Laba Bersih Australia Post Merosot 56%

Selasa, 24 Februari 2015 - 10:38 WIB
Laba Bersih Australia...
Laba Bersih Australia Post Merosot 56%
A A A
SYDNEY - Australia Post kemarin memproyeksikan kerugian tahunan pertama dalam lebih 30 tahun.

Perusahaan itu memperingatkan akan rugi 6,6 miliar dolar Australia selama dekade mendatang jika tidak ada perubahan regulasi. “Laba bersih turun 56% menjadi 98 juta dolar Australia pada semester II/2014 akibat penurunan pengiriman surat,” ungkap pernyataan Australia Post, dikutip kantor berita AFP .

Seperti banyak layanan pos di negara-negara maju, Australia Post berupaya menutupi penurunan pengiriman surat karena email telah menggantikan surat fisik. Volume surat turun 8,2% pada semester II/2014, penurunan paling tajam sejak mengalami penurunan pertama pada 2008. Chief Executive Officer (CEO) Australia Post Ahmed Fahour menjelaskan, penurunan laba dari sayap surat perusahaan yang merugi 157 juta dolar Australia selama periode itu, menutupi laba dari bisnis parsel yang kompetitif.

Pendapatan dari layanan parsel naik 4% pada periode itu dibandingkan tahun sebelumnya. “Kami telah berhati-hati mengelola penurunan sebenarnya dalam volume surat kita selama tujuh tahun terakhir. Tapi kami sekarang telah mencapai titik di mana kita tidak dapat lagi mengelola penurunan itu, sambil mempertahankan jaringan nasional, keandalan layanan, dan profitabilitas kita,” ujarnya.

Fahour menyerukan perubahan regulasi pemerintah untuk jasa pengiriman surat, termasuk menaikkan harga prangko dan mengizinkan layanan pengiriman cepat. Dia menyoroti laporan tahun lalu yang memprediksi Australia Post akan rugi 12,1 miliar dolar Australia dari bisnis surat dan 6,6 miliar dolar Australia secara keseluruhan pada dekade mendatang jika tidak ada perubahan regulasi dari pemerintah.

“Tahun ini kami memperkirakan kerugian tahunan untuk pertama kali. Sangat penting bagi kita membuat perubahan tahun ini untuk menjamin kita dapat terus mempertahankan layanan pos yang dapat diakses seluruh rakyat Australia,” kata Fahour. Post Office Agents Association Limited yang mewakili pemilik kantor pos berlisensi dan para kontraktor surat, mendukung seruan perubahan harga prangko dan tarif pengiriman agar dipertimbangkan parlemen Australia.

Meski demikian, mereka mendorong Australia Post mendiversifikasi bisnisnya. “Intinya, perubahan layanan surat hanya membendung pendarahan. Australia Post perlu fokus mencari para konsumen baru dan sumber pendapatan baru,” ungkap lembaga itu. Australia Post merupakan layanan pos tertua di negara itu. Perusahaan itu terus beroperasi hingga 200 tahun pada 2009 lalu. Awal bulan ini Bank Sentral Australia (Reserve Bank of Australia/RBA) menurunkan suku bunga hingga 25 basis poin mencapai rekor baru terendah menjadi 2,25%.

Langkah ini diambil setelah satu setengah tahun menunda penurunan suku bunga yang diterapkan demi mendorong pertumbuhan. RBA menyatakan, ekonomi tumbuh di bawah tren dan inflasi rendah. Adapun, pengangguran meningkat pada tahun lalu dan diperkirakan terus bertambah besar.

Syarifudin
(ars)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BCA Kolaborasi Jurnalis...
BCA Kolaborasi Jurnalis Ekobis Makassar Kirim Bantuan ke Sulbar
Berita Terkini
Masyarakat Diminta Tak...
Masyarakat Diminta Tak Panik Respons Kondisi Ekonomi RI, Ekonom: Jaga Optimisme Berdasar Data
7 jam yang lalu
Program CIMB Niaga Sustainability...
Program CIMB Niaga Sustainability Journalism Fellowship Memilih 20 Jurnalis
8 jam yang lalu
Purbaya Belum Percaya...
Purbaya Belum Percaya Daya Beli Mulai Lesu di Warteg: Nanti Saya Cek Lagi
8 jam yang lalu
LPPOM Dorong Konsep...
LPPOM Dorong Konsep Green Halal untuk Perkuat Industri Berkelanjutan
9 jam yang lalu
Bitget Stocks 2.0 Hadir...
Bitget Stocks 2.0 Hadir Menghubungkan Ekuitas Berbentuk Token dengan Likuiditas Nyata
9 jam yang lalu
LPPOM Paparkan Peluang...
LPPOM Paparkan Peluang Industri Halal Indonesia di Tokyo
9 jam yang lalu
Infografis
DeepSeek AI China Diblokir...
DeepSeek AI China Diblokir di Amerika Serikat, Italia, Australia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved