan, karena pengusaha Hiswana Migas sudah melakukan penyesuaian biaya pengeluaran selama lima tahun namun tidak ada revisi harga.
Selain itu, dengan HET yang baru diharapkan dapat mengendalikan harga elpiji 3 kg di lapangan. Karena menurut Amsakar di lapangan, terutama di pengecer non agen, harga elpiji 3 kg bervariasi, dan cenderung mahal.
Sementara itu, sebagai konsekuensi kenaikan HET elpiji, maka pemerintah akan meminta Hiswana Migas tidak menjual elpiji-nya ke pengecer non resmi, melainkan langsung ke masyarakat.
"Mereka tidak boleh menjualnya ke pengecer yang tidak resmi, karena justru nanti permainan harganya di sana. Untuk sangsi belum ada jika terdapat penyelewengan di lapangan, agen dan pangkalan diminta menjamin pendistribusian tepat sasaran dan pangkalan resmi untuk tidak menjual ke pangkalan ilegal," katanya.
Sementara Perwako yang sudah ditetapkan menuai keluhan dari beberapa masyarakat yang ditemui SINDO, warga pengguna gas elpiji 3 kg mengaku kaget dengan kenaikan harga tersebut. Sebab setahu mereka kenaikan yang diberlakukan pemerintah hanya untuk LPH tabung warna biru isi 12 kg. Sedangkan gas tabung 3 kg warna hijau tak ada kenaikan.
Yeni Maulani mengatakan, ia tidak terlalu keberatan dengan harga yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. Dia mengaku hanya bisa pasrah, dan tetap membeli walaupun harganya sudah dipatok mahal. Sebab dirinya membutuhkan gas itu untuk kebutuhan sehari-hari.
"Ya dibeli juga, soalnya memang perlu. Alasan penjual naikan harga karena pembeliannya juga susah harus antri. Mau gimana lagi asalkan pasokan jangan sampai sulit. Pasokan harus selalu ada," kata Yeni.
Sebagai gambaran, berdasarkan data PT Pertamina Wilayah Kepri, konsumsi elpiji 3 kg sebesar 65% dari total keseluruhan konsumsi elpiji. Konsumsi itu bisa melonjak menjadi 80% ketika momentum hari besar.
Adapun kuota untuk Kepri sebesar 39.000 tabung per hari. Sementara elpiji 12 kg sebesar 18%, 50 kg mencapai 15% dan Bright gas 12%. Terdapat juga produk lain elpiji curah yang masih kecil konsumsinya.
(gpr)
Lihat Juga :