Jokowi Diminta Kembali ke Kebijakan Defisit Siklis

Minggu, 28 Desember 2014 - 18:53 WIB
Jokowi Diminta Kembali...
Jokowi Diminta Kembali ke Kebijakan Defisit Siklis
A A A
JAKARTA - Direktur Eksekutif CORE Indonesia Hendri Saparini menuturkan, meski anggaran belanja pemerintah pada tahun ini tumbuh tinggi, namun perannya dalam mendorong pertumbuhan dan pemerataan ekonomi masih sangat terbatas.

Dari sisi belanja, menurut dia, kualitas belanja pemerintah masih mengikuti pola lama, sehingga menjadi kurang memberikan multiplier bagi ekonomi.

Anggaran belanja pemerintah pada APBN-P 2014 mencapai Rp1.876,9 triliun atau meningkat rata-rata 15% per tahun dari tahun 2010 sebesar Rp1.042.1 triliun.

"Program dan anggaran penanggulan kemiskinan dan pengangguran sangat banyak, namun penurunan jumlah penduduk miskin dan pengangguran semakin minim dari tahun ke tahun," kata dia.

Hendri menjelaskan, pola penyusunan APBN selama ini selalu didesain defisit, sehingga membuat stok utang pemerintah semakin tinggi. Pada APBN-P 2014, defisit ditetapkan sebesar 2,5% dari PDB.

Belanja yang bersifat ekspansif ini dimaksudkan agar APBN dapat mengakselarasi pertumbuhan ekonomi (mencapai full employment).

Menurut Hendri, pemerintah Jokowi seharusnya melakukan perbaikan dalam struktur anggaran karena APBN telah mengalami defisit yang bersifat struktural, sehingga membuat stok utang pemerintah semakin menumpuk.

"Apalagi sejak tahun‎ 2012, keseimbangan primer APBN sudah negatif. Dengan kata lain, pendapatan negara sudah tidak mampu membayar biaya bunga utang dan cicilannya, sehingga pemerintah harus menambah utang untuk membayar bunga dan pokok utang," terang dia.

Diharapkan kabinet kerja Jokowi mengembalikan kebijakan defisit anggaran ke kebijakan defisit siklis, yakni kebijakan defisit yang dilakukan hanya pada saat perekonomian mengalami kontraksi.

Apalagi ke depan, global mengarah pada iklim suku bunga tinggi dan saat ini yield obligasi pemerintah merupakan salah satu tertinggi di Asia.
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Membaca Ketahanan Ekonomi...
Membaca Ketahanan Ekonomi RI dalam Dinamika Global Kuartal III 2025
Indonesia Butuh Rp47.587,3...
Indonesia Butuh Rp47.587,3 Triliun untuk Pertumbuhan Ekonomi 8%
Bahaya! Deflasi Hantam...
Bahaya! Deflasi Hantam Ekonomi RI 5 Bulan Beruntun
Prabowo Sering Diejek...
Prabowo Sering Diejek karena Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 8%
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Selatan Kuartal I Tahun 2024
Dorong Industri Event...
Dorong Industri Event untuk Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Berita Terkini
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Perkuat Ketahanan Pangan Melalui Program CID
22 menit yang lalu
BUMN Mulai Pangkas Anak...
BUMN Mulai Pangkas Anak Usaha, dari Pupuk Indonesia sampai PLN
40 menit yang lalu
WYCE Targetkan Penjualan...
WYCE Targetkan Penjualan 100.000 Boks pada Tahun Pertama
1 jam yang lalu
10 Negara Produsen Pertanian...
10 Negara Produsen Pertanian Terbesar di Dunia, Indonesia Urutan Berapa?
1 jam yang lalu
DPR Solid Tolak Aturan...
DPR Solid Tolak Aturan Kemasan Polos Produk Tembakau dari Kemenkes
2 jam yang lalu
Bos Raksasa Minyak Rusia:...
Bos Raksasa Minyak Rusia: AS Untung Besar di Balik Penutupan Selat Hormuz
2 jam yang lalu
Infografis
8 Kebijakan Baru Pemerintah...
8 Kebijakan Baru Pemerintah Hadapi Tekanan Global! WFH hingga MBG
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved