Ekspor Produk Tembakau Naik 10%

Selasa, 16 Desember 2014 - 10:31 WIB
Ekspor Produk Tembakau...
Ekspor Produk Tembakau Naik 10%
A A A
JAKARTA - Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI) menyatakan, ekspor tembakau dan produk tembakau olahan Indonesia pada tahun depan diperkirakan tumbuh sekitar 10% menjadi USD1,1 miliar dari target ekspor tahun ini sebesar USD1 miliar.

Lonjakan ekspor ini sebagai akibat kenaikan permintaan produk keretek, baik dari jenis sigaret keretek tangan (SKT) maupun sigaret keretek mesin (SKM). “Rokok keretek tetap menjadi primadona di pasar ekspor karena Indonesia merupakan negara produsen keretek terbesar di dunia,” kata Wakil Ketua Umum AMTI Budidoyo pada acara workshop Forum Wartawan Industri (Forwin) di Bogor pada akhir pekan lalu.

Nilai ekspor produk tembakau Indonesia setiap tahun, menurut Budidoyo, secara konsisten terus meningkat, termasuk dari segi permintaan di beberapa negara kawasan seperti Asean. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (EPS) yang diolah Kementerian Perdagangan, ekspor tembakau dan produk tembakau sejak 2011 hingga 2013 rata-rata tumbuh sekitar 12%.

“Terdapat sejumlah tantangan yang berpotensi melemahkan daya saing industri hasil tembakau nasional, dari kebijakan dalam negeri yang terkadang tidak berimbang antara kepentingan kesehatan, kepentingan penerimaan negara, dan penyerapan tenaga kerja, hingga desakan aksesi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) di Indonesia,” paparnya.

Untuk mengurangi tekanan industri produk tembakau dalam negeri, lanjut Budidoyo, pihaknya berharap petani berkomitmen untuk meningkatkan kualitas, produktivitas, dan efektivitas pertanian tembakau agar dapat bersaing di pasar internasional.

Direktur Jenderal (Dirjen) Industri Agro Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Panggah Susanto menolak ratifikasi framework convention tobacco control yang dikhawatirkan akan menurunkan kinerja industri rokok nasional.

“Dalam salah satu ayat yang ada pada FCTC menyuarakan pelarangan produk rokok yang mengandung rasa (cengkeh) sehingga ciri khas industri rokok nasional yang menggunakan cengkeh akan tergusur. Jika kita meratifikasi FCTC walaupun industrinya tidak mati tetapi kekhasan rokok kita akan hilang,” ujar Panggah.

Panggah menyatakan, pemerintah tidak bisa sembarangan dalam menerbitkan regulasi. Hal ini agar eksistensi sigaret rokok keretek (SKT) tidak mati.

Sudarsono
(ars)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BCA Kolaborasi Jurnalis...
BCA Kolaborasi Jurnalis Ekobis Makassar Kirim Bantuan ke Sulbar
Berita Terkini
Jasaraharja Putera Raih...
Jasaraharja Putera Raih Pertumbuhan Berkelanjutan dan RBC Capai 371,90%
31 menit yang lalu
Pelabuhan Patimban Resmi...
Pelabuhan Patimban Resmi Layani Impor Perdana, Komponen Mobil Listrik BYD Lanjut ke Pabrik Subang
1 jam yang lalu
Kinerja Positif 2025,...
Kinerja Positif 2025, Jasa Raharja Catatkan Laba Bersih Rp2,30 Triliun
1 jam yang lalu
Harga Emas Hari Ini...
Harga Emas Hari Ini Berbalik Merayap Naik Rp3 Ribu per Gram, Intip Rincian Lengkapnya
2 jam yang lalu
DJP Gandeng Babinsa...
DJP Gandeng Babinsa dan Bhabinkamtibmas Awasi Pajak: Hanya Pendamping, Tak Perlu Khawatir
3 jam yang lalu
60 Negara Jadi Sasaran...
60 Negara Jadi Sasaran Tarif Baru Trump, Termasuk Sekutu Dekat AS!
4 jam yang lalu
Infografis
10 Pesawat Militer Termahal...
10 Pesawat Militer Termahal di Dunia, Harga 7 Bomber B-2 Hampir Setara Anggaran MBG
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved