Ekspor 2015 Ditargetkan USD192,5 M
Rabu, 07 Januari 2015 - 10:06 WIB
Ekspor 2015 Ditargetkan USD192,5 M
A
A
A
JAKARTA - Kementerian Perdagangan (Kemendag) memproyeksikan ekspor tahun ini mencapai USD192,5 miliar. Perubahan struktur ekspor dari produk primer ke produk manufaktur diharapkan bisa meningkatkan ekspor nonmigas hingga tiga kali lipat pada 2019.
Menteri Perdagangan (Mendag) Rachmat Gobel meyakini, perkembangan ekspor tahun ini akan lebih baik dibanding tahun lalu.
Optimisme dilatarbelakangi membaiknya perekonomian dunia terutama di negara maju seperti Amerika Serikat (AS) yang perekonomiannya diproyeksikan tumbuh 3,1% dan pertumbuhan impor 5,4%. Sebagaimana diketahui, AS merupakan salah satu negara tujuan ekspor utama Indonesia.
“Kemendag menargetkan ekspor nonmigas dalam lima tahun ke depan naik 300%. Upaya pencapaian target ini akan mendorong penyerapan tenaga kerja sebanyak 4,6 juta orang per tahun dan membutuhkan investasi asing langsung sekitar USD40,5 miliar per tahun,” ujarnya di sela-sela jumpa pers di kantor Kemendag di Jakarta, kemarin.
Di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, pemerintah tengah menyiapkan sejumlah strategi untuk mencapai target tersebut. Selain melakukan misi dagang dan misi pembelian dengan mendatangkan buyer asing, Kemendag juga akan membuat pusat distribusi atau House of Indonesia dan memfasilitasi inkubasi bisnis di pasar tujuan ekspor. Tahun ini inkubasi bisnis dilakukan di Jabbel Ali Free Zone Area di Uni Emirat Arab.
Kegiatan tersebut antara lain mencakup program pelatihan untuk menstimulasi terciptanya produk-produk ekspor unggulan baru. Mendag menambahkan, sesuai arah kebijakan industri untuk hilirasasi, pemerintah berkomitmen melakukan perubahan struktur ekspor dari yang sebelumnya didominasi produk primer menjadi produk manufaktur.
Peningkatan ekspor produk manufaktur diarahkan terutama pada ekspor produk bernilai tambah tinggi berbasis sumber daya alam yang melimpah. Sehingga diharapkan pada 2019 struktur ekspor Indonesia akan didominasi oleh produk manufaktur. Dirjen Peningkatan Ekspor Nasional Nus Nuzulia Ishaq memaparkan, produk manufaktur dimaksud, terutama yang permintaan pasarnya tinggi, adalah elektronik, tekstil dan produk tekstil, produk kimia, produk kayu, kertas dan furnitur, serta produk logam.
Produk elektronik merupakan produk yang permintaan pasarnya tertinggi di dunia dengan pangsa mencapai 17,42% di tahun 2013. Elektronik di Indonesia memiliki kontribusi sebesar 6,53% dari ekspor nonmigas pada 2013 dengan pertumbuhan rata-rata 4,11%. “Kelompok produk unggulan ekspor lainnya adalah automotif, mesin-mesin, produk plastik, peralatan medis, alas kaki, produk karet, kerajinan, kulit dan produk kulit, dan minyak astiri,” ungkapnya.
Untuk memperkuat promosi, Kemendag masih akan mengoptimalkan pusat promosi perdagangan Indonesia di luar negeri (ITPC). Kemendag juga akan melanjutkan program misi pembelian oleh buyer asing prospektif dengan target transaksi pembelian senilai USD100 juta. Terkait negara tujuan ekspor, Nus mengakui, dalam beberapa bulan terakhir ekspor ke negara-negara pasar tradisional mengalami penurunan.
Pemerintah pun akan mendorong ekspor ke pasarpasar baru yang belum terjamah terutama negara-negara anggota UNCTAD. “Pasar tradisional tetap dipertahankan, tapi ke depan kita arahnya ke pasar Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Latin,” sebutnya. Nus menambahkan, pada 2014 ekspor ke sejumlah negara berhasil melampaui target, di antaranya ke AS, Italia, Spanyol dan Inggris. Dia mengungkapkan, nilai ekspor nonmigas Januari- Desember 2014 diprediksi mencapai USD146-148 miliar.
“Memang ada penurunan karena penurunan harga beberapa komoditas ekspor kita dan melemahnya pertumbuhan ekonomi beberapa negara tujuan ekspor,” sebutnya. Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Partogi Pangaribuan mengatakan, Kemendag telah merevisi target ekspor 2014 dari USD192 miliar menjadi USD184,3 miliar. Ekspor tahun 2015 diperkirakan akan menembus USD192,5 miliar.
Kendati penurunan harga minyak mentah dunia ikut berdampak pada penurunan harga sejumlah komoditas lainnya, Partogi melihat sisi positif lain yaitu menggeliatnya industri di luar negeri sehingga meningkatkan daya beli dan kebutuhan masyarakat di luar negeri. “Oleh karena itu, kita harus berpacu untuk memproduksi barang yang banyak dibutuhkan atau diminati pasar luar negeri,” tandasnya.
Inda susanti
Menteri Perdagangan (Mendag) Rachmat Gobel meyakini, perkembangan ekspor tahun ini akan lebih baik dibanding tahun lalu.
Optimisme dilatarbelakangi membaiknya perekonomian dunia terutama di negara maju seperti Amerika Serikat (AS) yang perekonomiannya diproyeksikan tumbuh 3,1% dan pertumbuhan impor 5,4%. Sebagaimana diketahui, AS merupakan salah satu negara tujuan ekspor utama Indonesia.
“Kemendag menargetkan ekspor nonmigas dalam lima tahun ke depan naik 300%. Upaya pencapaian target ini akan mendorong penyerapan tenaga kerja sebanyak 4,6 juta orang per tahun dan membutuhkan investasi asing langsung sekitar USD40,5 miliar per tahun,” ujarnya di sela-sela jumpa pers di kantor Kemendag di Jakarta, kemarin.
Di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, pemerintah tengah menyiapkan sejumlah strategi untuk mencapai target tersebut. Selain melakukan misi dagang dan misi pembelian dengan mendatangkan buyer asing, Kemendag juga akan membuat pusat distribusi atau House of Indonesia dan memfasilitasi inkubasi bisnis di pasar tujuan ekspor. Tahun ini inkubasi bisnis dilakukan di Jabbel Ali Free Zone Area di Uni Emirat Arab.
Kegiatan tersebut antara lain mencakup program pelatihan untuk menstimulasi terciptanya produk-produk ekspor unggulan baru. Mendag menambahkan, sesuai arah kebijakan industri untuk hilirasasi, pemerintah berkomitmen melakukan perubahan struktur ekspor dari yang sebelumnya didominasi produk primer menjadi produk manufaktur.
Peningkatan ekspor produk manufaktur diarahkan terutama pada ekspor produk bernilai tambah tinggi berbasis sumber daya alam yang melimpah. Sehingga diharapkan pada 2019 struktur ekspor Indonesia akan didominasi oleh produk manufaktur. Dirjen Peningkatan Ekspor Nasional Nus Nuzulia Ishaq memaparkan, produk manufaktur dimaksud, terutama yang permintaan pasarnya tinggi, adalah elektronik, tekstil dan produk tekstil, produk kimia, produk kayu, kertas dan furnitur, serta produk logam.
Produk elektronik merupakan produk yang permintaan pasarnya tertinggi di dunia dengan pangsa mencapai 17,42% di tahun 2013. Elektronik di Indonesia memiliki kontribusi sebesar 6,53% dari ekspor nonmigas pada 2013 dengan pertumbuhan rata-rata 4,11%. “Kelompok produk unggulan ekspor lainnya adalah automotif, mesin-mesin, produk plastik, peralatan medis, alas kaki, produk karet, kerajinan, kulit dan produk kulit, dan minyak astiri,” ungkapnya.
Untuk memperkuat promosi, Kemendag masih akan mengoptimalkan pusat promosi perdagangan Indonesia di luar negeri (ITPC). Kemendag juga akan melanjutkan program misi pembelian oleh buyer asing prospektif dengan target transaksi pembelian senilai USD100 juta. Terkait negara tujuan ekspor, Nus mengakui, dalam beberapa bulan terakhir ekspor ke negara-negara pasar tradisional mengalami penurunan.
Pemerintah pun akan mendorong ekspor ke pasarpasar baru yang belum terjamah terutama negara-negara anggota UNCTAD. “Pasar tradisional tetap dipertahankan, tapi ke depan kita arahnya ke pasar Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Latin,” sebutnya. Nus menambahkan, pada 2014 ekspor ke sejumlah negara berhasil melampaui target, di antaranya ke AS, Italia, Spanyol dan Inggris. Dia mengungkapkan, nilai ekspor nonmigas Januari- Desember 2014 diprediksi mencapai USD146-148 miliar.
“Memang ada penurunan karena penurunan harga beberapa komoditas ekspor kita dan melemahnya pertumbuhan ekonomi beberapa negara tujuan ekspor,” sebutnya. Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Partogi Pangaribuan mengatakan, Kemendag telah merevisi target ekspor 2014 dari USD192 miliar menjadi USD184,3 miliar. Ekspor tahun 2015 diperkirakan akan menembus USD192,5 miliar.
Kendati penurunan harga minyak mentah dunia ikut berdampak pada penurunan harga sejumlah komoditas lainnya, Partogi melihat sisi positif lain yaitu menggeliatnya industri di luar negeri sehingga meningkatkan daya beli dan kebutuhan masyarakat di luar negeri. “Oleh karena itu, kita harus berpacu untuk memproduksi barang yang banyak dibutuhkan atau diminati pasar luar negeri,” tandasnya.
Inda susanti
(ars)