BI Klaim Kenaikan BBM Tak Berimbas ke Kredit Konsumsi
Senin, 17 November 2014 - 15:43 WIB
BI Klaim Kenaikan BBM Tak Berimbas ke Kredit Konsumsi
A
A
A
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mengklaim bahwa kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) belum tentu berimbas kepada kredit konsumsi masyarakat.
Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, kenaikan BBM memang akan membuat pendapatan masyarakat turun karena inflasinya naik, namun pemerintah memberikan program sosial dan kompensasi.
"Dengan kompensasi itu, maka pendapatan riil masyarakat bisa dikompensasi," kata Perry usai acara Memorandum of Understanding (MoU) antara BI dengan 72 rektor se-Indonesia sekaligus meresmikan peluncuran buku pengantar kebanksentralan: Teori dan Praktik di Indonesia, di Jakarta, Senin (17/11/2014).
Lebih lanjut dia mengungkapkan, dari segi konsumsi swasta memang dampaknya tidak turun drastis karena pemerintah memberikan program kompensasi kepada masyarakat, khususnya yang miskin.
Kemudian, alokasi subsidi yang selama disubsidi digeser untuk yang lebih produktif, seperti bangun gedung akan dialokasikan untuk pertanian, UMKM, maritim, dan lain-lain.
Sementara menurut dia, belanja modal itu naik apabila investasi pemerintah juga akan naik. "Investasi pemerintah naik akan mendorong investasi swasta. Kalau investasi swasta dan pemerintah naik, pertumbuhan ekonomi dari sisi investasi juga didorong," ujarnya,
Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi (PE) ke depan dari sisi ekspor akan membaik, meskipun ada perlambatan di Eropa, Jepang dan China. Sedangkan dari sisi investasi, pengeluaran pemerintah yang selama ini subsidi menjadi untuk belanja operasional dan investasi.
"Kalau terjadi kenaikan inflasi dan kemudian ada respon dari BI, kita pastikan dampak pada likuiditas akan tetap terjaga. Ingat BI itu tidak hanya moneter, kita juga punya makro pruden, kita juga punya sistem pembayaran," ungkapnya.
Terkait kenaikan BBM, ada tiga hal yang ingin dipastikan BI. Pertama BI akan pastikan agar inflasi tertap terkendali. Dia memperkirakan, dampak inflasi hanya sekitar tiga bulan.
Kedua, dampak pada likuditas masih akan terjaga karena masih punya kebijakan makro prudensial. "Karena kita punya instrumen-instrumen yang bisa kita arahkan untuk likuiditas cukup untuk mendorong pertumbuhan ekonomi," paparnya.
Sementara yang ketiga, BI akan koordinasi dengan pemrintah dalam membantu program sosial, maupun rekomendasi agar belanja subsidi dialihkan ke sektor pertanian, investasi, dan UMKM, sehingga daya dukung ke pertumbuhannya bisa terjaga.
"Ini yang kita sebut dengan bauran-bauran kebijakan BI," ungkap dia.
Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, kenaikan BBM memang akan membuat pendapatan masyarakat turun karena inflasinya naik, namun pemerintah memberikan program sosial dan kompensasi.
"Dengan kompensasi itu, maka pendapatan riil masyarakat bisa dikompensasi," kata Perry usai acara Memorandum of Understanding (MoU) antara BI dengan 72 rektor se-Indonesia sekaligus meresmikan peluncuran buku pengantar kebanksentralan: Teori dan Praktik di Indonesia, di Jakarta, Senin (17/11/2014).
Lebih lanjut dia mengungkapkan, dari segi konsumsi swasta memang dampaknya tidak turun drastis karena pemerintah memberikan program kompensasi kepada masyarakat, khususnya yang miskin.
Kemudian, alokasi subsidi yang selama disubsidi digeser untuk yang lebih produktif, seperti bangun gedung akan dialokasikan untuk pertanian, UMKM, maritim, dan lain-lain.
Sementara menurut dia, belanja modal itu naik apabila investasi pemerintah juga akan naik. "Investasi pemerintah naik akan mendorong investasi swasta. Kalau investasi swasta dan pemerintah naik, pertumbuhan ekonomi dari sisi investasi juga didorong," ujarnya,
Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi (PE) ke depan dari sisi ekspor akan membaik, meskipun ada perlambatan di Eropa, Jepang dan China. Sedangkan dari sisi investasi, pengeluaran pemerintah yang selama ini subsidi menjadi untuk belanja operasional dan investasi.
"Kalau terjadi kenaikan inflasi dan kemudian ada respon dari BI, kita pastikan dampak pada likuiditas akan tetap terjaga. Ingat BI itu tidak hanya moneter, kita juga punya makro pruden, kita juga punya sistem pembayaran," ungkapnya.
Terkait kenaikan BBM, ada tiga hal yang ingin dipastikan BI. Pertama BI akan pastikan agar inflasi tertap terkendali. Dia memperkirakan, dampak inflasi hanya sekitar tiga bulan.
Kedua, dampak pada likuditas masih akan terjaga karena masih punya kebijakan makro prudensial. "Karena kita punya instrumen-instrumen yang bisa kita arahkan untuk likuiditas cukup untuk mendorong pertumbuhan ekonomi," paparnya.
Sementara yang ketiga, BI akan koordinasi dengan pemrintah dalam membantu program sosial, maupun rekomendasi agar belanja subsidi dialihkan ke sektor pertanian, investasi, dan UMKM, sehingga daya dukung ke pertumbuhannya bisa terjaga.
"Ini yang kita sebut dengan bauran-bauran kebijakan BI," ungkap dia.
(rna)
Lihat Juga :