Pertumbuhan Industri Ritel Melambat

Selasa, 23 Desember 2014 - 12:36 WIB
Pertumbuhan Industri...
Pertumbuhan Industri Ritel Melambat
A A A
JAKARTA - Pertumbuhan industri ritel di sejumlah daerah mengalami perlambatan. Apalagi, dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN(MEA), menjadi tantangan berat.

Sebagai industri yang masuk kategori padat karya, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (Alfamart) yang kini memiliki lebih dari 100 ribu karyawan, menghadapi kenaikan beban biaya operasional.

"Selain kenaikan tarif listrik, beban peritel masih ditambah lonjakan tarif upah minimum tenaga kerja di awal tahun ini ditambah dengan kenaikan harga BBM," ujar Direktur Alfamart Solihin dalam rilisnya, Selasa (23/12/2014).

Solihin menjelaskan, meningkatnya daya beli masyarakat yang terjadi tahun ini seolah tidak berarti banyak, akibat beban operasional yang juga bengkak.

Belum lagi persoalan kebijakan yang diterapkan pemerintah daerah sering tumpang tindih dengan pemerintah pusat. Contohnya dalam hal perizinan bagi peritel modern dan waralaba di daerah.

Untuk membuka toko modern di daerah, perizinan yang diurus sangat banyak dan memerlukan proses yang panjang.

Seperti diketahui, pada masa mendatang bakal terjadi serbuan produk impor. Hal ini perlu menjadi perhatian pemerintah.

Cara instan untuk bisa berperang dengan produk asing adalah dengan mengoptimalkan kualitas produk ritel lokal dan memperketat celah distribusi produk impor di Indonesia.

Harga jual produk ritel yang terpaut jauh antara Pulau Jawa dan Luar Jawa terutama Indonesia Timur, bisa diatasi dengan visi misi pemerintah untuk menjadikan Indonesia negara maritim dan rencana pembangunan tol laut.

"Kami sangat mendukung dan menunggu hal ini bisa segera diwujudkan," paparnya.

Solihin, yang juga Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) berharap pemerintah tidak membuat peraturan yang justru menghambat roda bisnis peritel domestik.

Jaringan ritel di Indonesia dibutuhkan produsen lokal yang ingin memasarkan produknya ke pelosok negeri. "Harapannya bisa mempercepat pertumbuhan ekonomi di Indonesia," pungkas dia.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkini
Rupiah Amburadul Rp18...
Rupiah Amburadul Rp18 Ribu, Produk Rumah Tangga Unilever Bakal Naik Harga di Kuartal II 2026
14 menit yang lalu
Rupiah Terkapar, Dampaknya...
Rupiah Terkapar, Dampaknya Mulai Terasa ke Sektor Industri Nasional
31 menit yang lalu
PLN EPI, PLN Puslitbang...
PLN EPI, PLN Puslitbang dan ITERA Kolaborasi Kembangkan Tanaman Energi
1 jam yang lalu
Pelindo Sinergi Lokaseva...
Pelindo Sinergi Lokaseva Catat Kinerja Operasional Positif di Awal 2026
2 jam yang lalu
BRI Life Ungkap Peran...
BRI Life Ungkap Peran Mitra Stategis Selama 4 Dekade
2 jam yang lalu
Pjs Dirut BEI Sebut...
Pjs Dirut BEI Sebut Fundamental Pasar Saham RI Masih Bagus, Ini Buktinya
2 jam yang lalu
Infografis
Indonesia Butuh Rp47.587,3...
Indonesia Butuh Rp47.587,3 Triliun untuk Pertumbuhan Ekonomi 8%
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved