Hiswana Migas Depok Perketat Distribusi Elpiji 3 Kg
Minggu, 14 Desember 2014 - 20:52 WIB
Hiswana Migas Depok Perketat Distribusi Elpiji 3 Kg
A
A
A
DEPOK - Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) Kota Depok memperketat jalur distribusi gas elpiji 3 kilogram (kg) untuk mencegah penyimpangan.
Penyimpangan jalur distribusi dinilai rawan di kawasan perbatasan. Seperti halnya di wilayah Kelurahan Serua dan Pondok Petir di Depok yang berbatasan langsung dengan daerah Tanggerang Selatan. Bahkan, warung, pangkalan dan agen tidak diperkenankan untuk menjual ke wilayah di luar wilayah Depok.
Ketua Hiswana Migas Kota Depok Athar Susanto menegaskan, jika ada satu pangkalan atau agen yang terbukti melanggar hal tersebut maka izin usaha dan operasionalnya akan dicabut.
"Tidak boleh karena itu barang subsidi dan setiap daerah sudah ada kuotanya masing-masing. Jika ada yang terbukti menjual elpiji bersubsidi ke luar wilayah Depok, maka agen atau pangkalan akan dicabut izinnya," ujar Athar di Depok, Minggu (14/12/2014).
Dia menjelaskan, label yang digunakan untuk tutup elpiji 3 kg berwarna pink. Dia juga meminta masyarakat agar bisa jeli jika ada gas elpiji 3 kg yang label atau tutupnya bukan berwarna pink.
"Laporkan kepada kami jika menemukan hal tersebut, Depok labelnya pink. Jika bukan warna itu berarti bukan dari wilayah Depok dan itu harus segera dilaporkan ke kami, kami akan tindak," ungkapnya.
Salah satu pemilik pangkalan elpiji 3 kg di wilayah Serua, Kecamatan Bojongsari, Sarifudin mengungkapkan bahwa pihaknya tidak berani untuk menjual gas elpiji 3 kg ke luar wilayah Depok.
"Tidak boleh dan kami tidak jual ke wilayah Tangsel, kami mengikuti aturan. Kami hanya menjual dan mendistribusikan kepada masyarakat dan warung-warung langganan kami," ungkapnya.
Pascakenaikan BBM, lanjutnya, hingga saat ini dirinya belum menaikkan harga elpiji 3 kg. Harga gas elpiji 3 kg dijualnya pada kisaran Rp14.500-Rp15.000 per tabung.
"Belum ada kenaikan, kami masih menjual dengan harga lama. Untuk yang datang ke sini kami jual biasa Rp14.500, sedangkan jika ada yang minta diantar kami jual Rp15.000," terangnya.
Dia menjelaskan, dalam satu hari pihaknya mengorder sekitar 280 tabung. Namun, kadang jumlahnya meningkat bisa mencapai 560 tabung dalam sehari.
Sementara itu, salah seorang penjual gas elpiji lainnya, yakni Saiful mengatakan, gas elpiji 3 kg dijual dengan harga Rp18.000.
"Dari pangkalannya kan sudah Rp15.000, mau diantar atau ambil sendiri harganya tetap sama. Sekarang barangnya lagi susah didapat, ini sudah pesan tiga hari, namun katanya belum ada," tuturnya.
Penyimpangan jalur distribusi dinilai rawan di kawasan perbatasan. Seperti halnya di wilayah Kelurahan Serua dan Pondok Petir di Depok yang berbatasan langsung dengan daerah Tanggerang Selatan. Bahkan, warung, pangkalan dan agen tidak diperkenankan untuk menjual ke wilayah di luar wilayah Depok.
Ketua Hiswana Migas Kota Depok Athar Susanto menegaskan, jika ada satu pangkalan atau agen yang terbukti melanggar hal tersebut maka izin usaha dan operasionalnya akan dicabut.
"Tidak boleh karena itu barang subsidi dan setiap daerah sudah ada kuotanya masing-masing. Jika ada yang terbukti menjual elpiji bersubsidi ke luar wilayah Depok, maka agen atau pangkalan akan dicabut izinnya," ujar Athar di Depok, Minggu (14/12/2014).
Dia menjelaskan, label yang digunakan untuk tutup elpiji 3 kg berwarna pink. Dia juga meminta masyarakat agar bisa jeli jika ada gas elpiji 3 kg yang label atau tutupnya bukan berwarna pink.
"Laporkan kepada kami jika menemukan hal tersebut, Depok labelnya pink. Jika bukan warna itu berarti bukan dari wilayah Depok dan itu harus segera dilaporkan ke kami, kami akan tindak," ungkapnya.
Salah satu pemilik pangkalan elpiji 3 kg di wilayah Serua, Kecamatan Bojongsari, Sarifudin mengungkapkan bahwa pihaknya tidak berani untuk menjual gas elpiji 3 kg ke luar wilayah Depok.
"Tidak boleh dan kami tidak jual ke wilayah Tangsel, kami mengikuti aturan. Kami hanya menjual dan mendistribusikan kepada masyarakat dan warung-warung langganan kami," ungkapnya.
Pascakenaikan BBM, lanjutnya, hingga saat ini dirinya belum menaikkan harga elpiji 3 kg. Harga gas elpiji 3 kg dijualnya pada kisaran Rp14.500-Rp15.000 per tabung.
"Belum ada kenaikan, kami masih menjual dengan harga lama. Untuk yang datang ke sini kami jual biasa Rp14.500, sedangkan jika ada yang minta diantar kami jual Rp15.000," terangnya.
Dia menjelaskan, dalam satu hari pihaknya mengorder sekitar 280 tabung. Namun, kadang jumlahnya meningkat bisa mencapai 560 tabung dalam sehari.
Sementara itu, salah seorang penjual gas elpiji lainnya, yakni Saiful mengatakan, gas elpiji 3 kg dijual dengan harga Rp18.000.
"Dari pangkalannya kan sudah Rp15.000, mau diantar atau ambil sendiri harganya tetap sama. Sekarang barangnya lagi susah didapat, ini sudah pesan tiga hari, namun katanya belum ada," tuturnya.
(rna)
Lihat Juga :