Pendapatan Premi Bisnis Baru AIA Group Naik 24%

Senin, 02 Maret 2015 - 10:49 WIB
Pendapatan Premi Bisnis...
Pendapatan Premi Bisnis Baru AIA Group Naik 24%
A A A
JAKARTA - Perusahaan asuransi jiwa AIA Group Limited mencatat pertumbuhan bisnis baru atau value of new business (VONB) sebesar 24% menjadi USD1,845 miliar hingga akhir 2014.

Pencapaian itu merupakan refleksi dari kekuatan model bisnis AIA yang berkelanjutan dan fokus di wilayah Asia Pasifik. Chief Executive and President AIA Group Mark Tucker mengatakan, indikator finansial yang terus menguat menunjukkan potensi AIA menciptakan nilai di masa mendatang.

“Dengan pencapaian tersebut, margin VONB juga meningkat 5% menjadi 49,1%, sedangkan untuk pendapatan premi yang disetahunkan, atau annualised new premium (ANP), meningkat 11% menjadi USD3,7 miliar,” ujar dia dalam keterangan tertulisnya kemarin.

Dia menjelaskan, pertumbuhan laba operasi IFRS setelah pajak tercatat tumbuh 16% menjadi USD2,91 miliar, sedangkan pendapatan operasi IFRS per saham juga naik 16% menjadi 24,31 sen dolar AS per lembar. Sedangkan, laba bersih meningkat 22% menjadi USD3,450 miliar.

Dewan Direktur juga telah menyetujui kenaikan dividen akhir sebesar 19% menjadi 34 sen dolar Hong Kong per saham, tetapi masih menunggu keputusan pemegang saham. Dengan demikian, total dividen yang akan dibagikan perusahaan dengan kode perdagangan 1299 di Hong Kong Stock Exchange sebesar 50 sen dolar Hong Kong per saham.

Tucker menilai, Asia adalah salah satu pasar asuransi yang paling menarik dan dinamis di dunia. Urbanisasi, kenaikan pendapatan yang dapat dibelanjakan, jaminan sosial yang relatif rendah, serta laju perkembangan kelas menengah merupakan dasar yang kuat bagi pertumbuhan berkelanjutan di seluruh pasar AIA.

Terkait hal itu, Presiden Direktur PT AIA Financial Ng Kee Heng (Ben Ng) juga mengakui bahwa pasar asuransi di Indonesia sangat menarik, sama dengan negara-negara lain di Asia seperti diungkap Tucker. Ben Ng menyatakan, Indonesia sangat potensial untuk perkembangan industri asuransi. Soalnya, penetrasi proteksi di Indonesia masih sangat minim, baru sekitar 5% dari populasi.

“Padahal, di negara berkembang lainnya sudah mencapai 60%. Jadi, masih ada 12 kali lipat pasar yang bisa digarap. Itu pasar yang sangat besar,” paparnya.

Hatim varabi
(ftr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BCA Kolaborasi Jurnalis...
BCA Kolaborasi Jurnalis Ekobis Makassar Kirim Bantuan ke Sulbar
Berita Terkini
DPR Sahkan Revisi UU...
DPR Sahkan Revisi UU PPSK Hari Ini, Berikut Poin-poin Lengkapnya
34 menit yang lalu
Ayo Belajar Cara Investasi...
Ayo Belajar Cara Investasi ETF di IG Live MNC Sekuritas: Investasi Simpel dengan Diversifikasi Otomatis
58 menit yang lalu
Mengenal Lipstick Effect,...
Mengenal Lipstick Effect, Alasan Mal dan Coffee Shop Tetap Ramai di Tengah Krisis Ekonomi
1 jam yang lalu
Harga Emas Antam Hari...
Harga Emas Antam Hari Ini Turun Rp15.000 per Gram, Serok atau Jual?
1 jam yang lalu
PINDEX 2026 Dibuka,...
PINDEX 2026 Dibuka, Pertamina Patra Niaga Tampilkan Inovasi Engineering Energi Hilir
2 jam yang lalu
Rupiah Jebol Tembus...
Rupiah Jebol Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Pelemahan Terburuk Sepanjang Sejarah
2 jam yang lalu
Infografis
Ahmad Vahidi, Panglima...
Ahmad Vahidi, Panglima Baru IRGC di Tengah Perang Lawan AS-Israel
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved