Ini Alasan Pemerintah Batal Naikkan BBM Rp3.000/Liter
Selasa, 18 November 2014 - 16:39 WIB
Ini Alasan Pemerintah Batal Naikkan BBM Rp3.000/Liter
A
A
A
JAKARTA - Pemerintah batal menaikkan harga BBM sebesar Rp3.000 per liter, lantaran Indonesia Crude Price (ICP) yang terus turun selama beberapa bulan terakhir.
Seperti diketahui, ICP terus melorot belakangan ini. ICP pada oktober USD83,72 per barel atau turun USD11,25 per barel dari September USD94,97 per barel.
"Karena kita lihat, kondisi terakhir harga minyak dunia terakhir dan kurs. Kita harus kombinasikan kedua itu," ujar Menteri Keuangan (Menkeu) Bambang Brodjonegoro di Gedung Kemenkeu, Jakarta, Selasa (18/11/2014).
Menurutnya, penurunan harga ICP ini terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Dia menyebutkan, ICP pada Januari dalam kisaran USD105 per barel, Februari-Juni di atas USD105, Juli sebesar USD104, Agustus turun menjadi USD99,5, September USD95, Oktober USD83, dan pada November hingga Desember, harga ICP diperkirakan di bawah USD83.
"Yang paling penting rata-rata setahun, masih USD99. Memang turun dari USD105 kan turunnya cuma USD6," tambah dia.
Dengan kisaran harga ICP tersebut, lanjut Bambang, jika pemerintah tidak mengambil kebijakan kenaikan harga BBM tersebut, maka subsidinya rata-rata Rp3.300 per liter untuk premium.
Sehingga, jika dinaikkan Rp2.000 per liter, maka masih ada subsidi sebesar Rp1.300 per liter.
"Dengan harga itu, hitungan kita kalau kemarin enggak ambil kebijakan. Maka subsidi rata-rata premium Rp3.300 per liter. Jadi over all selisih harganya segitu. Jadi kalau dinaikkan Rp2.000, masih ada Rp1.300 per liter. Jadi sebenarnya masih ada subsidi," pungkas Bambang.
(Baca: Jokowi Resmi Naikkan Harga BBM Bersubsidi Rp2.000/Liter)
Seperti diketahui, ICP terus melorot belakangan ini. ICP pada oktober USD83,72 per barel atau turun USD11,25 per barel dari September USD94,97 per barel.
"Karena kita lihat, kondisi terakhir harga minyak dunia terakhir dan kurs. Kita harus kombinasikan kedua itu," ujar Menteri Keuangan (Menkeu) Bambang Brodjonegoro di Gedung Kemenkeu, Jakarta, Selasa (18/11/2014).
Menurutnya, penurunan harga ICP ini terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Dia menyebutkan, ICP pada Januari dalam kisaran USD105 per barel, Februari-Juni di atas USD105, Juli sebesar USD104, Agustus turun menjadi USD99,5, September USD95, Oktober USD83, dan pada November hingga Desember, harga ICP diperkirakan di bawah USD83.
"Yang paling penting rata-rata setahun, masih USD99. Memang turun dari USD105 kan turunnya cuma USD6," tambah dia.
Dengan kisaran harga ICP tersebut, lanjut Bambang, jika pemerintah tidak mengambil kebijakan kenaikan harga BBM tersebut, maka subsidinya rata-rata Rp3.300 per liter untuk premium.
Sehingga, jika dinaikkan Rp2.000 per liter, maka masih ada subsidi sebesar Rp1.300 per liter.
"Dengan harga itu, hitungan kita kalau kemarin enggak ambil kebijakan. Maka subsidi rata-rata premium Rp3.300 per liter. Jadi over all selisih harganya segitu. Jadi kalau dinaikkan Rp2.000, masih ada Rp1.300 per liter. Jadi sebenarnya masih ada subsidi," pungkas Bambang.
(Baca: Jokowi Resmi Naikkan Harga BBM Bersubsidi Rp2.000/Liter)
(izz)
Lihat Juga :