Kenaikan Tarif Listrik Bebani Dunia Usaha

Rabu, 03 Desember 2014 - 14:45 WIB
Kenaikan Tarif Listrik...
Kenaikan Tarif Listrik Bebani Dunia Usaha
A A A
JAKARTA - Dampak penyesuaian golongan pelanggan PLN yang mengikuti sistem penyuasaian tarif otomatis bisa lebih besar. Beban paling berat terutama dirasakan kalangan dunia usaha.

“Semua sektor merasa sangat memberatkan. Apalagi, buat usaha yang penggunaan kapasitasnya besar,” kata Haryadi B. Sukamdani, Ketua Umum Apindo, seperti dikutip dari SINDO Weekly, Rabu (3/11/2014).

Seperti diketahui, harga listrik PLN nantinya akan flutuaktif menyesuaikan kurs dolar, harga ICP, dan inflasi. Jadi bisa naik, bisa turun. Oktober kemarin misalnya, harga listrik untuk golongan yang sudah lebih dulu terkena adjustment tariff mengalami penurunan.

Berdasarkan data PT PLN, tarif listrik R3, P1, dan B2 mengalami penurunan dari Rp1.531,86 pada September 2014 menjadi Rp1.515,82 per kWh pada Oktober 2014. Sementara, golongan B3 turun dari Rp1.155,69 pada September 2014 menjadi Rp1.143,59 per kWh pada Oktober 2014.

Sesuai dengan prinsip automatic tariff adjustment, karena kurs dolar AS (USD) rata-rata pada September 2014 turun, maka tarif Oktober menjadi turun. (Baca: Jumlah Golongan Pelanggan PLN Tak Disubsidi Bertambah)

Namun, Apindo menganggap penurunan tarif listrik yang disesuaikan secara otomatis masih lebih mahal. Pangkalnya, tarif listrik sebelumnya sudah tergolong tinggi. “Sudah hampir empat tahun terakhir tarif listrik naiknya gila-gilaan,” ujar Haryadi.

Dampak lainnya, adalah penuruan daya saing produk-produk industri nasional. Apalagi tahun depan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akan diberlakukan. Biaya listrik yang tinggi akan mengerek harga jual produk-produk baik barangan maupun jasa.

“Kalau bicara daya saing cukup mengkhawatirkan. Akhirnya masyarakat memandang lebih murah barang impor ketimbang memproduksi sendiri,” tambah Haryadi.

Jadi, kalangan dunia usaha juga tak “merasa diuntungkan” dengan sistem tarif yang baru ini, walaupun ketiga factor penentunya mengalami penurunan. Bisa jadi demikian. Bahkan, tak menutup kemungkinan kalangan usaha kian terjepit ketika rupiah terus melemah.
(dmd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Diskon Tarif Listrik...
Diskon Tarif Listrik Sebabkan Deflasi Januari 2025
Jawaban Bahlil Soal...
Jawaban Bahlil Soal Kemungkinan Diskon Tarif Listrik di 2026
Penyesuaian Tarif Listrik...
Penyesuaian Tarif Listrik bagi Golongan Mampu Berlaku Juli Mendatang
Resmi, Ini Rincian Tarif...
Resmi, Ini Rincian Tarif Listrik Terbaru per Oktober-Desember 2024
10 Negara dengan Tarif...
10 Negara dengan Tarif Listrik Termahal di Dunia
Kabar Baik, Tarif Listrik...
Kabar Baik, Tarif Listrik Tidak Naik Sampai Akhir Tahun 2025
Berita Terkini
Mengapa Didimax Menjadi...
Mengapa Didimax Menjadi Pilihan Banyak Trader? Ternyata ini Alasannya
24 menit yang lalu
Kunjungi Rest Area Cipularang,...
Kunjungi Rest Area Cipularang, COO Danantara Puji Transformasi Layanan Tol Jasa Marga
43 menit yang lalu
Harga Emas Naik 5 Ribu...
Harga Emas Naik 5 Ribu Hari Ini, Termurah Dijual Rp1.370.000
1 jam yang lalu
Lippoland Kembangkan...
Lippoland Kembangkan OAZE sebagai Pusat Kehidupan Baru di Cikarang
1 jam yang lalu
Kuasai 25% Kekayaan...
Kuasai 25% Kekayaan Miliarder AS: 144 Imigran Terkaya Pecahkan Rekor Rp39.261 Triliun
1 jam yang lalu
Jelang Mandatori SAF...
Jelang Mandatori SAF 1% di 2027, Pertamina Patra Niaga Percepat Ekosistem
2 jam yang lalu
Infografis
Daftar Top Skor Sementara...
Daftar Top Skor Sementara Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved