Sektor Jasa China Tumbuh Pesat

Kamis, 04 Desember 2014 - 11:06 WIB
Sektor Jasa China Tumbuh...
Sektor Jasa China Tumbuh Pesat
A A A
BEIJING - Sektor jasa China tumbuh lebih cepat pada November. Meski demikian, tetap ada kekhawatiran melemahnya ekonomi China. Hasil dari dua survei berbeda itu dirilis kemarin.

Laporan menggembirakan tentang sektor jasa di China itu berbeda dengan data yang dirilis awal pekan ini yangmenyatakanpertumbuhan manufaktur China melemah ke level terendah dalam enam bulan pada November. Data-data tersebut membuat beberapa ekonom memprediksi China akan kembali memangkas suku bunga dalam beberapa bulan mendatang setelah melakukannya pada 21 November lalu.

“Berbagai hal menjadi lebih buruk, tidak lebih baik,” kata Louis Kuijs, ekonom RBS di Hong Kong, dikutip kantor berita Reuters. Kuijs menambahkan, peningkatan di sektor perumahan China akan mendorong pemulihan ekonomi pada tahun depan. “Saya memprediksi pemangkasan suku bunga pinjaman ke level terendah menjadi 5,25% pada kuartal I/2014,” ujarnya.

Data Indeks Manajer Pembelian (purchasing managers’ index/PMI) non-manufaktur naik menjadi 53,9 pada November dari 53,8 pada Oktober. Nilai 50 menunjukkan pertumbuhan dan di bawah 50 berarti penyusutan. Data PMI sektor jasa yang dirilis HSBC/Markit naik menjadi 53,0 pada bulan lalu, dari 52,9 pada Oktober, saat pesanan baru naik ke level tercepat dalam dua setengah tahun.

Kendati demikian, hasil survei itu tertutupi data lain tentang pasar tenaga kerja yang sangat penting bagi para pemimpin China untuk menyusun kebijakan. Data resmi PMI sektor jasa menunjukkan pasar tenaga kerja turun selama lima bulan berturut-turut pada November, saat sub-indeks pegawai sebesar 49,5.

Adapun, survei HSBC/Markit menunjukkan sejumlah perusahaan masih merekrut tenaga kerja saat mereka memperluas bisnisnya. Sektor jasa mencakup 46% ekonomi China pada tahun lalu. Selama ini sektor jasa mengalami pertumbuhan lebih sedikit dibandingkan manufaktur. Pemerintah ingin sektor jasa melampaui manufaktur sebagai penggerak utama ekonomi dalam beberapa tahun mendatang.

Dengan melemahnya pasar perumahan, turunnya permintaan domestik dan investasi, serta berkurangnya ekspor, para analis pun memproyeksikan ekonomi China akan mengalami penurunan terburuk dalam 24 tahun pada tahun ini, dengan pertumbuhan tahunan 7,4%.

Sejumlah sumber menyatakan, setelah memangkas suku bunga, para pembuat kebijakan mengkhawatirkan pertumbuhan kuartal IV/2014 berada di bawah 7% meski telah diterapkan berbagai kebijakan moneter dan fiskal pada tahun ini. “Tekanan penurunan pada ekonomi tetap ada,” ungkap Qu Hongbin, ekonom HSBC di Hong Kong. Dia memperkirakan, ada kebijakan baru dalam beberapa pekan mendatang.

Syarifudin
(bbg)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BCA Kolaborasi Jurnalis...
BCA Kolaborasi Jurnalis Ekobis Makassar Kirim Bantuan ke Sulbar
Berita Terkini
Kebijakan Tambang RI...
Kebijakan Tambang RI Berubah-ubah, Investor China Mulai Alihkan Investasi Nikel ke Afrika
27 menit yang lalu
Saatnya Bayar Tagihan...
Saatnya Bayar Tagihan PBB-P2, Ada Diskon 7,5% hingga 31 Juli 2026
57 menit yang lalu
Barat Remehkan Blokade...
Barat Remehkan Blokade Selat Hormuz, Pasokan Minyak Dunia di Titik Kritis
1 jam yang lalu
MDLA Luncurkan Armada...
MDLA Luncurkan Armada Mobil Listrik, Dorong Transformasi Distribusi Rendah Emisi
4 jam yang lalu
Tren Mobilitas Ramah...
Tren Mobilitas Ramah Lingkungan Meningkat, Pembiayaan Kendaraan Listrik MUF Melesat
10 jam yang lalu
Rupiah Amburadul Rp18...
Rupiah Amburadul Rp18 Ribu, Produk Rumah Tangga Unilever Bakal Naik Harga di Kuartal II 2026
11 jam yang lalu
Infografis
Perbandingan Gaji Tentara...
Perbandingan Gaji Tentara AS dengan Rusia, China, dan Inggris
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved