Pesanan Manufaktur AS Turun

Kamis, 06 November 2014 - 10:59 WIB
Pesanan Manufaktur AS...
Pesanan Manufaktur AS Turun
A A A
WASHINGTON - Pesanan manufaktur Amerika Serikat (AS) turun untuk dua bulan berturut- turut, pada Agustus-September, saat pesanan pesawat terus berkurang.

Departemen Perdagangan AS merilis laporan tersebut kemarin. Pesanan baru untuk produk manufaktur turun USD2,8 miliar atau 0,6%, menjadi USD499,4 miliar. Itu diikuti penurunan 10% pada Agustus, dengan penurunan pesanan untuk pesawat Boeing sebagai penyebab utama. Meski demikian, pengiriman produk manufaktur menunjukkan penguatan, naik 0,1% pada September menjadi USD503,4 miliar.

“Peningkatan besar pesanan baru berasal dari produk pengolahan besi dan baja, tampaknya didorong oleh pesanan automotif dan peralatan pembangkit listrik,” ungkap laporan Departemen Perdagangan AS, dikutip kantor berita AFP . Analis menyatakan, data terbaru ini akan membuat pemerintah mengurangi proyeksi pertumbuhan kuartal III/2014. Perkiraan awal pada pekan lalu menyatakan pertumbuhan pada periode Juli-September sebesar 3,5%. Analis di Barclays Bank mengurangi proyeksi untuk kuarta lIII/2014 menjadi tumbuh 3,0% berdasarkan data baru.

Sementara, sektor manufaktur Amerika Serikat (AS) menguat pada Oktober dibandingkan bulan sebelumnya. Perusahaan- perusahaan mengalami peningkatan pesanan dan lebih banyak menciptakan lapangan kerja. Indeks manajer pembelian (purchasing managersindex /PMI) yang disusun Institute for Supply Management (ISM) menunjukkan kenaikan menjadi 59,0 pada Oktober dari 56,6 pada September. Itu artinya, data kembali ke level yang sama pada Agustus.

Nilai PMI di atas 50 menunjukkan pertumbuhan. Dari 18 industri yang disurvei, ISM melaporkan hanya satu industri yang mengalami penyusutan pada Oktober yakni sektor minyak dan batu bara. “Komponen indeks untuk pesanan baru naik menjadi 65,8 dari 60,0, dan produksi meningkat menjadi 64,8 dari 64,6,” papar pernyataan ISM, dikutip kantor berita AFP . Tenaga kerja di sektor itu juga tumbuh lebih cepat, sub-indeks naik menjadi 55,5 dari 54,6. Manufaktur juga mengalami pertumbuhan pesanan, setelah penurunan pesanan pada September.

“Survei responden di industri makanan dan minuman menyatakan pesanan menjelang musim libur akhir tahun melebihi proyeksi musiman dan konsumen meminta tambahan kuantitas di atas pesanan ratarata,” ungkap laporan ISM.

Responden di industri komputer menyebut Oktober sebagai bulan yang kuat dalam pertumbuhan bisnis. Akhir bulan lalu, Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve/Fed) memutuskan menghentikan program stimulus quantitative easing (QE) yang telah berjalan enam tahun. QE dilakukan dengan mengucurkan dana murah dalam ekonomi AS melalui pembelian aset untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Fed mengungkapkan, semakin meningkatnya kepercayaan terhadap kondisi ekonomi dan menguatnya pasar tenaga kerja.

“Pasar setelah beberapa bulan mengalami penciptaan lapangan kerja yang solid telah menunjukkan perbaikan substansial,” ungkap pernyataan Fed, dikutip kantor berita AFP.

Syarifudin
(ars)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BCA Kolaborasi Jurnalis...
BCA Kolaborasi Jurnalis Ekobis Makassar Kirim Bantuan ke Sulbar
Berita Terkini
Cadangan Devisa Indonesia...
Cadangan Devisa Indonesia per Juni 2026 Naik jadi USD145,6 Miliar
23 menit yang lalu
Istana Sebut Tarif Listrik...
Istana Sebut Tarif Listrik Harusnya Naik, tapi Daya Beli Jadi Prioritas
1 jam yang lalu
Harga Emas Lebih Murah,...
Harga Emas Lebih Murah, Hari Ini Turun Rp15 Ribu jadi Rp2.655.000 per Gram
2 jam yang lalu
IHSG Kokoh di Zona Hijau,...
IHSG Kokoh di Zona Hijau, Hari Ini Dibuka Menguat ke 5.933
2 jam yang lalu
Perang Bikin Jalur Suku...
Perang Bikin Jalur Suku Bunga Bank Sentral Terkunci di Level Tertinggi, Era Pinjaman Murah Berakhir
2 jam yang lalu
DANA Catat Pendapatan...
DANA Catat Pendapatan UMKM Alumni SisBerdaya Naik 113%
13 jam yang lalu
Infografis
Perang AS-Israel vs...
Perang AS-Israel vs Iran Telah Mengungkap Kelemahan Militer Inggris
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved