Rupiah Masih Melemah, Ini Jawaban Agus Marto
Minggu, 11 Januari 2015 - 15:16 WIB
Rupiah Masih Melemah, Ini Jawaban Agus Marto
A
A
A
JAKARTA - Rupiah beberapa hari ini kembali terjadi pelemahan, Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo berpendapat, pekan lalu ada kondisi risk off yang ditandai dengan fight to quality, dana mengalir ke Amerika yangg dianggap sebagai save heaven country.
Kemudian, perkembangan di Eropa lantaran di Yunani ada oposisi yang kelihatannya menentang adanya disiplin fiskal dan kemungkinan ada pemilu.
"Sehingga, kalau pemilu itu diselenggarakan ada kemungkinan Yunani keluar dari Eurozone," ungkap Agus di Jakarta, akhir pekan lalu.
Selain itu, harga minyak dunia yang mengalami penurunan cukup rendah serta neraca perdagangan yang kembali menunjukkan defisit.
"Tapi setelah ada pertemuan FOMC meeting, kelihatan sekali ada situasi risk on, jadi kembali terjadi penguatan nilai tukar dari negara di dunia. Dan itu karena di dalam hasil rapat di AS, bahwa kemungkinan The Fed untuk menaikan suku bunga tidak akan terlalu cepat," jelas dia.
Sementara dari dalam negeri, kata Agus, angka inflasi yang cukup tinggi di Desember juga turut mendorong pelemahan rupiah.
Dia menuturkan, secara umum pada 2015 (year to date) memang ada depresiasi kira-kira di 2,3%, tetapi pada Jumat (9/1) lalu satu hari sudah kelihatan ada penguatan 0,7%.
"Jadi kondisi masih risk off, risk on dan kita perlu terus mewaspadai perkembangan dunia serta upaya di dalam negeri dan kita akan lakukan perkuatan," tandasnya.
Kemudian, perkembangan di Eropa lantaran di Yunani ada oposisi yang kelihatannya menentang adanya disiplin fiskal dan kemungkinan ada pemilu.
"Sehingga, kalau pemilu itu diselenggarakan ada kemungkinan Yunani keluar dari Eurozone," ungkap Agus di Jakarta, akhir pekan lalu.
Selain itu, harga minyak dunia yang mengalami penurunan cukup rendah serta neraca perdagangan yang kembali menunjukkan defisit.
"Tapi setelah ada pertemuan FOMC meeting, kelihatan sekali ada situasi risk on, jadi kembali terjadi penguatan nilai tukar dari negara di dunia. Dan itu karena di dalam hasil rapat di AS, bahwa kemungkinan The Fed untuk menaikan suku bunga tidak akan terlalu cepat," jelas dia.
Sementara dari dalam negeri, kata Agus, angka inflasi yang cukup tinggi di Desember juga turut mendorong pelemahan rupiah.
Dia menuturkan, secara umum pada 2015 (year to date) memang ada depresiasi kira-kira di 2,3%, tetapi pada Jumat (9/1) lalu satu hari sudah kelihatan ada penguatan 0,7%.
"Jadi kondisi masih risk off, risk on dan kita perlu terus mewaspadai perkembangan dunia serta upaya di dalam negeri dan kita akan lakukan perkuatan," tandasnya.
(izz)