Kebijakan Tumpang Tindih Tantangan Ekonomi RI

Kamis, 29 Januari 2015 - 17:16 WIB
Kebijakan Tumpang Tindih...
Kebijakan Tumpang Tindih Tantangan Ekonomi RI
A A A
JAKARTA - Indonesia masih mempunyai banyak tantangan ekonomi untuk menjadi negara dengan lingkungan peraturan yang kondusif untuk operasi bisnis.

Salah satunya dengan mencari solusi dari banyaknya kebijakan yang tumpang tindih, baik antar kementerian maupun antara pusat dan daerah.

"Berdasarkan riset yang kami lakukan di 2014, beberapa tantangan utama dari pemerintahan sebelumnya adalah bagaimana memaksimalkan fungsi koordinasi, adanya inovasi kebijakan dan monitoring berkala. Tantangan ini masih akan dihadapi pemerintah saat ini," ujar Managing Director sekaligus pendiri Presisi Indonesia Titik Anas di Hotel Pullman, Jakarta, Kamis (29/1/2015).

Menurutnya. kebijakan yang sifatnya komperehensif dan menyeluruh di berbagai bidang, perlu dikomunikasikan secara berkala.

"Dalam konteks bernegara, kebijakan sebaiknya berbasis pada perencanaan yang menentukan arah kebijakan suatu bangsa. Perencanaan tersebut dimonitor dan ditinjau ulang secara berkala, sehingga pada akhir masa 5 tahun, tidak terjadi lagi," jelasnya.

Perubahan faktor-faktor eksternal dapat diantisipasi dengan riset dan analisis data terkini. Kebijakan harus disesuaikan dengan konsisi perkembangan terkini karena Indonesia tidak bergerak dalam ruang vakum.

"Indonesia merupakan bagian dari tatanan ekonomi global yang dinamis. Untuk itu diperlukan kebijakan yang dinamis dan inovatif," ujar dia.

Titik mengatakan, peran kementerian koordinator (Kemenko) sangat penting dan dapat lebih dimaksimalkan dalam menjalankan fungsi koordinasi. Mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga monitoring dan evaluasi.

Kemenko harus aktif sehingga tumpang tindih dan pertentangan kebijakan antar kementerian ataupun pusat daerah tidak terjadi.

Dengan demikian, kementerian yang ada di bawahnya dan pemerintah daerah lebih terarah dalam melakukan terobosan.

"Kebijakan yang strategis bagi pembangunan perekonomian untuk rakyat memerlukan perhitungan cermat atas alternatif yang akan dipilih. Untuk ini, riset sangat diperlukan," Pungkas Titik.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Membaca Ketahanan Ekonomi...
Membaca Ketahanan Ekonomi RI dalam Dinamika Global Kuartal III 2025
Indonesia Butuh Rp47.587,3...
Indonesia Butuh Rp47.587,3 Triliun untuk Pertumbuhan Ekonomi 8%
Bahaya! Deflasi Hantam...
Bahaya! Deflasi Hantam Ekonomi RI 5 Bulan Beruntun
Prabowo Sering Diejek...
Prabowo Sering Diejek karena Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 8%
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Selatan Kuartal I Tahun 2024
Dorong Industri Event...
Dorong Industri Event untuk Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Berita Terkini
Defisit APBN 2026 Diprediksi...
Defisit APBN 2026 Diprediksi Bengkak Jadi Rp734,3 Triliun, Setara 2,85% PDB
23 menit yang lalu
IHSG Babak Belur di...
IHSG Babak Belur di Paruh Pertama 2026, Modal Asing Sepanjang Juni Kabur Rp19,63 Triliun
43 menit yang lalu
Tren Liburan Jarak Dekat...
Tren Liburan Jarak Dekat Meningkat, Traveloka Hadirkan Diskon Perjalanan
1 jam yang lalu
Evaluasi Sukses, Perpindahan...
Evaluasi Sukses, Perpindahan Layanan Umrah ke Terminal 2F Dipercepat Jadi 10 Juli!
1 jam yang lalu
Dorong Budaya Taat Pajak,...
Dorong Budaya Taat Pajak, Bapenda DKI Jakarta Beri Apresiasi Wajib Pajak PKB Teladan
1 jam yang lalu
Indonesia Negara Kaya...
Indonesia Negara Kaya Batu Bara, Mengapa Justru Impor dari AS?
1 jam yang lalu
Infografis
8 Kebijakan Baru Pemerintah...
8 Kebijakan Baru Pemerintah Hadapi Tekanan Global! WFH hingga MBG
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved