PLN Targetkan Konsumsi BBM Capai 5,7 Juta KL

Rabu, 11 Februari 2015 - 12:22 WIB
PLN Targetkan Konsumsi...
PLN Targetkan Konsumsi BBM Capai 5,7 Juta KL
A A A
JAKARTA - PT PLN (Persero) menargetkan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) pembangkit listrik tahun ini turun 5,7 juta kiloliter (kl) dibanding realisasi konsumsi tahun lalu sebesar 7,2 juta kl.

Kepala Divisi BBM dan Gas PLN Suryadi Mardjoeki mengatakan, PLN akan terus menurunkan konsumsi BBM pembangkit hingga mencapai 21%. Adapun penurunan konsumsi BBM dengan porsi sebesar 1,5 juta kl berasal dari pembangkit listrik di Medan yang mulai menggunakan gas.

“Tahun ini Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Belawan di Medan, Sumatera Utara, diperkirakan hanya mengonsumsi BBM sebesar 1,5 juta kl, turun dibanding konsumsi tahun lalu sebesar 3 juta kl,” katanya di Jakarta kemarin. Selain itu, konsumsi BBM pembangkit Jawa-Bali juga berkurang sekitar 100.000 kl seiring beroperasinya Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) Benoa dan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Celukan Bawang di Bali.

PLTG Benoa dan PLTU Celukan Bawang mulai beroperasi pada pertengahan 2015 sehingga pemakaian BBM di sistem Jawa-Bali dari 900.000 kl menjadi 400.000-500.000 kl. “Dengan penurunan pemakaian BBM tersebut, porsi BBM dalam bauran energi ditargetkan turun menjadi sebesar 8,85% dari realisasi 2014 sebesar 11,37%,” ungkapnya.

Hingga kini pasokan BBM untuk energi pembangkit listrik PLN masih dipasok oleh PT Pertamina (Persero), PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), dan PT Kutilang Paksi Mas (KPM). Pertamina yang menjadi pemasok utama BBM jenis BBM jenis high speed diesel (HSD) dan marine fuel oil (MFO) ke pembangkit listrik PLN sempat berencana menghentikan pasokan karena masalah harga jual.

Namun, kedua badan usaha milik negara (BUMN) tersebut akhir mencapai kata sepakat terkait harga jual solar Pertamina ke PLN. Sebelumnya dalam rapat kerja Komisi VII DPR dengan Menteri ESDM Sudirman Said menyepakati subsidi listrik sebesar Rp66,15 triliun pada tahun ini.

Asumsi yang dipakai adalah kurs Rp12.500 per dolar, harga minyak mentah (ICP) USD60 per barel, pertumbuhan penjualan listrik sebesar 9% penjualan listrik 216 tera Watt hour, susut jaringan 8,45%, serta porsi BBM 8,85%.

Nanang Wijayanto
(ftr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BCA Kolaborasi Jurnalis...
BCA Kolaborasi Jurnalis Ekobis Makassar Kirim Bantuan ke Sulbar
Berita Terkini
Barat Remehkan Blokade...
Barat Remehkan Blokade Selat Hormuz, Pasokan Minyak Dunia di Titik Kritis
10 menit yang lalu
MDLA Luncurkan Armada...
MDLA Luncurkan Armada Mobil Listrik, Dorong Transformasi Distribusi Rendah Emisi
3 jam yang lalu
Tren Mobilitas Ramah...
Tren Mobilitas Ramah Lingkungan Meningkat, Pembiayaan Kendaraan Listrik MUF Melesat
9 jam yang lalu
Rupiah Amburadul Rp18...
Rupiah Amburadul Rp18 Ribu, Produk Rumah Tangga Unilever Bakal Naik Harga di Kuartal II 2026
9 jam yang lalu
Rupiah Terkapar, Dampaknya...
Rupiah Terkapar, Dampaknya Mulai Terasa ke Sektor Industri Nasional
10 jam yang lalu
PLN EPI, PLN Puslitbang...
PLN EPI, PLN Puslitbang dan ITERA Kolaborasi Kembangkan Tanaman Energi
11 jam yang lalu
Infografis
Rp708 Juta per Jam,...
Rp708 Juta per Jam, Biaya Operasional F-35 Israel Sekali Terbang
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved