Samurai Bond Diterbitkan Kembali di Semester I/2015
Kamis, 04 Desember 2014 - 11:18 WIB
Samurai Bond Diterbitkan Kembali di Semester I/2015
A
A
A
JAKARTA - Pemerintah akan menerbitkan surat utang berdenominasi yen atau Samurai Bond di semester pertama tahun depan. Surat utang tersebut akan diterbitkan dengan sistem 80% dijamin dan 20% tidak dijamin.
“Iya, kita mau tes yang garansi dan yang nongaransi bagaimana appetite-nya,” ujar Dirjen Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Robert Pakpahan di Jakarta kemarin. Seperti sebelumnya, penerbitan Samurai Bond akan dijamin oleh Japan Bank for International Cooperation (JBIC). Robert mengatakan, selama ini Indonesia selalu menerbitkan Samurai Bond dengan jaminan untuk menekan tingkat suku bunga.
Namun, dengan penjaminan tersebut, pemerintah harus membayar guarantee fee pada JBIC. Kali ini Indonesia akan mencoba menerbitkan sebagian surat utangnya tanpa jaminan untuk mengetes pasar. Jika surat utang nonjaminan tersebut diminati dan imbal hasilnya (yield) bagus, maka pemerintah akan menerbitkan kembali surat utang tanpa jaminan.
Penerbitan surat utang berdenominasi yen tersebut sebenarnya sudah direncanakan akan dilakukan tahun ini, namun akhirnya diundur tahun depan. Penerbitan Samurai Bond menurutnya penting, selain untuk menambah investor baru, juga untuk menambah diversifikasi mata uang.
Pasalnya, utang luar negeri Indonesia dalam denominasi yen mencapai 13% dari komposisi utang per Oktober 2014. Jumlah itu naik dibandingkan Desember tahun lalu yang hanya 11%. “Biasanya kebutuhan yen untuk membayar pokok pinjaman dan bunga yen itu lebih banyak daripada sumber yang masuk,” imbuhnya.
Penerbitan Samurai Bond menurutnya juga untuk memenuhi target 57% front loading pada semester I/2014. Pemerintah akan lebih banyak menerbitkan international bonds pada semester pertama. Selain Samurai Bond, Pemerintah berencana menerbitkan Euro Bond, Global Bond dalam denominasi dolar AS, serta Sukuk Global.
Sebagian besar penerbitan surat utang internasional itu akan dilakukan pada semester pertama. Pemerintah, dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2014, menargetkan penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) netto sebesar Rp205,068 triliun. Komposisi SBN itu terdiri dari 20% denominasi mata uang asing dan sisanya berdenominasi rupiah.
“Secara umum yang international bonds kita prioritaskan di semester pertama. Kalau pun ada yang kita agak undur ke semester kedua, mungkin yang mata uang dan tingkat bunganya tidak terlalu volatile, seperti Euro Bond,” tambah Robert. Euro Bonds menurutnya tidak terlalu mendesak diterbitkan pada semester pertama karena tingkat bunganya turun.
Sementara, Direktur Strategis dan Portofolio Utang Ditjen Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan Schneider Siahaan mengatakan, penerbitan Samurai Bond pada semester pertama dilakukan untuk mengantisipasi kenaikan suku bunga oleh The Fed yang diperkirakan pada semester kedua.
“Jadi, pasar masih belum bergejolak pada semester pertama. Harapan kita, kalau bisa terkumpul di semester I sebesar 57%, ya kita kanmau front loading,” kata dia.Pemerintah menerbitkan Samurai Bond pertama kali pada 2009 dengan nilai 35 miliar yen dan yield2,73%. Kemudian 2010 dan 2012, di mana outstandingnya telah mencapai 155 miliar yen atau Rp17,87 triliun.
Sementara, MenteriKeuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan, selama 2014 pemerintah telah mampu memenuhi target penerbitan surat berharga, baik dalam bentuk obligasi konvensional maupun surat berharga syariah. Pada penerbitan SBN berdenominasi valas global, baik itu obligasi global, sukuk global, maupun penerbitan perdana obligasi berdenominasi euro, seluruhnya mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed).
Hal tersebut menurutnya menunjukkan tingginya antusiasme investor asing terhadap Indonesia. Sementara tahun depan, salah satu isu yang menjadi perhatian pemerintah di sisi pembiayaan adalah risiko peningkatan suku bunga The Fed. Peningkatan suku bunga acuan akan memengaruhi tingkat suku bunga global, dan akhirnya dapat meningkatkan biaya dana (cost of fund) pemerintah.
