Ini Optimisme Gubernur BI soal Penekanan Inflasi
Senin, 19 Januari 2015 - 14:56 WIB
Ini Optimisme Gubernur BI soal Penekanan Inflasi
A
A
A
JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo menyambut baik atas kebijakan pemerintah dalam mencabut subsidi BBM.
BBM yang subsidinya dicabut adalah premium dan menerapkan kebijakan subsidi tetap untuk solar sebagai bahan bakar angkutan umum sebesar Rp1.000 per liter.
Menurutnya, kebijakan ini akan baik untuk menekan inflasi di sepanjang 2015 yang ditentukan Bank Indonesia sebesar 4 plus minus 1%.
"Kebijakan ini, kita sambut baik sekali, karena jika kita ambil pada waktu tepat pada minyak dunia turun langsung membuat yang tadinya subsidi BBM bersifat fleksibel, bisa tetap. Ini bisa menekan inflasi," jelasnya di Gedung DPR, Jakarta, Senin (19/1/2015).
Agus menilai, sejak ahun 1980-2014, inflasi masih sangat tinggi. Hal ini terjadi karena besarnya anggaran untuk subsidi yang selalu bertambah di tengah realisasi anggaran. Selain itu, naiknya harga BBM juga membuat inflasi meroket.
"Sejak 1980 atau 2005 ke 2014 inflasi kita naik 17%, tahun lalu 8,3%. Itu karena penyesuaian harga BBM dan harus dinaikkan karena harga minyak dunia tinggi dan memberikan tekanan pada fiskal. Sekarang tidak begitu karena mengikuti pasar, masyarakat akan terbiasa," tutur dia.
Dicabutnya subsidi premium dan subsidi tetap untuk Solar, masyarakat dinilai bisa menghitung sendiri pengeluaran mereka, sehingga tidak menimbulkan gejolak pada harga barang yang menyebabkan inflasi bertambah.
"Ini risikonya diminimumkan. Dicanangkan pada subsidi solar Rp1.000. Jadi ketahuan subsdi BBM cuma Rp17 triliun untuk 17 juta kiloliter solar. Dampak inflasinya sudah minimum, harga tersesuaikan dua minggu. Menyesuaiikan pola konsumsi masyarakat," pungkasnya.
BBM yang subsidinya dicabut adalah premium dan menerapkan kebijakan subsidi tetap untuk solar sebagai bahan bakar angkutan umum sebesar Rp1.000 per liter.
Menurutnya, kebijakan ini akan baik untuk menekan inflasi di sepanjang 2015 yang ditentukan Bank Indonesia sebesar 4 plus minus 1%.
"Kebijakan ini, kita sambut baik sekali, karena jika kita ambil pada waktu tepat pada minyak dunia turun langsung membuat yang tadinya subsidi BBM bersifat fleksibel, bisa tetap. Ini bisa menekan inflasi," jelasnya di Gedung DPR, Jakarta, Senin (19/1/2015).
Agus menilai, sejak ahun 1980-2014, inflasi masih sangat tinggi. Hal ini terjadi karena besarnya anggaran untuk subsidi yang selalu bertambah di tengah realisasi anggaran. Selain itu, naiknya harga BBM juga membuat inflasi meroket.
"Sejak 1980 atau 2005 ke 2014 inflasi kita naik 17%, tahun lalu 8,3%. Itu karena penyesuaian harga BBM dan harus dinaikkan karena harga minyak dunia tinggi dan memberikan tekanan pada fiskal. Sekarang tidak begitu karena mengikuti pasar, masyarakat akan terbiasa," tutur dia.
Dicabutnya subsidi premium dan subsidi tetap untuk Solar, masyarakat dinilai bisa menghitung sendiri pengeluaran mereka, sehingga tidak menimbulkan gejolak pada harga barang yang menyebabkan inflasi bertambah.
"Ini risikonya diminimumkan. Dicanangkan pada subsidi solar Rp1.000. Jadi ketahuan subsdi BBM cuma Rp17 triliun untuk 17 juta kiloliter solar. Dampak inflasinya sudah minimum, harga tersesuaikan dua minggu. Menyesuaiikan pola konsumsi masyarakat," pungkasnya.
(izz)
Lihat Juga :