BI Prediksi Inflasi di Daerah Masih Tinggi

Selasa, 11 November 2014 - 17:54 WIB
BI Prediksi Inflasi...
BI Prediksi Inflasi di Daerah Masih Tinggi
A A A
BANDUNG - Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara memperkirakan, inflasi di berbagai daerah pada kuartal IV/2014 masih tinggi.

Hal tersebut sebagai dampak kenaikan tarif listrik, kenaikan BBM, kenaikan tarif angkutan, dan harga elpiji 3 kg yang berdampak pada kenaikan elpiji 12 kg.‎

Inflasi di beberapa daerah seperti Sumatera Barat, Banten, Sulawesi Utara masih cukup tinggi dikisaran 6%-7%.

Mirza mengatakan, tekanan inflasi volatile food di beberapa daerah relatif meningkat seiring masuknya masa tanam di tengah kondisi kekeringan yang semakin meningkat akibat kemarau berkepanjangan.

Dia juga mengatakan, pemulihan ekonomi AS terindikasi lebih konsisten, namun Eropa dan Jepang justru masih mengalami stagnasi.

Selain itu, perekonomian China juga mengalami perlambatan struktural yang berimbas ke negara berkembang lainnya.

Pertumbuhan ekonomi Jepang cenderung melambat berada pada kisaran PDB 2014 1,3% secara yoy.

Sementara, pada kawasan Eropa, ada indikator membaik namun masih melemah. Diperkirakan PDB kawasan Eropa 2014 sekitar 1% yoy.

Pihaknya memperkirakan indikasi perlambatan pada China makin menguat sejalan perkiraan PDB 2014 sebesar 7,4% secara yoy.

"Perlambatan di Tiongkok, akan berdampak pada semua negara," ujarnya di Gedung BI, Bandung, Jawa Barat, Selasa (11/11/2014).

Di sisi lain, lanjut Mirza, harga ekspor juga masih rendah karena pasokan yang melimpah.

"Harga komoditas utama untuk ekspor masih terus terkoreksi," ujar dia.

Mirza menyebutkan, untuk harga manufaktur selama dua tahun terakhir terus mengalami perbaikan.

Menurut dia, membaiknya ekspor terutama untuk barang manufaktur dari Jawa dan DKI Jakarta karena adanya pemulihan ekonomi AS.

Bahkan, ekspor pada Kawasan Timur Indonesia (KTI) juga kembali membaik pasca keluarnya izin ekspor mineral.

Meskipun begitu, perbaikan ekspor di wilayah Sumatera masih terbatas karena masih rendahnya harga komoditas perkebunan.

"Kita banyak menyoroti Sumatera karena di Sumatera masih banyak mengalami penurunan yang disebabkan masih turunnya harga karet, minyak, dan gas," tutur Mirza.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Terima Data Inflasi...
Terima Data Inflasi 2,84% dan Pertumbuhan Ekonomi 5,11%, Jokowi: Segar kalau Seperti Ini
Inflasi Bulan Maret...
Inflasi Bulan Maret 2025 Mencapai 1,65 Persen
Badan Pusat Statistik...
Badan Pusat Statistik : Inflasi 2021 Capai 1,87 Persen
Inflasi Mei Diperkirakan...
Inflasi Mei Diperkirakan Mencapai 0,31 Persen
Prediksi Inflasi September...
Prediksi Inflasi September 2022 Efek Kenaikan Harga BBM
Angka Inflasi Jawa Barat...
Angka Inflasi Jawa Barat Tertinggi
Berita Terkini
IHSG Hari Ini Dibuka...
IHSG Hari Ini Dibuka Ambles ke Level 6.266 saat Ada 518 Saham Malas Bergerak
1 jam yang lalu
Bangun PFII di Bali...
Bangun PFII di Bali Butuh Waktu 3 Tahun, Danantara Siapkan Masa Transisi di Jakarta
1 jam yang lalu
4 Negara Bebas Kewajiban...
4 Negara Bebas Kewajiban Parkir DHE SDA di Himbara, Pemerintah Beri Kelonggaran
2 jam yang lalu
Panda Bond Laris Manis,...
Panda Bond Laris Manis, Indonesia Raup Rp18,47 Triliun
3 jam yang lalu
Trump Berlakukan Tarif...
Trump Berlakukan Tarif Impor Baru secara Global, Indonesia Kena 10%
3 jam yang lalu
Hari Anak Nasional,...
Hari Anak Nasional, Jasa Raharja Ajak Generasi Muda Jadi Pelopor Keselamatan
12 jam yang lalu
Infografis
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Libya Cuma Rp427 per Liter
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved