Harga Minyak Dunia Menuju USD65/Barel
Selasa, 03 Maret 2015 - 11:35 WIB
Harga Minyak Dunia Menuju USD65/Barel
A
A
A
BAGDAD - Harga minyak dunia yang hingga Januari lalu merosot ke titik terendah dalam enam tahun terakhir kini pelanpelan mulai beranjak naik. Harga minyak dunia diperkirakan mulai pulih kembali menuju USD64 hingga USD65 per barel.
“Saya rasa harga tidak akan kembali ke level semula dalam waktu dekat. Tapi, kami perkirakan harga akan terus naik, kemungkinan ke level USD64-65/barel,” ujar Menteri Perminyakan Irak Adel Abdel Mahdi seperti dikutip AFP kemarin. Beberapa hari terakhir harga minyak mentah jenis Brent North Sea yang menjadi patokan secara global mulai menguat ke level USD62/barel, dari posisi terendah USD45/barel di awal tahun.
Irak yang ekonominya amat tergantung pada ekspor minyak menyambut baik naiknya harga belakangan ini. Anggaran negara tersebut didasarkan pada harga minyak rata-rata USD56/barel. Selain itu, saat ini Irak membutuhkan biaya besar untuk memerangi ISIS yang mengancam pemerintahan negara tersebut.
Pemerintah Irak juga butuh banyak dana untuk membayar utang senilai lebih dari USD20 miliar kepada perusahaan-perusahaan minyak yang beroperasi di selatan negara tersebut. Sementara, harga minyak dunia di pasar Asia kemarin mulai stabil setelah sebelumnya sempat bergejolak akibat aksi ambil untung yang dilakukan para pelaku pasar.
Harga minyak patokan AS West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April kemarin turun USD37 sen menjadi USD49,39/barel, sementara minyak Brent melemah tipis USD28 sen menjadi USD62,3/barel. Sebelumnya, di hari terakhir perdagangan pekan lalu, WTI menangguk kenaikan sebesar USD1,59 sementara Brent sebesar USD2,53.
WTI yang terpuruk hingga level terendah dalam enam tahun terakhir di awal 2015 sempat bergerak liar sepanjang bulan Februari, namun ditutup hanya menguat sedikit di atas USD1,5. Adapun, minyak Brent membukukan kenaikan hingga USD12. Harga minyak mentah secara global telah merosot sekitar 50% dari nilainya pada Juni tahun lalu akibat melimpahnya suplai, seiring meningkatnya produksi shale oil AS.
“Kendati saat ini masih ada kelebihan suplai secara global, harga minyak secara umum memang cenderung dalam tren meningkat, khususnya dengan berkurangnya jumlah rig yang beroperasi. Ini mengindikasikan bahwa produksi shale oil di AS pun merespons penurunan harga secara global,” ujar Manajer Perdagangan Energi dari Newedge Group Ken Hasegawa, di Tokyo, Jepang, kemarin.
Jumlah anjungan minyak yang beroperasi di AS tercatat turun sebanyak 33 unit menjadi 986 pada 27 Februari lalu. Jumlah itu merosot 39% dari Oktober tahun lalu. Menurut Hasegawa, pelemahan harga minyak di pasar Asia kemarin kemungkinan besar terjadi akibat aksi ambil untung para pelaku pasar.
Analis menilai, para pedagang akan memperhatikan perkembangan data ekonomi AS yang akan segera dirilis untuk memperkirakan prospek permintaan negara pengonsumsi minyak mentah terbesar dunia tersebut selanjutnya.
M faizal
“Saya rasa harga tidak akan kembali ke level semula dalam waktu dekat. Tapi, kami perkirakan harga akan terus naik, kemungkinan ke level USD64-65/barel,” ujar Menteri Perminyakan Irak Adel Abdel Mahdi seperti dikutip AFP kemarin. Beberapa hari terakhir harga minyak mentah jenis Brent North Sea yang menjadi patokan secara global mulai menguat ke level USD62/barel, dari posisi terendah USD45/barel di awal tahun.
Irak yang ekonominya amat tergantung pada ekspor minyak menyambut baik naiknya harga belakangan ini. Anggaran negara tersebut didasarkan pada harga minyak rata-rata USD56/barel. Selain itu, saat ini Irak membutuhkan biaya besar untuk memerangi ISIS yang mengancam pemerintahan negara tersebut.
Pemerintah Irak juga butuh banyak dana untuk membayar utang senilai lebih dari USD20 miliar kepada perusahaan-perusahaan minyak yang beroperasi di selatan negara tersebut. Sementara, harga minyak dunia di pasar Asia kemarin mulai stabil setelah sebelumnya sempat bergejolak akibat aksi ambil untung yang dilakukan para pelaku pasar.
Harga minyak patokan AS West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April kemarin turun USD37 sen menjadi USD49,39/barel, sementara minyak Brent melemah tipis USD28 sen menjadi USD62,3/barel. Sebelumnya, di hari terakhir perdagangan pekan lalu, WTI menangguk kenaikan sebesar USD1,59 sementara Brent sebesar USD2,53.
WTI yang terpuruk hingga level terendah dalam enam tahun terakhir di awal 2015 sempat bergerak liar sepanjang bulan Februari, namun ditutup hanya menguat sedikit di atas USD1,5. Adapun, minyak Brent membukukan kenaikan hingga USD12. Harga minyak mentah secara global telah merosot sekitar 50% dari nilainya pada Juni tahun lalu akibat melimpahnya suplai, seiring meningkatnya produksi shale oil AS.
“Kendati saat ini masih ada kelebihan suplai secara global, harga minyak secara umum memang cenderung dalam tren meningkat, khususnya dengan berkurangnya jumlah rig yang beroperasi. Ini mengindikasikan bahwa produksi shale oil di AS pun merespons penurunan harga secara global,” ujar Manajer Perdagangan Energi dari Newedge Group Ken Hasegawa, di Tokyo, Jepang, kemarin.
Jumlah anjungan minyak yang beroperasi di AS tercatat turun sebanyak 33 unit menjadi 986 pada 27 Februari lalu. Jumlah itu merosot 39% dari Oktober tahun lalu. Menurut Hasegawa, pelemahan harga minyak di pasar Asia kemarin kemungkinan besar terjadi akibat aksi ambil untung para pelaku pasar.
Analis menilai, para pedagang akan memperhatikan perkembangan data ekonomi AS yang akan segera dirilis untuk memperkirakan prospek permintaan negara pengonsumsi minyak mentah terbesar dunia tersebut selanjutnya.
M faizal
(bbg)