Garuda-BRI Teken Perjanjian Kredit Rp1 T

Sabtu, 03 Januari 2015 - 13:25 WIB
Garuda-BRI Teken Perjanjian...
Garuda-BRI Teken Perjanjian Kredit Rp1 T
A A A
JAKARTA - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) telah menandatangani perjanjian kredit dengan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sebesar Rp1 triliun.

Direktur Keuangan, Risiko, dan Teknologi Informasi Garuda Indonesia, I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra mengatakan perjanjian tersebut telah ditandatangani pada 30 Desember 2014 oleh kedua perusahaan. “Perseroan telah memperoleh pinjaman jangka pendek dari Bank BRI dalam bentuk fasilitas kredit modal kerja impor, penangguhan jaminan impor dengan total plafon Rp1 triliun,” kata Askhara dalam rilisnya kemarin.

Selain memperoleh pinjaman jangka pendek dengan mata uang rupiah, emiten maskapai penerbangan pelat merah tersebut memperoleh fasilitas kredit dalam bentuk valuta asing dolar Amerika Serikat (USD). Menurut Gusti, perseroan memperoleh fasilitas kredit modal kerja impor, penangguhan jaminan impor dengan total plafon USD30 juta atau setara Rp375 miliar dalam kurs Rp12.500 per dolar AS.

Sebelumnya, Askhara pernah menyatakan rasio antara liabilitas terhadap ekuitas atau debt to equity ratio (DER) perseroan hingga saat ini berada di posisi 1,3 kali. Adapun debt to EBITDA masih berada diposisi 2,5 kali. Dengan demikian GIAA masih memilik ruang untuk menambah pinjaman. Selain digunakan untuk belanja modal pada tahun depan yang dipangkas kurang dari USD200 juta, perseroan juga butuh pendanaan untuk pembayaran utang jatuh tempo (refinancing ) pada 2015 sebesar USD350 juta.

“Rencananya pada kuartal I/2015 kami akan menerbitkan global bound USD500 juta. Sekitar USD350 untuk refinancing pada 2015 dan USD135 untuk kuartal I/2016,” paparnya. Dihubungi terpisah, Analis PT Nusantara Capital Securities I Made Adi Saputra menyatakan Garuda butuh langkah reformasi yang cukup besar, terutama setelah memiliki jajaran direksi baru.

Selain dari penurunan beban utang, manajemen juga dapat menekan biaya pegawai yang merupakan fixed cost cukup besar dibandingkan maskapai lain. “Harus ada efisiensi, selain itu pendanaannya harus ada perubahan, organisasinya harus diperbaiki,” katanya.

Heru febrianto
(bbg)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BCA Kolaborasi Jurnalis...
BCA Kolaborasi Jurnalis Ekobis Makassar Kirim Bantuan ke Sulbar
Berita Terkini
Masyarakat Diminta Tak...
Masyarakat Diminta Tak Panik Respons Kondisi Ekonomi RI, Ekonom: Jaga Optimisme Berdasar Data
3 jam yang lalu
Program CIMB Niaga Sustainability...
Program CIMB Niaga Sustainability Journalism Fellowship Memilih 20 Jurnalis
4 jam yang lalu
Purbaya Belum Percaya...
Purbaya Belum Percaya Daya Beli Mulai Lesu di Warteg: Nanti Saya Cek Lagi
4 jam yang lalu
LPPOM Dorong Konsep...
LPPOM Dorong Konsep Green Halal untuk Perkuat Industri Berkelanjutan
5 jam yang lalu
Bitget Stocks 2.0 Hadir...
Bitget Stocks 2.0 Hadir Menghubungkan Ekuitas Berbentuk Token dengan Likuiditas Nyata
5 jam yang lalu
LPPOM Paparkan Peluang...
LPPOM Paparkan Peluang Industri Halal Indonesia di Tokyo
5 jam yang lalu
Infografis
AS Setujui Penjualan...
AS Setujui Penjualan Peralatan Senilai Rp5 T untuk F-16 ke Ukraina
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved