Kenaikan BBM Tak Disosialisasikan, Ini Jawaban Sofyan
Senin, 02 Maret 2015 - 18:48 WIB
Kenaikan BBM Tak Disosialisasikan, Ini Jawaban Sofyan
A
A
A
JAKARTA - Menko Perekonomian Sofyan Djalil mengatakan, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) sebesar Rp200 per liter merupakan kebijakan pemerintah yang melihat dari harga minyak dunia. Kemudian, formulasinya ditetapkan oleh dirjen migas.
"Itu sekarang harga keekonomian tergantung pada minyak dunia, kemudian ada formula yang ditetapkan dirjen migas. Sehingga, kalau terjadi kenaikan secara tiba-tiba itu sudah mereka hitung," ujarnya di Kemenko Perekonomian Jakarta, Senin (2/3/2015).
Ini sekaligus menjelaskan kepada awak media yang banyak menanyakan, mengapa sosialisasi kenaikan BBM tidak ada, sehingga masyarakat tidak banyak yang tahu.
Di masa akan datang, lanjut Sofyan, Pertamina cukup menggunakan formula tersebut namun yang terpenting mencerminkan harga keekonomian Indonesia.
"Bahkan kemarin pemerintah masih melakukan intervensi karena apa, solar itu harusnya naik sekitar Rp100, tapi pemerintah menganggap karena solar menyangkut akitivitas ekonomi, maka solar tidak naik. Itu masalah keekonomian saja," paparnya.
Menurut dia, hal itulah yang diinginkan pemerintah, seperti halnya harga pertamax yang tidak perlu diumumkan kenaikannya.
"Tapi di sini karena MK mengatakan harga premium itu harus terkait pemerintah, makanya pemerintah bikin formula yang cukup disampaikan di rilis saja, enggak usah heboh, apalagi naik Rp100-Rp200. Dulu heboh karena naiknya Rp3.000. Turunnya Rp1.500 heboh. Sekarang enggak usah heboh karena masyarakat sudah terbiasa, tanggl 1 atau 15 lihat saja di pom bensin naik atau turun," pungkasnya.
(Baca: Harga BBM Premium Naik Jadi Rp6.900/Liter)
"Itu sekarang harga keekonomian tergantung pada minyak dunia, kemudian ada formula yang ditetapkan dirjen migas. Sehingga, kalau terjadi kenaikan secara tiba-tiba itu sudah mereka hitung," ujarnya di Kemenko Perekonomian Jakarta, Senin (2/3/2015).
Ini sekaligus menjelaskan kepada awak media yang banyak menanyakan, mengapa sosialisasi kenaikan BBM tidak ada, sehingga masyarakat tidak banyak yang tahu.
Di masa akan datang, lanjut Sofyan, Pertamina cukup menggunakan formula tersebut namun yang terpenting mencerminkan harga keekonomian Indonesia.
"Bahkan kemarin pemerintah masih melakukan intervensi karena apa, solar itu harusnya naik sekitar Rp100, tapi pemerintah menganggap karena solar menyangkut akitivitas ekonomi, maka solar tidak naik. Itu masalah keekonomian saja," paparnya.
Menurut dia, hal itulah yang diinginkan pemerintah, seperti halnya harga pertamax yang tidak perlu diumumkan kenaikannya.
"Tapi di sini karena MK mengatakan harga premium itu harus terkait pemerintah, makanya pemerintah bikin formula yang cukup disampaikan di rilis saja, enggak usah heboh, apalagi naik Rp100-Rp200. Dulu heboh karena naiknya Rp3.000. Turunnya Rp1.500 heboh. Sekarang enggak usah heboh karena masyarakat sudah terbiasa, tanggl 1 atau 15 lihat saja di pom bensin naik atau turun," pungkasnya.
(Baca: Harga BBM Premium Naik Jadi Rp6.900/Liter)
(izz)
Lihat Juga :