Rupiah Diprediksi Tertekan di Penghujung Tahun
Selasa, 18 November 2014 - 17:07 WIB
Rupiah Diprediksi Tertekan di Penghujung Tahun
A
A
A
JAKARTA - Laju rupiah diperkirakan akan masih terus tertekan hingga akhir tahun ini karena masih tetap tingginya volume impor.
Analis Panin Sekuritas Purwoko Sartono mengatakan, salah satu impor yang memberatkan adalah pada bahan bakar minyak (BBM). Nilai impor yang tinggi dipastikan akan tetap menekan laju rupiah.
"Rupiah akan sulit menguat sampai akhir tahun karena impor BBM kita untuk kebutuhan sehari-hari menekan laju rupiah lantaran impor BBM ini transaksinya pakai USD. Belanja dalam jumlah banyak dengan USD akan mempersulit rupiah untuk menguat," ujarnya saat dihubungi Sindonews di Jakarta, Selasa (18/11/2014).
Menurutnya, kebutuhan BBM sangat besar di Indonesia. Produksi dalam negeri saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Untuk memenuhi kebutuhan BBM ini kan harus impor. Produksi minyak dalam negeri saja hanya sekitar 800 ribu barel per hari. Sedangkan kebutuhan BBM sekitar 1,2 juta-1,4 juta barel per hari. Defisitnya harus ditutup dengan impor. Ini yang menekan rupiah," ujarnya.
Dia memperkirakan, laju rupiah akhir tahun akan berada di angka Rp11.700. Sementara sore ini, nilai tukar rupiah berdasarkan data Bloomberg hari ini berakhir pada level Rp12.136 per USD. Posisi tersebut menguat 70 poin dibanding penutupan kemarin di level Rp12.206 per USD.
Analis Panin Sekuritas Purwoko Sartono mengatakan, salah satu impor yang memberatkan adalah pada bahan bakar minyak (BBM). Nilai impor yang tinggi dipastikan akan tetap menekan laju rupiah.
"Rupiah akan sulit menguat sampai akhir tahun karena impor BBM kita untuk kebutuhan sehari-hari menekan laju rupiah lantaran impor BBM ini transaksinya pakai USD. Belanja dalam jumlah banyak dengan USD akan mempersulit rupiah untuk menguat," ujarnya saat dihubungi Sindonews di Jakarta, Selasa (18/11/2014).
Menurutnya, kebutuhan BBM sangat besar di Indonesia. Produksi dalam negeri saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Untuk memenuhi kebutuhan BBM ini kan harus impor. Produksi minyak dalam negeri saja hanya sekitar 800 ribu barel per hari. Sedangkan kebutuhan BBM sekitar 1,2 juta-1,4 juta barel per hari. Defisitnya harus ditutup dengan impor. Ini yang menekan rupiah," ujarnya.
Dia memperkirakan, laju rupiah akhir tahun akan berada di angka Rp11.700. Sementara sore ini, nilai tukar rupiah berdasarkan data Bloomberg hari ini berakhir pada level Rp12.136 per USD. Posisi tersebut menguat 70 poin dibanding penutupan kemarin di level Rp12.206 per USD.
(rna)