Risiko tersebut menjadi perhatian utama pemerintah dalam menyusun rencana pembiayaan tahun depan. “Ke depan, dengan adanya penyesuaian harga BBM, terdapat potensi penurunan target defisit APBN-P 2015 yang selanjutnya berpengaruh pada penurunan target pembiayaan dari SBN,” tambahnya.
Ria martati
“Iya, kita mau tes yang garansi dan yang nongaransi bagaimana appetite-nya,” ujar Dirjen Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Robert Pakpahan di Jakarta kemarin. Seperti sebelumnya, penerbitan Samurai Bond akan dijamin oleh Japan Bank for International Cooperation (JBIC). Robert mengatakan, selama ini Indonesia selalu menerbitkan Samurai Bond dengan jaminan untuk menekan tingkat suku bunga.
Namun, dengan penjaminan tersebut, pemerintah harus membayar guarantee fee pada JBIC. Kali ini Indonesia akan mencoba menerbitkan sebagian surat utangnya tanpa jaminan untuk mengetes pasar. Jika surat utang nonjaminan tersebut diminati dan imbal hasilnya (yield) bagus, maka pemerintah akan menerbitkan kembali surat utang tanpa jaminan.
Penerbitan surat utang berdenominasi yen tersebut sebenarnya sudah direncanakan akan dilakukan tahun ini, namun akhirnya diundur tahun depan. Penerbitan Samurai Bond menurutnya penting, selain untuk menambah investor baru, juga untuk menambah diversifikasi mata uang.
Pasalnya, utang luar negeri Indonesia dalam denominasi yen mencapai 13% dari komposisi utang per Oktober 2014. Jumlah itu naik dibandingkan Desember tahun lalu yang hanya 11%. “Biasanya kebutuhan yen untuk membayar pokok pinjaman dan bunga yen itu lebih banyak daripada sumber yang masuk,” imbuhnya.
Penerbitan Samurai Bond menurutnya juga untuk memenuhi target 57% front loading pada semester I/2014. Pemerintah akan lebih banyak menerbitkan international bonds pada semester pertama. Selain Samurai Bond, Pemerintah berencana menerbitkan Euro Bond, Global Bond dalam denominasi dolar AS, serta Sukuk Global.
Sebagian besar penerbitan surat utang internasional itu akan dilakukan pada semester pertama. Pemerintah, dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2014, menargetkan penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) netto sebesar Rp205,068 triliun. Komposisi SBN itu terdiri dari 20% denominasi mata uang asing dan sisanya berdenominasi rupiah.
“Secara umum yang international bonds kita prioritaskan di semester pertama. Kalau pun ada yang kita agak undur ke semester kedua, mungkin yang mata uang dan tingkat bunganya tidak terlalu volatile, seperti Euro Bond,” tambah Robert. Euro Bonds menurutnya tidak terlalu mendesak diterbitkan pada semester pertama karena tingkat bunganya turun.
Sementara, Direktur Strategis dan Portofolio Utang Ditjen Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan Schneider Siahaan mengatakan, penerbitan Samurai Bond pada semester pertama dilakukan untuk mengantisipasi kenaikan suku bunga oleh The Fed yang diperkirakan pada semester kedua.
“Jadi, pasar masih belum bergejolak pada semester pertama. Harapan kita, kalau bisa terkumpul di semester I sebesar 57%, ya kita kanmau front loading,” kata dia.Pemerintah menerbitkan Samurai Bond pertama kali pada 2009 dengan nilai 35 miliar yen dan yield2,73%. Kemudian 2010 dan 2012, di mana outstandingnya telah mencapai 155 miliar yen atau Rp17,87 triliun.
Sementara, MenteriKeuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan, selama 2014 pemerintah telah mampu memenuhi target penerbitan surat berharga, baik dalam bentuk obligasi konvensional maupun surat berharga syariah. Pada penerbitan SBN berdenominasi valas global, baik itu obligasi global, sukuk global, maupun penerbitan perdana obligasi berdenominasi euro, seluruhnya mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed).
Hal tersebut menurutnya menunjukkan tingginya antusiasme investor asing terhadap Indonesia. Sementara tahun depan, salah satu isu yang menjadi perhatian pemerintah di sisi pembiayaan adalah risiko peningkatan suku bunga The Fed. Peningkatan suku bunga acuan akan memengaruhi tingkat suku bunga global, dan akhirnya dapat meningkatkan biaya dana (cost of fund) pemerintah.
Risiko tersebut menjadi perhatian utama pemerintah dalam menyusun rencana pembiayaan tahun depan. “Ke depan, dengan adanya penyesuaian harga BBM, terdapat potensi penurunan target defisit APBN-P 2015 yang selanjutnya berpengaruh pada penurunan target pembiayaan dari SBN,” tambahnya.
Ria martati
(bbg)