Ekspor RI Tak Terpengaruh Membaiknya Ekonomi AS
Kamis, 27 November 2014 - 18:31 WIB
Ekspor RI Tak Terpengaruh Membaiknya Ekonomi AS
A
A
A
JAKARTA - Pengamat ekonomi Aviliani mengatakan, pertumbuhan ekspor Indonesia tidak terpengaruh dengan membaiknya ekonomi Amerika Serikat (AS) pada kuartal III/2014.
Seperti diketahui, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Amerika Serikat pada kuartal III 2014 mengalami penguatan dibandingkan yang diproyeksikan sebelumnya.
"Indonesia itu 45% China dan ASEAN. Jadi tidak terdampak langsung oleh Amerika. Kita utangnya banyak dolar, tapi transaksi dagangnya enggak banyak. Jadi tidak langsung memengaruhi ekspor kita," terangnya di Grand Sahid Hotel, Jakarta, Kamis (27/11/2014).
Lebih lanjut Aviliani menuturkan, harga produk komoditas pun merosot hingga 20%, yang diperkirakan belum akan ada perbaikan beberapa waktu mendatang.
"Berarti ekspornya enggak mungkin naik dong. Itu dari sisi rupiahnya," ujar dia.
Sementara dari sisi volume ekspor, Aviliani menyebut bahwa penurunan tidak terjadi secara signifikan, lantaran harga komoditas yang merosot.
"Artinya selama kita masih mengekspor bahan baku atau komoditas, itu harga masih akan berfluktusi terus," terangnya.
Aviliani mengatakan, Indonesia sedianya perlu melirik pasar baru untuk tujuan ekspor. Seperti Asia Tenggara, Asia Pasifik, atau Timur Tengah yang selama ini masih minim.
"Padahal, itu sangat potensi. Penduduknya di atas 60 juta. Terus kondisi masyarakatnya hampir sama dengan kita. Tapi kita jaringan kerja samanya masih kecil," pungkas ekonom dari Indef ini.
Seperti diketahui, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Amerika Serikat pada kuartal III 2014 mengalami penguatan dibandingkan yang diproyeksikan sebelumnya.
"Indonesia itu 45% China dan ASEAN. Jadi tidak terdampak langsung oleh Amerika. Kita utangnya banyak dolar, tapi transaksi dagangnya enggak banyak. Jadi tidak langsung memengaruhi ekspor kita," terangnya di Grand Sahid Hotel, Jakarta, Kamis (27/11/2014).
Lebih lanjut Aviliani menuturkan, harga produk komoditas pun merosot hingga 20%, yang diperkirakan belum akan ada perbaikan beberapa waktu mendatang.
"Berarti ekspornya enggak mungkin naik dong. Itu dari sisi rupiahnya," ujar dia.
Sementara dari sisi volume ekspor, Aviliani menyebut bahwa penurunan tidak terjadi secara signifikan, lantaran harga komoditas yang merosot.
"Artinya selama kita masih mengekspor bahan baku atau komoditas, itu harga masih akan berfluktusi terus," terangnya.
Aviliani mengatakan, Indonesia sedianya perlu melirik pasar baru untuk tujuan ekspor. Seperti Asia Tenggara, Asia Pasifik, atau Timur Tengah yang selama ini masih minim.
"Padahal, itu sangat potensi. Penduduknya di atas 60 juta. Terus kondisi masyarakatnya hampir sama dengan kita. Tapi kita jaringan kerja samanya masih kecil," pungkas ekonom dari Indef ini.
(izz)
Lihat Juga :