IHSG Diproyeksikan Capai Level 6.350
Kamis, 18 Desember 2014 - 10:15 WIB
IHSG Diproyeksikan Capai Level 6.350
A
A
A
JAKARTA - PT Mandiri Sekuritas memprediksikan indeks harga saham gabungan (IHSG) mencapai level 6.350 tahun depan.
Hal tersebut didukung dengan situasi politik yang kian kondusif serta pengalihan anggaran subsidi bahan bakar minyak (BBM) ke pembangunan infrastruktur. Head of Equity Research Mandiri Sekuritas John Daniel Rachmat mengatakan, meskipunsaat iniIHSGmasihberada di level 5.000-an, seiring dengan mulai terealisasinya rencana kerja pemerintah ke depan mampu memberi sentimen positif di pasar saham.
Meski demikian, pemerintah harus segera bekerja cepat sehingga rencana kerjanya dapat segera direalisasikan. ”Subsidi BBM dipangkas dan situasi panas politik juga selesai. Apabila APBN-P akan disetujui DPR pada bulan Februari maka tidak ada kekhawatiran dari pasar dan IHSG bisa mencapai 6.350,” kata John dalam jumpa persnya di Jakarta kemarin.
Selain didukung sentimen positif dari dalam, lanjut dia, faktor penguat dari luar yaitu adanya regulasi yang ditetapkan pemerintah Amerika Seikat (AS) terhadap suku bunga AS (Fed Funds Rate ) tidak akan dimulai lebih cepat daripada ekspektasi konsensus. Sebelumnya konsensus memprediksi kenaikan akan mulai terjadi pada Juni 2015 sebagai titik awal, sedangkan tim riset Mandiri Sekuritas memprediksikan hal ini akan terealisasi pada 2016.
”Di sisi lain, credit rating akan menaikkan peringkat Indonesia. April outlook akan dinaikkan dari stabil ke positif oleh S&P,” paparnya. Terkait dengan harga minyak mentah Brent yang turun di bawah USD60 per barel, ada elemen yang dapat meningkatkan beban dan berisiko terhadap akselerasi inflasi. Di sisi lain, perbaikan pada data tenaga kerja tidak membuat kenaikan pada pertumbuhan gaji pegawai AS dan inflasi yang hanya berdampak sangat kecil sekali.
Meski demikian, kata John, indeks di Bursa Efek Indonesia (BEI) akan mengalami koreksi di Januari dan Juni. Sementara penyebabnya yaitu imbas dari perdebatan yang alot terkait APBNP dan efek dari Fed pada Juli. IHSG yang telah terkoreksi 3,1% pada 5 Desember kemarin, setelah data pengangguran sektor non-farm November di AS telah memicu sell-off di pasar, dia memproyeksikan pada Jumat esok pergerakannya akan kembali positif.
Sebagai informasi, pertemuan FOMC akan berlangsung Kamis malam dan hasilnya Jumat pagi waktu Indonesia sudah bisa diketahui. ”Tidakperlukhawatir, Kamisselesai dan Jumat akan tenang kembali. Karena belum ada sinyal akan ada kenaikan. Kalaupun The Fed akan naikkan lebih awal, indeks akan di bawah 4.900 tahun ini,” tukas John.
Mandiri Sekuritas menggarisbawahi bahwa pasar saham Indonesia bukan satusatunya pasar yang terpengaruh kondisi itu. Meskipun pasar saham AS juga terkena dampaknya Dow Jones turun 5% dan S&P 500 turun 4,9% pada periode yang sama.
Heru febrianto
Hal tersebut didukung dengan situasi politik yang kian kondusif serta pengalihan anggaran subsidi bahan bakar minyak (BBM) ke pembangunan infrastruktur. Head of Equity Research Mandiri Sekuritas John Daniel Rachmat mengatakan, meskipunsaat iniIHSGmasihberada di level 5.000-an, seiring dengan mulai terealisasinya rencana kerja pemerintah ke depan mampu memberi sentimen positif di pasar saham.
Meski demikian, pemerintah harus segera bekerja cepat sehingga rencana kerjanya dapat segera direalisasikan. ”Subsidi BBM dipangkas dan situasi panas politik juga selesai. Apabila APBN-P akan disetujui DPR pada bulan Februari maka tidak ada kekhawatiran dari pasar dan IHSG bisa mencapai 6.350,” kata John dalam jumpa persnya di Jakarta kemarin.
Selain didukung sentimen positif dari dalam, lanjut dia, faktor penguat dari luar yaitu adanya regulasi yang ditetapkan pemerintah Amerika Seikat (AS) terhadap suku bunga AS (Fed Funds Rate ) tidak akan dimulai lebih cepat daripada ekspektasi konsensus. Sebelumnya konsensus memprediksi kenaikan akan mulai terjadi pada Juni 2015 sebagai titik awal, sedangkan tim riset Mandiri Sekuritas memprediksikan hal ini akan terealisasi pada 2016.
”Di sisi lain, credit rating akan menaikkan peringkat Indonesia. April outlook akan dinaikkan dari stabil ke positif oleh S&P,” paparnya. Terkait dengan harga minyak mentah Brent yang turun di bawah USD60 per barel, ada elemen yang dapat meningkatkan beban dan berisiko terhadap akselerasi inflasi. Di sisi lain, perbaikan pada data tenaga kerja tidak membuat kenaikan pada pertumbuhan gaji pegawai AS dan inflasi yang hanya berdampak sangat kecil sekali.
Meski demikian, kata John, indeks di Bursa Efek Indonesia (BEI) akan mengalami koreksi di Januari dan Juni. Sementara penyebabnya yaitu imbas dari perdebatan yang alot terkait APBNP dan efek dari Fed pada Juli. IHSG yang telah terkoreksi 3,1% pada 5 Desember kemarin, setelah data pengangguran sektor non-farm November di AS telah memicu sell-off di pasar, dia memproyeksikan pada Jumat esok pergerakannya akan kembali positif.
Sebagai informasi, pertemuan FOMC akan berlangsung Kamis malam dan hasilnya Jumat pagi waktu Indonesia sudah bisa diketahui. ”Tidakperlukhawatir, Kamisselesai dan Jumat akan tenang kembali. Karena belum ada sinyal akan ada kenaikan. Kalaupun The Fed akan naikkan lebih awal, indeks akan di bawah 4.900 tahun ini,” tukas John.
Mandiri Sekuritas menggarisbawahi bahwa pasar saham Indonesia bukan satusatunya pasar yang terpengaruh kondisi itu. Meskipun pasar saham AS juga terkena dampaknya Dow Jones turun 5% dan S&P 500 turun 4,9% pada periode yang sama.
Heru febrianto
(ars)