BI Perkirakan Defisit Transaksi Berjalan Menurun

Jum'at, 16 Januari 2015 - 21:16 WIB
BI Perkirakan Defisit...
BI Perkirakan Defisit Transaksi Berjalan Menurun
A A A
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) memperkirakan defisit transaksi berjalan menurun dari tahun sebelumnya.

Penurunan tersebut di dukung oleh perbaikan ekspor manufaktur dan penurunan impor sejalan dengan permintaan domestik yang melemah, pergerakan nilai tukar rupiah sesuai nilai fundamental, dan penurunan harga minyak.

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia Juda Agung mengatakan, apabila dilihat perkembangan global, khususnya kebijakan normalisasi The Fed, kebijakan BI belum berubah masih ketat.

Dia mengungkapkan, apabila kebijakan The Fed sudah berlalu maka diperlukan adanya penyesuain.

Menurutnya, BI melihat kebijakan current account untuk 2014 di perkirakan akan defisit sekitar 3%.

"Untuk 2015, penurunan harga minyak itu menguntungkan sehingga current account itu menurut penurunan harga komoditas, sehingga ekspor komoditas kita di 2015 akan berkurang," katanya saat ditemui wartawan di gedung BI, Jakarta, Jumat (16/1/2015).

Juda mengatakan, terkait harga BBM yang mengalami penurunan maka akan berdampak pada deflasi untuk harga-harga di 2015.

"Sejauh ini kami gunakan harga minyak USD65 per barel dan ini proyeksi dari banyak kalangan maka dengan asumsi-asumsi itu diperkirakan dampak dari penurunan harga minyak, sekarang ini USD50 per barel dan ini punya dampak 0,24% pada inflasi," papar dia.

Menurutnya, harga minyak ini masih sangat dinamis dan memang akan terus dicermat. Sehingga, adanya penurunan harga minyak dunia akan berdampak baik untuk inflasi.

Lebih lanjut dia menuturkan, pihaknya telah menghitung kalau harga minyak terus mengalami penurunan.

Dia menjelaskan, apabila harga minyak terus turun dan harga BBM juga turun maka akan mendorong produksi CAD current account membaik dari 3,3% menjadi 3%.

"Yang paling mengalami perbaikan adalah current account dari sisi nonmigas. Ini juga tidak lepas dari sektor manufaktur sehingga nilai tukarnya makin baik," kata dia.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Neraca Perdagangan Indonesia...
Neraca Perdagangan Indonesia pada Januari 2025 Catat Surplus USD 3,45 Miliar
Neraca Perdagangan Agustus...
Neraca Perdagangan Agustus 2024 Surplus
Top! Surplus Neraca...
Top! Surplus Neraca Dagang Tertinggi Sejak 9 Tahun Terakhir
Januari - November 2020,...
Januari - November 2020, Neraca Perdagangan Jatim Defisit
Juara Lawan AS, Neraca...
Juara Lawan AS, Neraca Dagang RI Keok dengan Thailand
Ekspor Terus Turun,...
Ekspor Terus Turun, Ekonom Khawatir Akan Ada PHK Massal
Berita Terkini
Mengintegrasikan AI...
Mengintegrasikan AI Demi Mewujudkan Ekosistem Investasi Mass Market
2 jam yang lalu
UE Putar Haluan Kembali...
UE Putar Haluan Kembali ke Pelukan Rusia, Rogoh Dana Raksasa Rp123 Triliun demi LNG
2 jam yang lalu
Harga MinyaKita Tembus...
Harga MinyaKita Tembus Rp16.000 per Liter di Atas HET, Apa Sebabnya?
3 jam yang lalu
Kimia Farma Siapkan...
Kimia Farma Siapkan Rantai Layanan Hulu-Hilir Percepat Penanggulangan TB
3 jam yang lalu
Esgin dan Agraus Resources...
Esgin dan Agraus Resources Sinergi Garap Potensi Investasi Hijau dan Ekonomi Karbon
3 jam yang lalu
Kasus Hukum Febrie Momentum...
Kasus Hukum Febrie Momentum Audit Menyeluruh Tata Kelola Sawit Sitaan Negara
4 jam yang lalu
Infografis
6 Penyakit Berbahaya...
6 Penyakit Berbahaya yang Bisa Dicegah dengan Berjalan Kaki
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved