IBPA Kembangkan Referensi Harga Pasar
Rabu, 25 Februari 2015 - 09:50 WIB
IBPA Kembangkan Referensi Harga Pasar
A
A
A
JAKARTA - Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA) tengah melakukan pengembangan sistem informasi untuk memberikan kenyamanan bagi nasabah IBPA.
Perseroan pun meluncurkan aplikasi sistem informasi referensi harga pasar wajar (HPW) efek bersifat utang berupa TheNewBIPS. “Layanan aplikasi berbasis web tersebut guna memenuhi kebutuhan pelaku pasar dan investor akan data serta informasi pasar utang domestik yang lebih komprehensif,” ujar Direktur Utama IBPA Ignatius Girendroheru saat peluncuran The New BIPS di Jakarta kemarin.
Dia menambahkan, layanan ini dilengkapi dengan tambahan data dan informasi, disertai dengan fitur-fitur baru yang dapat memudahkan pengguna untuk mengakses informasi referensi HPW, atas efek Surat Berharga Negara (SBN) dan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dalam denominasi data mata yang rupiah dan dolar AS, obligasi dan sukuk korporasi, dan KIK-EBA yang telah dievaluasi oleh IBPA.
“Nantinya jumlah seri obligasi yang dievaluasi setiap hari oleh IBPA dan ditampilkan melalui The- NewBIPS sebanyak 496 seri obligasi. Termasuk, sukuk dan KIK-EBA dengan total nilai nominal mencapai Rp1.959,12 triliun,” jelasnya. Kemudian, lanjutnya, nilai outstanding untuk obligasi pemerintah konvensional (new issuance) selama periode 2010- 2014 mengalami peningkatan setiap tahunnya.
Dari data yang di himpun per akhir tahun 2014, total outstanding tercatat sebesar Rp284,4 triliun atau meningkat 24,7% year on year (YoY) dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara, total outstanding untuk sukuk pemerintah (new issuance) pada akhir tahun 2014, tercatat sebesar Rp57,8 triliun atau meningkat sebesar 60,8% dibandingkan tahun sebelumnya hingga dengan 30 Januari 2015.
“Sampai dengan 30 Januari 2015, realisasi penerbitan obligasi pemerintah mencapai Rp41,37 triliun dengan estimasi penerbitan obligasi pemerintah dari Februari sampai Desember 2015 berdasarkan RAPBN-P 2015 sebesar Rp266,63 triliun dari total sebesar Rp308 triliun,” ujarnya. Namun untuk obligasi korporasi, nilai outstanding (new insurance) di akhir 2014 tercatat sebesar Rp47,8 triliun atau menurun 18,8% dibandingkan tahun sebelumnya.
“Realisasi penerbitan obligasi korporasi (konvensional dan susuk) per Januari 2015 sebesar Rp4,8 triliun dengan estimasi mencapai Rp60 triliun di akhir tahun ini,” pungkasnya. Ignatius mengatakan, momentum positif pertumbuhan pasar obligasi diharapkan dapat terus berlanjut sepanjang tahun 2015.
“Peluncuran The- NewBIPS diharapkan menjadi one stop information service bagi kebutuhan informasi pasar obligasi domestik dalam mendukung kegiatan investasi, pengawasan, serta riset bagi pelaku pasar, emiten, regulator serta stakeholder di pasar obligasi,” ujarnya. Dia berharap, aplikasi ini dapat mendukung pertumbuhan pasar obligasi di Indonesia.
Karena, tren pertumbuhan pasar obligasi di awal tahun ini mencatatkan pertumbuhan yang positif. Sementara, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sampai dengan 23 Februari 2015 mencatatkan return tahun berjalan meningkat sebesar 3,37% dari level 5.226,95 ke level 5.403,28.
Arsy ani s
Perseroan pun meluncurkan aplikasi sistem informasi referensi harga pasar wajar (HPW) efek bersifat utang berupa TheNewBIPS. “Layanan aplikasi berbasis web tersebut guna memenuhi kebutuhan pelaku pasar dan investor akan data serta informasi pasar utang domestik yang lebih komprehensif,” ujar Direktur Utama IBPA Ignatius Girendroheru saat peluncuran The New BIPS di Jakarta kemarin.
Dia menambahkan, layanan ini dilengkapi dengan tambahan data dan informasi, disertai dengan fitur-fitur baru yang dapat memudahkan pengguna untuk mengakses informasi referensi HPW, atas efek Surat Berharga Negara (SBN) dan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dalam denominasi data mata yang rupiah dan dolar AS, obligasi dan sukuk korporasi, dan KIK-EBA yang telah dievaluasi oleh IBPA.
“Nantinya jumlah seri obligasi yang dievaluasi setiap hari oleh IBPA dan ditampilkan melalui The- NewBIPS sebanyak 496 seri obligasi. Termasuk, sukuk dan KIK-EBA dengan total nilai nominal mencapai Rp1.959,12 triliun,” jelasnya. Kemudian, lanjutnya, nilai outstanding untuk obligasi pemerintah konvensional (new issuance) selama periode 2010- 2014 mengalami peningkatan setiap tahunnya.
Dari data yang di himpun per akhir tahun 2014, total outstanding tercatat sebesar Rp284,4 triliun atau meningkat 24,7% year on year (YoY) dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara, total outstanding untuk sukuk pemerintah (new issuance) pada akhir tahun 2014, tercatat sebesar Rp57,8 triliun atau meningkat sebesar 60,8% dibandingkan tahun sebelumnya hingga dengan 30 Januari 2015.
“Sampai dengan 30 Januari 2015, realisasi penerbitan obligasi pemerintah mencapai Rp41,37 triliun dengan estimasi penerbitan obligasi pemerintah dari Februari sampai Desember 2015 berdasarkan RAPBN-P 2015 sebesar Rp266,63 triliun dari total sebesar Rp308 triliun,” ujarnya. Namun untuk obligasi korporasi, nilai outstanding (new insurance) di akhir 2014 tercatat sebesar Rp47,8 triliun atau menurun 18,8% dibandingkan tahun sebelumnya.
“Realisasi penerbitan obligasi korporasi (konvensional dan susuk) per Januari 2015 sebesar Rp4,8 triliun dengan estimasi mencapai Rp60 triliun di akhir tahun ini,” pungkasnya. Ignatius mengatakan, momentum positif pertumbuhan pasar obligasi diharapkan dapat terus berlanjut sepanjang tahun 2015.
“Peluncuran The- NewBIPS diharapkan menjadi one stop information service bagi kebutuhan informasi pasar obligasi domestik dalam mendukung kegiatan investasi, pengawasan, serta riset bagi pelaku pasar, emiten, regulator serta stakeholder di pasar obligasi,” ujarnya. Dia berharap, aplikasi ini dapat mendukung pertumbuhan pasar obligasi di Indonesia.
Karena, tren pertumbuhan pasar obligasi di awal tahun ini mencatatkan pertumbuhan yang positif. Sementara, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sampai dengan 23 Februari 2015 mencatatkan return tahun berjalan meningkat sebesar 3,37% dari level 5.226,95 ke level 5.403,28.
Arsy ani s
(ars)