Rupiah Anjlok, Ini yang Harus Dilakukan BI dan OJK
Senin, 15 Desember 2014 - 18:50 WIB
Rupiah Anjlok, Ini yang Harus Dilakukan BI dan OJK
A
A
A
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) diminta mampu mengendalikan agar tidak terjadi kepanikan di masyarakat atas melemahnya nilai tukar rupiah.
Pengamat ekonomi Raden Pardede mengatakan, pemerintah tak bisa mengintervensi anjloknya nilai tukar rupiah.
"Kita enggak bisa intervensi arah dunia, menurut saya tidak perlu intervensi, hanya saja harus menjaga tidak terjadi volatilitas yang sangat tinggi, yang terjadi saat ini mata uang dunia melemah terhadap dolar kita itu siapa, kita harus melihat seperti itu. Yang paling penting kita harus menjaga supaya tidak ada panik dan volatilitas yang tinggi," terangnya di Jakarta, Senin (15/12/2014).
Untuk itu, dengan keadaan ini Bank Indonesia dan OJK juga harus menyakinkan pelaku usaha bahwa pelemahan rupiah ini hanya bersifat sementara.
"Jadi yakinkan ke seluruh pengusaha atau pelaku ekonomi kalau bukan hanya rupiah saja. Saya belum melihat ada kepanikan karena memang bukan hanya rupiah tapi seluruh dunia. Saya tidak tahu kapan prediksinya," jelasnya.
Dia menjelaskan, lemahnya nilai mata uang dunia termasuk rupiah karena ekonomi negara adidaya Amerika Serikat (AS) terus mengalami pemulihan.
Meski demikian, bukan berarti sebagai regulator BI dan OJK hanya berpangku tangan. Mereka justru harus siap dengan tantangan ke depan.
"Ya kita harus melihat gerakan ke seluruh dunia, yang paling penting tidak ada panik. Karena itu BI, OJK harus perhatikan keadaan dipasar agar tidak ada kepanikan," pungkasnya.
(Baca: Mata Uang di Dunia Bergejolak)
Pengamat ekonomi Raden Pardede mengatakan, pemerintah tak bisa mengintervensi anjloknya nilai tukar rupiah.
"Kita enggak bisa intervensi arah dunia, menurut saya tidak perlu intervensi, hanya saja harus menjaga tidak terjadi volatilitas yang sangat tinggi, yang terjadi saat ini mata uang dunia melemah terhadap dolar kita itu siapa, kita harus melihat seperti itu. Yang paling penting kita harus menjaga supaya tidak ada panik dan volatilitas yang tinggi," terangnya di Jakarta, Senin (15/12/2014).
Untuk itu, dengan keadaan ini Bank Indonesia dan OJK juga harus menyakinkan pelaku usaha bahwa pelemahan rupiah ini hanya bersifat sementara.
"Jadi yakinkan ke seluruh pengusaha atau pelaku ekonomi kalau bukan hanya rupiah saja. Saya belum melihat ada kepanikan karena memang bukan hanya rupiah tapi seluruh dunia. Saya tidak tahu kapan prediksinya," jelasnya.
Dia menjelaskan, lemahnya nilai mata uang dunia termasuk rupiah karena ekonomi negara adidaya Amerika Serikat (AS) terus mengalami pemulihan.
Meski demikian, bukan berarti sebagai regulator BI dan OJK hanya berpangku tangan. Mereka justru harus siap dengan tantangan ke depan.
"Ya kita harus melihat gerakan ke seluruh dunia, yang paling penting tidak ada panik. Karena itu BI, OJK harus perhatikan keadaan dipasar agar tidak ada kepanikan," pungkasnya.
(Baca: Mata Uang di Dunia Bergejolak)
(izz)