BI Anggap Pelemahan Rupiah Masih Wajar
Minggu, 14 Desember 2014 - 13:45 WIB
BI Anggap Pelemahan Rupiah Masih Wajar
A
A
A
JAKARTA - Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara menganggap pelemahan rupiah saat ini masih terbilang wajar karena juga dialami negara lain.
Dia mencontohkan, dolar Amerika Serikat (USD) menguat terhadap yen sekitar 15%. Bahkan, seperti ringgit Malaysia melemah sekitar 6% terhadap USD.
"Jadi, terlihat semua melemah terhadap USD, hal yang wajar. Apalagi kalau secara spesifik minggu ini menunggu meeting atau rapat FOMC tanggal 16 Desember untuk menentukan apakah akan ada pernyataan dari the Fed mengenai kebijakan suku bunganya akan segera naik atau masih lama," terangnya di Jakarta akhir pekan ini.
Mirza menuturkan, rupiah yang sudah mencapai level Rp 12.400 per USD masih dipandang positif jika dilihat dari kacamata daya saing ekspor dan impor. Adapun pelemahan rupiah akan berdampak positif pada membaiknya kinerja ekspor perdagangan non-minyak dan gas (migas).
Namun, pelemahan rupiah ini memang tidak dialami oleh kinerja ekspor komoditas lantaran harganya masih turun.
"Kalau dilihat dari sisi kompetitifnes ekspor dan impor tidak apa-apa karena memang kita ekspor manufaktur. Saya tidak bicara batu bara yang anjlok harganya. Kalau partner datang, kita melemah, ya sebaiknya kita ikut melemah. Kalau tidak, ekspor manufaktur kita jadi kalah bersaing," papar dia.
Ke depan, dia menegaskan bahwa bank sentral akan selalu ada di pasar untuk memberikan likuiditas USD.
(Foto: Depresiasi Rupiah Diprediksi Berpotensi ke Rp12.600/USD)
Dia mencontohkan, dolar Amerika Serikat (USD) menguat terhadap yen sekitar 15%. Bahkan, seperti ringgit Malaysia melemah sekitar 6% terhadap USD.
"Jadi, terlihat semua melemah terhadap USD, hal yang wajar. Apalagi kalau secara spesifik minggu ini menunggu meeting atau rapat FOMC tanggal 16 Desember untuk menentukan apakah akan ada pernyataan dari the Fed mengenai kebijakan suku bunganya akan segera naik atau masih lama," terangnya di Jakarta akhir pekan ini.
Mirza menuturkan, rupiah yang sudah mencapai level Rp 12.400 per USD masih dipandang positif jika dilihat dari kacamata daya saing ekspor dan impor. Adapun pelemahan rupiah akan berdampak positif pada membaiknya kinerja ekspor perdagangan non-minyak dan gas (migas).
Namun, pelemahan rupiah ini memang tidak dialami oleh kinerja ekspor komoditas lantaran harganya masih turun.
"Kalau dilihat dari sisi kompetitifnes ekspor dan impor tidak apa-apa karena memang kita ekspor manufaktur. Saya tidak bicara batu bara yang anjlok harganya. Kalau partner datang, kita melemah, ya sebaiknya kita ikut melemah. Kalau tidak, ekspor manufaktur kita jadi kalah bersaing," papar dia.
Ke depan, dia menegaskan bahwa bank sentral akan selalu ada di pasar untuk memberikan likuiditas USD.
(Foto: Depresiasi Rupiah Diprediksi Berpotensi ke Rp12.600/USD)
(rna)